Review Diaper Bag By Oruru. Diaper Bag Terbaik Versi Mamah Anggun!

Ketika akan melahirkan pada tahun 2018, sebagai seorang ibu baru tentunya saya sangat antusias mempersiapkan segala sesuatu keperluan calon bayi saya. Saking antusiasnya saya sudah semangat belanja perlengkapan bayi dari usia kehamilan masih muda, tapi kata orangtua disini pamali jika mempersiapkan keperluan bayi terlalu dini. Jadi, harus menunggu usia kehamilan 7 bulan ke atas boleh nyicil beli perlengkapan bayi.

Entah mitos atau fakta mengenai hal tersebut, tapi saya manut saja dengan pepatah orangtua yang lebih senior. Hingga waktunya saya berbelanja perlengkapan bayi, saya membuat list apa saja yang akan dibeli. Namun sayangnya ada satu barang yang menurut saya cukup penting tapi saya tidak masukkan list, yaitu diaper bag! Pikir saya, baru melahirkan mau kemana coba? Ternyata dugaan saya salah! Justru ketika masih bayi, kita pasti akan sering bolak balik ke bidan atau dokter untuk imunisasi. Dan yang namanya bawa bayi, pasti deh bawaannya segambreng! LOL.

Sebenarnya, ada beberapa diaper bag yang saya dapat dari kado tapi kurang sreg aja. Akhirnya saya beli lagi ke salah satu grosir yang ada di Majalengka, waktu itu saya beli diaper bag model selempang. Untuk pergi sebentar dan tidak terlalu bawa banyak barang, diaper bag kecil pun sudah cukup. Tapi ketika akan bepergian agak jauh lama, saya butuh diaper bag model ransel. Selain muat banyak, tentunya supaya lebih nyaman dibawa.

Dalam proses pencarian diaper bag terbaik versi saya, ya karena setiap orang punya standar nyaman yang berbeda – beda bukan? Saya menemukan banyak diaper bag yang harganya cukup terjangkau yaitu sekitar 200 ribuan dengan model yang lucu – lucu, tapi ketika melihat reviewnya ada beberapa yang mengeluhkan kalau tali tasnya cepat rusak dan putus. Wajar sih, namanya juga diaper bag. Isi tasnya pasti banyak banget, makanya saya perlu teliti untuk mencari diaper bag yang gak cuma lucu tapi juga kuat dan awet.

Sampai akhirnya saya menemukan diaper bag merk Oruru di shopee, link tokonya disini, untuk akun instagramnya bisa cek disini. Huaaaa, modelnya banyak, motifnya lucu - lucu.! Meskipun diaper bagnya bermotif, tapi motifnya gak pasaran deh. Karena saya butuh diaper bag dengan kapasitas yang cukup besar, akhirnya saya memutuskan memilih oruru diaper bag series cube yang motif owl. Sebenarnya saya pengen beli yang polos supaya lebih aman aja dipakai suami, tapi waktu itu ready yang motif saja. Yuk, simak lebih detail mengenai oruru diaper bag dibawah ini.

1.       Bahan dan ukuran

Oruru bag cube series ini terbuat dari bahan microfabric polyester dengan ukuran 30 cm x 20 cm x 45 cm. Wow, besar banget kan ya? Yas, memang besar. Buat kalian yang cari diaper bag size kecil, oruru bag cube series ini memang kurang cocok. Bentuk dari tas ini memang agak bulky, sesuai namanya yaitu cube. Mungkin buat kalian yang punya postur tubuh imut imut, diaper bag ini terkesan kegedean. Karena saya dan suami punya postur badan agak besar, jadi saya masih merasa cocok ( iyain aja yak? LOL ) dengan oruru diaper bag cube series ini. By the way saya kurang tahu apakah Oruru diaper bag ini waterproof atau tidak, tapi kalau cuma kena hujan gerimis dikit - dikit sih masih aman.

2.       Motif

Oruru diaper bag ini punya banyak motif dan warna, saya pilih motif dan warna yang cukup netral yaitu motif owl warna navy. Harapan saya diaper bag ini bisa awet turun temurun sampai anak selanjutnya, hahahah…

3.       Kapasitas

Ngomongin kapasitas, ini nih yang paling saya suka. Oruru diaper bag ini memang cocok buat kalian yang pengen segala dimasukin ke diaper bag pas bepergian. Ada beberapa  orang yang memilih bawa tas kecil aja, kan? Ibaratnya gak apa - apa nambah bawaan kresek dijinjing. Nah, kalau saya tipe yang pengen semua bruk jadi satu dalam satu tempat. Selain ukuran dari tasnya yang besar sehingga bisa muat banyak, didalamnya pun terdapat banyak sekat jadi kalau bawa printilan yang kecil kecil gitu, aman deh gak berceceran! Selengkapnya ada di video dibawah ini ya.


4.       Harga

Untuk urusan harga, bener - bener worth to buy deh! Diaper bag dengan kapasitas besar dan model gak pasaran ini cuma dibandrol kurang dari 300ribuan ( harga tepatnya saya lupa lagi, kebetulan saya beli ketika anak saya baru lahir dan sekarang anak saya sudah berusia 2,5 tahun ).

5.       Kualitas

Awalnya saya sempat ragu dengan kualitas diaper bag dari Oruru ini. Tapi setelah saya pakai diaper bag ini selama 2 tahun lebih, saya bisa menilai sendiri kualitas dari Oruru diaper bag yang oke punya. Talinya masih kuat padahal bawaan saya selalu banyak dan selalu saya pakai ketika bepergian, resleting tas masih berfungsi semua, sementara untuk warna dari tas itu sendiri memang agak pudar tapi tidak terlalu terlihat.

Sampai sekarang saya masih suka pakai diaper bag kemana – mana, lebih praktis aja meski secara fashion mungkin kurang girly gitu. Bahkan tas fashion ( eh bener gak sih namanya?), malah tersimpan rapi dilemari.

Ada yang samaan masih suka pake diaper bag meski anak sudah besar?

Jadi Ibu Rumah Tangga Yang Produktif? Semuanya Gak Melulu Soal Uang, Kok!

“Jadi ibu rumah tangga itu harus pinter cari duit jangan cuma bisa ngandelin suami!”
“ Jadi ibu rumah tangga itu harus bisa memanfaatkan waktu luang menjadi uang.”
“ Jadi ibu rumah tangga itu jangan hanya cantik dan bisa masak tapi harus bisa juga cari uang.”

Dan masih banyak lagi jargon - jargon yang biasa ditulis oleh ibu milenial di sosial media, entah itu memang curhatan pribadi atau untuk keperluan promosi produk/bisnis agar menarik perhatian. Yay, dari jargon - jargon diatas saya menyimpulkan bahwa produktif itu harus menghasilkan uang. Setuju gak, sih?

Sebagai ibu - ibu yang matre, iya saya matre ( pada tempatnya ). Tidak bisa pungkiri bahwa semua yang kita butuhkan itu harus dibeli dengan uang terkecuali kasih sayang. Eaaaa… Apalagi sebagai seseorang yang sudah fighter sejak zaman kuliah, saya paham betul bagaimana susahnya hidup ini kalau tidak punya banyak uang. Saya bukanlah dari keluarga berada tapi punya tekad besar untuk mengenyam pendidikan. Biaya dari orangtua yang hanya cukup untuk keperluan pokok saja, untuk menutupi biaya lain – lain atau sekedar memenuhi keinginan sendiri saya jadi penjual online serabutan. Zaman dulu di sekitar tahun 2010, penjual online yang berjualan di sosial media belum sebanyak sekarang. Setelah lulus kuliah saya langsung bekerja dan resign ketika akan melahirkan.

Ketika akan melahirkan, perasaan saya rasanya campur aduk. Bahagia karena akan punya anak dan akan mengasuh serta membesarkannya dengan tangan sendiri, bingung karena saya akan menjadi ibu rumah tangga sejati yang artinya saya hanya akan menikmati uang hasil jerih payah suami bukan hasil jerih payah sendiri. Meski suami saya sangat baik, tapi saya sering merasa “tidak enak” jika harus meminta uang untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya ketika masih bekerja saya punya bisnis sampingan yang hasilnya lumayan, istilahnya bisa nambah – nambah buat beli pulsa. Tapi saya mulai kehilangan mood ketika akan melahirkan, setelah melahirkan lebih parah lagi. Rasanya bisa mandi dan keramas dengan tenang pun sudah alhamdulillah.

Hari demi hari berlalu, saya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengasuh anak, beres – beres rumah, nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika dan berbagai pekerjaan domestik lainnya.  Sering sekali saya merasa jenuh dengan hari – hari saya yang cuma gitu doang, nothing special. Belum lagi omongan orang – orang yang sangat menyayangkan status sarjana saya tidak bisa membeli karir yang cemerlang didunia kerja. Fyuhhhh… sudah jenuh, stress pula!

Oke.. oke.. sampai sini mindset saya masih sama dengan orang – orang bahwa produktif haruslah menghasilkan uang. Anak semakin tumbuh besar, tapi saya hanya menjadi manusia yang gitu – gitu aja. Pernah saya coba melamar pekerjaan, tapi mencari pekerjaan yang cocok dengan status saya sebagai ibu rumah tangga yang masih punya anak kecil memang tidak gampang. 

Lelah mencari pekerjaan yang cocok tapi tak kunjung ketemu, saya coba peruntungan dengan berjualan baju anak murah. Respon pasar gimana tuh? Alhamdulillah laris manis bak kacang goreng, tapi kendalanya di modal. Saya yang pada waktu itu mengandalkan modal dari pencairan BPJS ketenagakerjaan merasa belum siap harus mengalokasikan seluruh uang hasil pencairan tadi untuk berjualan baju anak. Sementara yang namanya jualan baju itu modalnya lumayan besar dengan keuntungan yang tidak seberapa. Belum lagi barang reject, retur, motif tidak sesuai dan lain – lain. Meski baju yang dijual itu tidak akan busuk seperti makanan tapi kan namanya trend fashion perubahannya cepat sekali kan? Ah, mungkin saya belum punya mental pengusaha!

Akhirnya saya pasrah dengan nasib dan takdir saya menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjalankan pekerjaan domestik yang biasa saya lakukan sehari – hari. Hingga pada suatu hari saya tertegun dengan ucapan suami saya yang katanya saya harus tetap produktif, sekalipun bukan uang yang menjadi hasilnya. Kalaupun materi tidak bisa kita dapatkan tapi setidaknya pahala dan kebaikan bisa kita berikan untuk bekal nanti. Aduh, saya kemana aja nih baru tersadar sekarang? Hahahaha…

Saya jadi teringat dengan perjuangan suami saya sebagai guru honorer yang mesti kerja serabutan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan saya tidak bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang guru, tapi saya hanya kasihan melihat dia yang harus mengajar juga bekerja serabutan. Sempat saya menyarankan untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan terutama dari segi finansial. Tapi suami saya tetap dengan pendiriannya, menjadi seorang guru sambil bekerja sampingan. Menurutnya mengajar adalah bagian dari mengamalkan ilmu.

Hingga pada akhirnya suami saya mencoba mengikuti test CPNS di Kementrian Agama Jawa Barat pada akhir tahun 2018 dan alhamdulillah lolos. Saya tidak bilang bahwa menjadi ASN adalah goal dari perjalanan hidup, justru disinilah perjalanan kami dimulai kembali dari nol. Namun tidak dipungkiri bahwa menjadi ASN adalah salah satu pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Jadi, sekarang dirumah ngapain aja dong?!

Ya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sejati, dong! Sama saja seperti hari – hari sebelumnya. Tapi sekarang saya menjalaninya dengan lebih ikhlas, legowo, gak ada tuh perasaan insecure atau merasa jadi manusia yang sia – sia gitu. Memang sih semuanya berawal dari mindset kita, ketika mindset kita positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif pula begitupun sebaliknya. Di sela – sela waktu luang saya juga sempatkan untuk menulis di blog yang sudah saya buat sejak lama. 

Jujur, sebelumnya saya sempat ingin menjadikan blog ini sebagai ladang penghasilan saya. Yaaa.. itung – itung kerja dirumah gitu. Kebetulan blog saya ini juga sudah diterima google adsense. Mungkin loh ya ini mungkin.. karena saya memulainya tidak enjoy, tidak ikhlas dan terlalu profit oriented. Akhirnya malah saya jadi jarang posting sama sekali, paling sebulan sekali itu pun tulisannya acak – acakan ( eh sekarang pun tulisanku belum bagus, sih. Ehehehe ). Ditambah lagi hubungan dengan anak jadi kurang baik, sering saya menyalahkan anak saya yang susah tidur atas tidak terurusnya blog saya ini. Aduh… maafkan mamahmu ya, Nak! 

Lalu, saya jadi teringat juga chat pribadi dengan mak Lasmicika, salah satu member komunitas KEB ( Kumpulan Emak Blogger ). Waktu itu saya cerita kalau saya banyak buang waktu dalam dunia blogging. Saya sudah lama ngeblog tapi cukup kesulitan mengatur waktu untuk menulis, apalagi setelah punya anak karena anak saya tipe yang susah tidur. Kalau malam harus begadang untuk menulis, saya juga butuh istirahat karena melelahkan mengurus anak seharian sambil mengurus pekerjaan rumah. Jawaban Mak Lasmi ternyata begitu menampar saya, katanya bahwa tidak ada yang terlambat dan ngurus si kecil pun effortsnya luar biasa. Dalam hidup memang selalu ada yang di prioritaskan. Ah, peluk jauh untuk Mak Lasmi. Semoga saya bisa terus belajar menulis tanpa mengesampingkan urusan keluarga.

Intinya, menjadi ibu rumah tangga yang punya bisnis sampingan atau sambil bekerja adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dapat pahala dari mengurus keluarga, dapat gaji atau penghasilan juga iya. Tapi, bukan berarti ibu rumah tangga yang hanya mengurus pekerjaan rumah tangga jadi disebut “gak produktif”. Dengan kita berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus anak, mengurus suami, beribadah dan lain – lain itu juga merupakan kegiatan produktif kan? Pokoknya jangan pernah deh memandang orang lain dengan kacamata sendiri begitupun sebaliknya. Setiap rumah tangga itu punya jalan rezekinya masing – masing. Ada yang rezekinya melalui suami dan istri yang sama – sama bekerja, ada yang rezekinya hanya melalui suaminya saja bahkan banyak juga loh istri yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Dalam hal ini tentu saja perlu sosok suami yang bisa jadi support system terbaik bagi istrinya. 

Boleh saja seorang suami mendambakan istrinya bisa lebih produktif dari sekedar mengerjakan urusan domestik rumah tangga, tapi ya harus disupport sebaik mungkin. Bantu istri untuk mendapatkan suasana kondusif dalam rumah, misal ketika libur bekerja coba ajak anak keluar rumah supaya istri bisa mengerjakan “sesuatu” dirumah. Dan suami pun harus ingat ketika istri bekerja, entah itu didalam maupun diluar rumah kemudian mendapatkan penghasilan, tidak akan melunturkan kewajibannya dalam menafkahi loh! Jadi, kalaupun istri produktif dari dalam rumah pada intinya adalah untuk pengembangan dirinya sendiri.

" Saya memang gagal menjadi sarjana yang punya karya, saya gagal juga melanjutkan karir di dunia kerja, tapi saya tidak mau gagal menjadi ibu rumah tangga "

Wajan Anti Lengketmu Cepat Rusak? Coba Ganti Spatula Dengan Spatula Silikon!

wajan anti lengket rusak

Siapa yang wajannya sama seperti wajan milik saya diatas? Wajan dengan bentuk seperti tersebut kalau disini biasanya disebut "teflon", padahal teflon itu jenis bahan dari wajan kan? hehehe. Oke skip dulu pembahasan antara wajan dan teflon. Intinya bahwa saya pernah merasa "kapok" punya wajan anti lengket. Kapok karena menurut saya harganya cukup mahal ( tergantung merk juga, sih ) tapi kurang awet, tuh buktinya saya sudah punya dua wajan yang akhirnya jadi hiasan didapur.

Lalu, apa sih yang bikin wajan anti lengket jadi cepat rusak? Utamanya adalah karena dulu saya sangat minim dengan ilmu perdapuran. Dulu ketika pertama kali membeli wajan anti lengket saya beli juga dengan spatula dari bahan kayu, tapi karena menurut saya spatula dari kayu itu kurang nyaman akhirnya saya tetap pakai spatula stainless di wajan anti lengket saya. Setelah sekarang saya banyak belajar ilmu perdapuran, sepertinya haram hukumnya wajan anti lengket pakai spatula stainless hahaha. Satu dua kali mungkin tidak masalah menggunakan spatula stainless di wajan anti lengket, tapi kalau keseringan saya harus terima konsekuensi lapisan anti lengket pada wajan jadi terkikis habis.

Beberapa bulan yang lalu saya request dibelikan wajan anti lengket ke suami dan suami pun approved atas permintaan saya. Pengalaman saya dimasa lalu dengan wajan anti lengket memaksa saya untuk membeli dulu spatula baru kemudian membeli wajannya ahahaha. Salah satu jenis spatula yang menarik perhatian saya yaitu spatula silikon. Selain warnanya yang colorful, “gemesin”, saya cukup penasaran dengan ketahanan spatula tersebut yang katanya meski terbuat dari silikon tapi justru lebih kuat dari spatula berbahan nilon. Sebenarnya spatula berbahan silikon ini sudah booming sejak lama, tapi karena saya baru punya grill pan baru *ehemmm*.. akhirnya saya putuskan untuk sekalian membeli spatulanya agar grill pan baru saya lebih awet. 

Sebelum menjatuhkan pilihan pada spatula silikon yang saya beli, saya cukup kebingungan memilih spatula silikon di berbagai e - commerce. Sebagai ibu - ibu sejati tentunya saya sangat mempertimbangkan harga dan kualitas spatula silikon yang akan saya beli. Seperti biasanya, ibu ibu kan maunya kualitas sultan tapi harga rakyat. Wkwkwk… Oke, akhirnya pilihan saya jatuh pada DIECI 10 in 1 Set Silicone Kitchen Utensil by MIZU Living. Berikut beberapa alasan saya memilih spatula silikon set DIECI 10:

review spatula silikon

1. Harga

Seperti sudah saya sebutkan di atas bahwa urusan harga biasanya paling utama di mata emak - emak, LOL. Setelah saya compare dengan beberapa produk spatula silikon dari berbagai lapak, DIECI 10 in 1 Set Silicone ini worth to buy banget! Satu set spatula silikon yang berisi 10 jenis spatula ini dibandrol Rp. 158.000 saja. Murah apa murah banget, ya kan?

review spatula silikon

Hmm.. sudah pada tahu kan fungsi dari masing - masing spatulanya? Atau perlu saya buat postingan khusus tentang fungsi dari masing - masing spatula silikon ini?

2. Trusted Seller

Meski saya mencari spatula yang murah, tapi bukan berarti saya asal beli saja dan alhamdulillah saya menemukan toko yang punya statistik cukup baik, jadi saya tidak takut kalau barang yang saya beli itu tidak sesuai dengan apa yang tertulis di deskripsi produk. MIZU Living, tempat saya membeli spatula silicon ini memang punya statistik yang cukup baik dan produk – produk yang dijual pun kualitasnya oke dengan harga yang cukup terjangkau. By the way MIZU living tersedia di tokopedia dan Shopee ya, kebetulan saya melakukan transaksi pembelian di tokopedia. Link produk yang saya beli klik disini ya.

3. Pilihan warna yang beragam

Yay, zaman now alat masak emang gak gitu gitu aja. Pokoknya gak ada alasan malas masak, kalau sesekali sih boleh . Saya cukup kebingungan menentukan pilihan spatula silikon yang akan saya beli di MIZU Living karena ada beberapa pilihan warna yang super cute yaitu rainbow, black, red dan green. Karena spatula ini akan saya simpan di dapur dan supaya lebih segar suasananya maka saya pilih warna green.

4. Aman

Di kemasan produk memang tidak dijelaskan kalau spatula silikon ini sudah BPA free dan aman digunakan. Namun di keterangan produk yang ada di e - commerce tertulis bahwa spatula silikon ini BPA free. Semoga saja benar kalau spatula silikon ini aman digunakan sehari hari.

Itulah beberapa alasan saya kenapa memilih spatula silicon dari MIZU Living. Buat kalian yang punya budget lebih, masih banyak merk spatula yang harganya jauh lebih mahal dari spatula yang dijual di MIZU Living. Untuk kualitas saya belum berani sharing terlalu banyak karena ini adalah spatula silicon pertama saya, jadi saya tidak punya merk lain untuk dijadikan pembanding. So far so good sih, spatula silikonnya aman digunakan memasak, gak meleleh seperti di bayangan saya sebelumnya, Hihihih.. karena seperti tertulis di kemasan bahwa spatula silicon ini aman digunakan hingga maksimal suhu 48.

So, buat kalian yang sedang kebingungan mencari spatula silikon untuk pasangan terbaik alat masak dirumah,DIECI 10 in 1 Set Silicone by MIZU Living ini bisa jadi pilihan.


Makna "Kemerdekaan" Bagi Ibu Rumah Tangga. Ssssst, Ini Curhatku!

Sebentar lagi seluruh warga Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke - 75. HUT Kemerdekaan RI tahun sekarang mungkin akan berbeda dengan tahun  - tahun sebelumnya karena sekarang kita masih dalam kondisi pandemi. Bahkan di beberapa daerah yang tadinya berada di zona hijau sekarang berubah menjadi zona merah karena laju pertumbuhan covid - 19 semakin meningkat salah satunya yaitu di kabupaten Majalengka. Pemerintah kabupaten Majalengka pun menghimbau masyarakatnya agar tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam rangka merayakan HUT RI ke - 75, sumber resmi klik disini.

Meski tidak seperti tahun  - tahun sebelumnya yang identik dengan perayaan HUT yang meriah, namun tidak ada salahnya jika kita melakukan selebrasi bersama orang - orang terdekat saja. Banyak cara kita melakukan selebrasi tanpa harus berkerumun dengan banyak orang, cara sederhana misalnya dengan menggelar doa bersama dengan anggota keluarga dirumah untuk para pahlawan yang sudah berjuang merebut kemerdaan RI. Ngomong - ngomong soal kemerdekaan, pasti sudah familiar kan dengan kata kemerdekaan? Kemerdekaan berasal dari kata merdeka yang menurut KBBI adalah bebas, berdiri sendiri, tidak terikat, tidak bergantung pada orang lain. Makna merdeka zaman sekarang tentu saja sangat berbeda dengan merdeka pada zaman dahulu. Merdeka pada zaman dahulu adalah merdeka dari para penjajah. Sedangkan zaman sekarang makna merdeka sudah semakin meluas. Setiap orang punya caranya masing - masing untuk memaknai kemerdekaan. Berhubung saya adalah seorang ibu rumah tangga, saya akan menjelaskan makna merdeka menurut perspektif saya.

1. Merdeka itu saat bisa pergi tanpa anak
Semenjak lahir hingga sekarang anak saya berusia 2 tahun, bisa dibilang saya mengasuh anak sendirian. Kalaupun ada moment saat anak saya dipegang orang lain, mungkin hanya sekitar 20%. So, kemanapun saya pergi jika masih memungkinkan membawa anak pasti akan saya bawa. Contohnya pergi ke pasar, minimarket, pergi ke rumah teman dan lain lain. Jika tidak memungkinkan membawa anak dan tidak terlalu urgent saya memilih untuk tidak pergi. So, ketika ada kesempatan saya bisa pergi tanpa anak rasanya senang sekali meski hanya beberapa menit.

2. Merdeka itu saat bisa melakukan banyak hal tanpa diganggu anak
Yup, banyak orang yang bilang lebay ketika tahu saya sering melakukan pekerjaan rumah sambil menggendong anak. Simpelnya para netizen berkomentar, “kenapa engga nunggu anak tidur aja biar gak usah gembol anak?”. Berhubung anak saya susah sekali tidur maka mau tidak mau saya harus bisa double job, mengasuh anak sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah yang bisa saya kerjakan sebelum anak bangun tentu saja akan saya maksimalkan, tapi ada saja beberapa pekerjaan yang baru saya kerjakan setelah anak bangun dan mau tidak mau saya harus mengerjakan sambil menggendong anak. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kok. Setelah anak berusia setahunan dan mulai bisa saya biarkan bermain sendiri ( sambil tetap diawasi tentunya ). Moment – moment seperti inilah yang membuat saya masih bisa menikmati sisi “kemerdekaan” dari seorang ibu rumah tangga yang terkadang bagai terpenjara dalam sangkar emas, ciyeeee. 

3. Merdeka itu saat anak tidur cepat dan bangun siang
Sebagian ibu punya prinsip bahwa pekerjaan rumah dikerjakan sesempatnya saja, point utama adalah mengurus anak. Tapi saya justru tidak bisa berprinsip seperti itu, seperti sudah saya jelaskan pada point ke – 3 bahwa sebelum anak bangun saya harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah setidaknya 50% tapi biasanya saya sudah kerjakan sekitar 80%. Jadi ketika anak bangun saya sudah “ready” menghadapi anak yang kadang moodnya tidak sama setiap harinya. Semenjak usia 1 tahun anak saya mulai lebih “manusiawi” jam tidurnya, ya meskipun masih tergolong susah tidur siang tapi setidaknya dia bangun jam 6 - 7 pagi dan tidur jam 9 - 10 malam. Jam tersebut masih tergolong sangat normal menurutku jika dibanding dengan jam tidur sebelumnya yang tidak tentu, kadang bangun jam 4 pagi dan terus bangun seharian lalu tidur jam 6 sore. Kadang bangun jam 7 pagi, tidur jam 12 siang kemudian begadang sampai tengah malam. So, ketika anak saya bisa bangun agak siang dan tidur tidak terlalu larut saya merasa sangat MERDEKA! Selain bisa mengerjakan banyak hal tanpa diganggu anak seperti pada point 3, saya juga bisa tidur cukup dan tentunya ini sangat bermanfaat untuk kesehatan dan stamina saya. Ya ibu – ibu juga pasti tahu rasanya kalau habis begadang pasti besoknya langsung tidak enak badan dan akan merusak mood kita seharian.

4. Merdeka itu saat anak tidak rewel seharian
Ngomongin soal mood, jangankan anak kecil yang belum bisa sepenuhnya menyampaikan apa keinginannya. Kita sebagai orang dewasa pun pasti sering mengalami mood swing karena satu dan lain hal. Nah, ketika anak rewel tanpa sebab dan sudah melakukan ini itu tapi tetap rewel biasanya saya suka ikut – ikutan gak mood makan, emosi dan gak jarang saya nangis tersedu - sedu. Sebaliknya ketika anak anteng bermain, makan tanpa harus lari - lari dan tidak banyak “bertingkah” saya merasa bisa menikmati waktu saya seharian dengan begitu ringan.

Itulah beberapa makna kemerdekaan dari sudut pandang ibu rumah tangga versi saya. Tentunya bukan tanpa alasan saya berbagi mengenai hal ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan yang kerjanya 24 jam. Saking sibuknyanya kadang seorang ibu bisa lupa bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Salah satu cara mencintai diri sendiri yaitu dengan menikmati “me time” ketika moment merdeka itu datang. Setiap ibu pasti punya caranya sendiri itu mendapatkan dan menikmati “kemerdekannya”. Tapi yang pasti setiap ibu berhak mendapatkan “kemerdekaan” meski hanya beberapa menit.

Kalau kamu tipe ibu yang benar - benar kesulitan mendapatkan moment kemerdekaan, coba bicarakan dengan orang terdekat bahwa sedikitnya seminggu sekali seorang ibu yang seringnya diam dirumah saja pun perlu merasakan “kemerdekaan”.

Yuk cintai dan sayangi diri sendiri sebelum kita mencintai negeri ini, merdeka!

 


Bersepeda Setelah Jadi Ibu - Ibu, Beginilah Rasanya. Simak Yuk!

Semenjak pandemi covid - 19 dan banyak orang menghabiskan waktu untuk beraktifitas didalam rumah, maka bermunculan ide - ide kreatif untuk mengisi waktu luang dirumah salah satunya yaitu bersepeda. Bersepeda selain sebagai aktifitas mengisi waktu luang, utamanya merupakan aktifitas olahraga yang tentu saja sangat bermanfaat untuk kesehatan. Seperti dikutip dari hello sehat.com, bersepeda sangat bermanfaat untuk kesehatan salah satunya yaitu mengurangi resiko penyakit jantung. Saat pandemi covid - 19 olahraga menjadi salah satu kegiatan yang banyak dikampanyekan dalam rangka meningkatkan imun tubuh agar bisa melawan virus covid - 19. Lalu, apakah mereka yang bersepeda benar - benar bertujuan untuk olahraga atau hanya ikut ikutan trend? Semua kembali kepada pribadi masing - masing ya. Sebenarnya saya kurang tertarik dengan kegiatan bersepeda, karena memang budget saya tidak memadai heheh. Tapi, karena dirumah ada sepeda “nganggur” kenapa tidak dimanfaatkan?.

By the way sepeda itu banyak macamnya diantaranya sepeda MTB, sepeda lipat, sepeda BMX dan lain lain. Tentunya jenis sepeda yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan masing - masing. Kebetulan sepeda yang ada dirumah saya adalah sepeda Genio M541 dan tergolong sepeda MTB ( Mount To Bike ) atau lebih familiar dengan sebutan “sepeda gunung”. Mengenai jenis sepeda dan spesifikasinya tidak akan saya bahas panjang lebar ya karena saya tidak terlalu expert mengenai sepeda.

Pada tulisan kali ini saya memang tidak akan bercerita mengenai sepeda dan spesifikasinya, tapi saya akan bercerita bagaimana pengalaman saya mencoba bersepeda setelah sekian lama tidak melakukan aktifitas fisik. Semenjak hamil dan melahirkan saya memang jarang punya waktu khusus untuk berolahraga. Olahraga versi saya yaitu “ mondar - mandir “ mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus anak. Sebenarnya saya agak was - was ketika akan mencoba bersepeda, takut ngos - ngosan lah, takut gak kuat ngayuh pedal lah dan lain - lain. Apalagi track bersepeda didekat rumah saya memang banyak naik turunnya, sekalipun datar tapi jalanannya agak bergelombang. So, yuk simak pengalaman saya setelah mencoba kembali bersepeda.

1. Lelah
Sebelum mencoba kembali bersepeda, saya merasa kalau workout dirumah saja sudah cukup melelahkan. Tapi setelah mencoba bersepeda, nyatanya kegiatan bersepeda jauh lebih melelahkan. Bersepeda memang terlihat seperti “main – main”, tapi yang saya rasakan adalah badan saya “bekerja” semuanya. Paha dan betis sakit karena mengayuh pedal, ditambah nafas ngos - ngosan seperti habis lari keliling lapangan padahal cuma duduk di sadel sepeda ya kan? LOL.

2. Kesulitan menjaga keseimbangan
Sering saya mendengar istilah bahwa mengendarai motor jauh lebih mudah daripada mengendarai sepeda. Ternyata hal tersebut benar saya alami, tapi bisa saja berbeda kasus dengan orang lain yang mungkin saja sudah lebih mahir dalam bersepeda. Saya cukup kesulitan menyeimbangkan badan dan beberapa kali “oleng” apalagi ketika ada mobil besar menyalip sepeda saya. For your information, saya memang tinggal di kampung yang padat penduduk. So, ketika ingin bersepeda maka tidak ada pilihan lain tracknya adalah jalan yang sering dilalui kendaraan, bukan di lingkungan perumahan yang lebih safety sih kalau menurut saya. Ditambah lagi angin Majalengka yang khas sekali membuat saya beberapa kali turun dan menuntun sepeda saya. 
3. Malu
Saya memang sangat malu ketika pertama kali mencoba bersepeda. Rasanya dalam hati saya berfikiran kalau orang lain yang melihat akan berkata, “ ciyee ciyee sepedaan ya?”, hahaha. Sounds lebay sih, tapi itu sejujurnya yang saya rasakan. Belum lagi kalau saya kelelahan hingga akhirnya mengharuskan saya menuntun sepeda. Wahhh itu sih bukan malu, tapi malu banget.

4. Harus punya waktu khusus
Sebagai ibu rumah tangga yang mengurus semuanya sendiri, mau tidak mau prioritas utama saya adalah urusan anak dan rumah. Tapi, olahraga juga sangat penting bagi saya karena selain sangat bermanfaat untuk kesehatan juga sebagai ajang “me time”. Bersepeda memang salah satu olahraga yang bikin saya lebih refresh karena saya bisa sekalian “cuci mata” dan menghirup udara segar diluar, tapi minusnya adalah saya harus punya waktu khusus untuk bersepeda misalnya ketika anak saya tidur dan itu adalah sesuatu yang langka bagi saya. LOL


Nah, itulah beberapa hal yang saya rasakan saat pertama kali mencoba bersepeda semenjak menjadi ibu. Secara fisik tentu saja sudah berbeda dengan dulu, katanya perempuan itu kalau sudah melahirkan istilahnya sudah "turun mesin". Justru itu bukan menjadi halangan bagi kita tetap menyempatkan waktu berolahraga agar kondisi tetap prima meski usia semakin bertambah. Tapi, ketika harus memilih antara olahraga sepeda atau olahraga lainnya tentu saja saya lebih memilih olahraga lain contohnya aerobic/zumba yang bisa dilakukan didalam rumah. Next, Insyaallah saya akan share alasan saya lebih memilih olahraga didalam rumah daripada bersepeda.

 

Tips Pergi Ke Alun - Alun Maja, Wisata Murah Meriah Dekat Rumah


Semenjak pandemi covid-19 saya jarang sekali membawa anak bepergian keluar rumah jika memang tidak urgent, meski semenjak pandemi covid-19 suami saya lebih sering dirumah karena WFH ( Work From Home ). Setelah new normal pun kami belum sepenuhnya be a normal, sih. Selain karena pandemi covid-19, tentu saja karena cuaca Majalengka yang kurang bersahabat. Tahu sendiri kan angin Majalengka? That’s why Majalengka dijuluki kota angin.

Tapi, meski belum sepenuhnya normal kami harus akui bahwa kami adalah manusia normal yang butuh piknik juga. Akhirnya pada Selasa sore tanggal 08 Juli 2020 kami sempatkan pergi ke alun - alun Maja untuk mengajak anak bermain sekalian refreshing. Sebenarnya sudah sejak lama saya melihat alun - alun Maja cukup ramai dikunjungi orang - orang terutama pada sore hari, tapi karena satu dan lain hal kami baru bisa pergi kesana pada waktu itu.

Menurut saya sebagai ibu – ibu, konsep wisata alun – alun Maja cukup menarik karena ada beberapa sewa mainan seperti mobil – mobilan, pasir – pasiran dan lain – lain. Untuk urusan perut pun jangan takut kelaparan karena ada beberapa stand yang berjualan makanan dan minuman dengan harga yang relatif terjangkau. Nah, untuk kalian yang berencana ingin pergi wisata ke alun – alun Maja, saya punya beberapa tips agar tetap nyaman dan menyenangkan meski pergi wisata ke tempat murah meriah.


1.    Perhatikan waktu kunjungan
Saya memang baru 2 kali pergi ke alun – alun Maja, tapi kalau sekedar lewat sih sering. Jika diamati, alun – alun Maja memang sering ramai dikunjungi orang setiap sore terutama pada weekend. So, waktu kunjungan juga perlu diperhatikan. Jika kamu tipe orang yang suka keramaian, bisa coba datang pada sore hari terutama weekend. Tapi, jika kamu tipe orang yang suka kedamaian atau ingin sekedar menikmati quality time bersama kesayangan sambil jajan cilok misalnya, bisa coba datang ke alun – alun Maja selain sore hari tapi hati – hati karena jika siang hari mataharinya cukup terik.

2.    Bawa air putih

Yes, meski disana banyak warung penjual makanan dan minuman tapi bawa air putih itu wajib. Saya pribadi menerapkan itu, ketika pergi kemana – mana pasti selalu bawa air putih. Selain untuk menghemat uang jajan ( alasan klasik emak – emak ), tentunya minum air putih itu jauh lebih sehat. Saya tidak melarang diri sendiri apalagi anggota keluarga saya untuk minum selain air putih, tapi tetap hanya sebagai recreational drink bukan untuk menghilangkan dahaga. So, meski hanya pergi ke alun – alun Maja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya tetap bawa air putih dengan tumbler ukuran 1 liter. Apalagi saya punya anak kecil yang sedang aktif – aktifnya, tentu saja akan lebih cepat haus terutama jika sedang asyik bermain.

3.    Gunakan masker

Meski sudah new normal tapi protokol covid-19 harus tetap diperhatikan salah satunya yaitu menggunakan masker. Apalagi per 27 Juli 2020 Ridwan Kamil mewajibkan seluruh masyarakat Jawa Barat untuk menggunakan masker ketika pergi keluar rumah. Tapi anak saya ternyata tidak terlalu betah pakai masker pada saat itu, hehehe. Saya pun ketika di foto sedang membuka masker karena pada saat itu saya baru selesai minum air putih yang saya bawa di tumbler. Mohon maaf ya tidak untuk ditiru,  seharusnya selalu gunakan masker ketika diluar rumah termasuk ketika foto – foto supaya tidak dibully netizen, LOL. Eitsss just kidding, tentunya untuk mencegah penularan covid–19.

4.    Bawa handsanitizer
Jangan lupa untuk tetap menyelipkan handsanitizer di dompet atau di diaper bag karena saya belum menemukan bak cuci tangan umum di alun – alun Maja. Jadi untuk berjaga – jaga terutama jika kalian akan makan dan minum, gunakan handsanitizer terlebih dahulu. Maaf jika sebenarnya sudah ada bak cuci tangan umum tapi saya yang belum melihatnya.

5.    Bawa uang

Wah ini sih yang paling penting diantara semua tips, setuju? Kalau kalian lebih memilih bawa bekal makanan sih tidak masalah, tapi bawa persiapan uang untuk sekedar jajan – jajan sih wajib apalagi bagi yang punya anak kecil. Nah untuk kalian yang akan pergi ke alun – alun Maja, barangkali bisa menjadi referensi jajanan yaitu "Waroeng Basmallah". Menyediakan berbagai macam cemilan seperti Jalakotek, cimol, seblak  dan lain – lain. Selain untuk memanjakan perut, jangan lupa bawa uang untuk sewa mainan anak dan bayar parkir. Untuk sewa mainan mobil – mobilan dikenakan tarif Rp.10.000 dan untuk parkir kendaraan Rp.2000.

Itulah beberapa tips untuk kalian yang mau pergi ke alun – alun Maja. So, bagi kalian yang ingin pergi wisata tapi tidak punya banyak waktu atau budget terbatas bisa coba berwisata murah meriah ke alun – alun Maja terutama untuk yang berdomisili di sekitaran kecamatan Maja.



Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini. Let's Read, Baby!

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Membaca adalah membuka jendela dunia. Membaca membantu saya menemukan banyak hal yang tidak terjangkau oleh tangan dan pandangan mata. Kalau membaca membukakan jendela dunia, maka buku adalah dunia yang penuh cerita. Ya, saya bisa menemukan apapun dari buku yang saya baca.

Saya bukanlah orang yang tergolong "kutu buku", bahkan saya tidak punya ribuan koleksi buku. Saya hanya punya beberapa koleksi buku dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menghabiskan satu buku untuk saya baca. Tapi, dibanding aktifitas lainnya seperti mendengarkan musik, menonton film dan lainnya, membaca adalah aktifitas yang paling sering saya lakukan. Selain membaca, saya juga suka menulis. Saya mulai “mengakui” hobi saya menulis sejak SMA. Untuk bisa menulis banyak, maka saya harus membaca lebih banyak.

Meski saya belum menjadi “apa – apa” karena membaca, tapi saya ingin anak saya punya hobi yang sama. Toh hobi membaca bukanlah sesuatu yang merepotkan, kan? Justru hampir sebagian besar aktifitas kita sehari – hari melibatkan kegiatan membaca. Mulai dari membaca pelajaran di sekolah, membaca resep masakan di aplikasi, membaca berita di koran bahkan membaca chatting di layar handphone.

Jadi, saya menaruh harapan besar kepada anak saya agar bisa menerapkan budaya membaca dalam kehidupan sehari - hari dan punya minat baca tinggi melebihi minat baca saya yang masih naik turun. Namun, saya menyadari betul bahwa sebagai orangtua saya hanya bisa mengarahkan tapi keputusan sepenuhnya ada ditangan anak saya sendiri. Saya tidak tahu apakah kelak anak saya bisa punya minat baca yang tinggi atau tidak. Tapi, saya tidak mau kalah sebelum berperang. Saya mencoba dulu untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Ketika saya hamil dan usia kandungan saya berusia 5 bulan, saya pergi ke Bazar Buku Murah yang ada di Majalengka. Kebetulan suami saya juga punya hobi yang sama, bagi kami pergi ke bazar buku merupakan ajang our time yang bermanfaat. Seperti dikutip dari Alodokter bahwa pada usia kehamilan 18 minggu proses pendengaran bayi mulai berfungsi. Lalu, apa hubungannya dengan pergi ke bazar buku? Yup, ketika pergi ke bazar buku tentunya saya dan suami memilih - milih buku sambil "ngobrol" buku mana yang akan kita ambil. Dari kegiatan sederhana ini saya berharap anak saya sudah familiar dengan istilah - istilah buku dan membaca sejak dini, tentunya agar kelak punya minat baca yang tinggi.

Setelah anak saya lahir, saya coba mengenalkan buku kepada anak saya. Bantal buku adalah buku pertama yang saya kenalkan kepada anak saya pada usia 3 bulan. Bantal buku merupakan mainan anak yang berbentuk buku dan berisi gambar - gambar, bahannya terbuat dari kain berisi dacron jadi sangat aman untuk bayi. Meski belum mengerti, tapi saya tetap memberikan mainan bantal buku kepada anak saya untuk melatih motoriknya karena anak saya suka sekali membolak -  balik bantal buku ini. Selain itu, warnanya yang colorful juga pasti disukai anak - anak. Tak lupa selalu sisipkan edukasi disetiap kegiatan bermain anak. Sambil anak saya memainkan bantal bukunya, pelan - pelan saya sebutkan apa yang ada didalam buku tersebut. 

Seiring beranjak usia dan anak saya sudah bisa duduk mandiri, saya mulai mengenalkan buku - buku berbahan kertas bukan lagi bantal buku kepada anak saya. Buku - buku yang saya berikan adalah buku - buku cerita hewan ataupun buku bergambar lainnya. Pada fase ini kegiatan mengenalkan buku jauh lebih menyenangkan karena anak saya sudah duduk mandiri dan merangkak. Bahkan anak saya tetap seru diberi koran sekalipun, heheheh. Jadi, selain belajar mengenal buku dan budaya membaca juga bisa jadi wahana untuk bereksplorasi anak. Sebagai ibu, saya juga jadi lebih ekspresif ketika mengenalkan apa yang ada dalam buku dengan gerakan - gerakan agar anak saya bisa lebih memahami dan tidak bosan. Pengawasan dalam fase ini juga harus ekstra ketat, khawatirnya buku dari bahan kertas disobek kemudian dimasukkan ke dalam mulut.

Di usia anak saya sekarang yang menginjak 2 tahun dia sudah mengenal buku dengan baik, bahkan anak saya sering minta dibelikan buku jika buku - buku dirumah sudah rusak karena sering dimainkan olehnya. Agar tetap tercipta mindset membaca menyenangkan bagi anak saya, saya memberikan kebebasan untuk anak saya memilih buku yang ia mau. Selain itu, saya juga tidak melarang apabila anak saya mencoret - coret buku atau menggunting buku - buku yang sudah saya belikan agar dia bisa tetap asyik bereksplorasi. Maka dari itu, hingga saat ini saya selalu memberikan buku - buku murah untuk anak saya. Bukan saya perhitungan, tapi memang di usianya yang baru 2 tahun ini sedang asyik - asyiknya mencoba berbagai hal baru termasuk menggunting buku. So, buku - buku bergambar yang saya belikan biasanya saya beli dari toko buku murah. Buku - buku di toko buku murah merupakan buku - buku terbitan lama. Meski terbilang buku terbitan lama, tapi tidak mengurangi manfaatnya. 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Saking sukanya dengan buku, ketika dibawa ke toko buku murah langganan meski tempatnya kurang baby friendly tapi anak saya sangat excited memilih buku. Bahkan beberapa kali dia bilang ingin dibelikan buku bergambar hewan dan bapak pemilik toko buku pun akhirnya memberi kami 3 buah buku anak gratis. Alhamdulillah.


Saya berharap kesukaan anak saya terhadap buku tidak akan berkurang seiring berjalannya waktu. Meski tak bisa dipungkiri di zaman yang serba digital ini, minat baca masyarakat sudah semakin menurun. Mana mungkin kita berharap punya anak yang rajin membaca sementara orangtuanya sendiri masih ogah - ogahan membaca, bukan? Ditambah lagi kemajuan teknologi memaksa kita jadi lebih suka gadget daripada buku, iya kan? Saya sendiri mengalami itu, kok! Tidak ada yang salah dengan perkembangan teknologi, bahkan kita harus mampu mengikutinya karena jika tidak maka kita akan ketinggalan. 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, mengenalkan buku pada anak lebih mudah dan menyenangkan karena ada aplikasi Let's Read. Let's Read merupakan perpustakaan digital yang diprakarsai oleh program Book For Asia, The Asia Foundation. Aplikasi Let's Read berisi buku - buku cerita bergambar yang pastinya menarik bagi anak - anak. Ceritanya banyak dan tersedia dalam berbagai bahasa, seru! Asyiknya lagi buku - buku pada aplikasi Let's Read ini bisa diunduh dan dibaca secara offline, lebih hemat kuota kan? 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Untuk mengunduh buku yang akan dibaca, caranya sangat mudah yaitu pilih buku yang akan diunduh kemudian pilih tombol panah kebawah dan buku siap dibaca meski dalam kondisi oflline. Saya coba mengunduh buku berjudul Tata & Titi yang bercerita tentang ayam dan cacing karena kebetulan anak saya suka sekali dengan karakter - karakter hewan. Ceritanya memang ringan dan sederhana, cocok sekali untuk anak - anak. Tapi, karena anak saya baru berusia 2 tahun maka saya tidak bebas memberikan handphone yang terinstal aplikasi Let's Read untuk dioperasikan oleh anak saya. Seperti dikutip dari Detik Health bahwa screen time pada anak usia 1-2 tahun yaitu kurang dari satu jam dalam sehari. Namun, jika sewaktu - waktu anak saya meminta handphone karena melihat teman - teman seusianya bermain handphone, saya coba berikan aplikasi Let's Read. Selain itu aplikasi Let's Read ini bisa jadi referensi orangtua untuk mendongeng atau bercerita kepada anak.
 
minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read  

Berdasarkan pengalaman saya dalam menumbuhkan minat baca anak dapat disimpulkan bahwa minat baca anak bisa dipupuk sejak dini. Prinsipnya adalah santai dan fun. Santai dalam arti jangan terlalu berekspektasi tinggi, berusaha mengenalkan buku kepada anak sejak dini dan berharap anak langsung suka buku dan membaca itu salah besar. Terkadang ekspektasi - ekspektasi kita sebagai orangtua yang akhirnya memaksakan anak menjadi seperti apa yang kita mau, setuju? Padahal semuanya butuh proses, begitupun dengan mengenalkan budaya membaca dan menumbuhkan minat baca pada anak. Fun, membaca buku harus menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi anak bukan lagi sesuatu yang terkesan jadul dan membosankan. Ikuti saja apa yang disukai anak, tapi tetap fungsi controlling ada pada kita sebagai orangtua. Awalnya saya merasa risih dan rugi ketika anak saya suka sekali menggunting buku - buku dengan gunting kertas miliknya, tapi lama - kelamaan saya menyadari bahwa disitulah point pentingnya. Anak saya merasa seru dengan buku - buku dan guntingnya, saya sebagai ibu berusaha menyisipkan edukasi misalnya dengan mengarahkan agar menggunting pada karakter - karakter tertentu sambil menjelaskan mengenai karakter yang akan ia gunting. Lama - kelamaan karena terbiasa bergelut dengan buku - buku dan merasakan bahwa aktifitas membaca itu menyenangkan maka secara natural anak akan suka dengan buku serta punya minat baca yang tinggi.

Tips terakhir dalam menumbuhkan minat baca pada anak yaitu dengan menggunakan aplikasi Let's Read. Seperti telah disebutkan diatas bahwa penggunaan gadget pada anak sebaiknya dibatasi sesuai usianya. Artinya, anak masih boleh kok main gadget selama masih dalam batasan wajar dan ketika anak bermain gadget pun ada baiknya adalah membuka aplikasi yang bermanfaat seperti aplikasi Let's Read.

Nah, tunggu apalagi yuk download aplikasi Let's Read!

#LetsReadAsia #AyoMembaca