Masih Jualan Sayur di Car Free Day GGM Majalengka?
Pertanyaan tersebut banyak sekali dilontarkan oleh orang - orang yang tahu kalau saya berjualan sayur di Car Free Day (CFD) GGM Majalengka. Mungkin, mereka heran karena akhir - akhir ini saya jarang bikin story jualan sayur setiap Sabtu dan Minggu. Langsung aja deh, saya akan cerita kenapa jualan sayur di CFD GGM Majalengka harus rehat dulu.
Alasan Rehat Jualan Sayur di CFD GGM Majalengka
Jualan Sayur: Rehat atau Berhenti Selamanya?
Jujur, dalam hati masih terasa berat untuk mengakui kalau saya akan benar - benar berhenti berjualan sayur. Sedih, mengingat perjuangan merintis usaha tersebut dari nol dan saya lakukan sendiri. Ibarat kata, Sayur Lima Ribu adalah gambaran apa yang ada di benak saya. Semua ide dan kemampuan yang apa adanya ini, saya tumpahkan semua disitu.
Sampai hari ini, saya masih ingat bagaimana memulai jualan sayur dengan hanya membawa beberapa pack hingga bisa membawa satu mobil penuh. Bukan tidak pernah rugi, ada fasenya jualan kurang laku dan bersisa. Tapi, masih terganti dengan hari - hari dimana jualan laku keras.
Belum lagi, momen manis saat harus membersihkan sayur dan mengemasnya jadi cantik. Lelah memang, tapi melihat sayuran berbaris rapi rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Ditambah, respon teman - teman online yang tiap hari memenuhi notif akun Tiktok Sayur Lima Ribu. Saya tahu, nilai rupiah yang didapat selama berjualan sayur, belum sebanyak pedagang sayur lain yang sudah berjalan lama. Tapi, melihat respon pasar di offline maupun online, membuat hati terasa senang!
Saya yang selama beberapa tahun terakhir sering dibully karena tidak menggunakan ijazah dengan semestinya (karena tidak bekerja), seakan - akan ingin membayar semua itu. Ya, walaupun saya hanya IRT, tapi masih ada buah fikiran yang menghasilkan sesuatu.
Jualan Sayur Cape Banget, Lho!
Awas jualan sayur itu cape banget, lho!
Sebelum mulai terjun jualan sayur, banyak sekali yang menyarankan untuk memikirkan kembali keputusan berjualan sayur. Jualan sayur itu cape, belum resiko busuk, harga yang naik turun dan lain - lain. Saya tidak menyangkal ucapan tersebut, realita kok. Tapi, karena saya suka jualan sejak masih muda, rasanya happy aja. Nggak merasa ada beban sama sekali.
Justru, bagi saya yang beberapa tahun terakhir hanya di rumah saja mengurus keluarga, terjun ke lapangan untuk berjualan sayur, seperti angin segar. Satu sisi, saya menganggap berjualan sayur sebagai ajang healing dari kepenatan mengurus anak - anak. Di sisi lain, tantangan juga bagi saya yang berlatar pendidikan Agribisnis. Dengan membuktikan saya mampu merancang produk dan punya konsumen, saya merasa tidak terlalu gagal dalam menjalankan ilmu yang didapat selama kuliah dulu. Terlebih, saat ini saya juga sedang menempuh pendidikan Magister Agribisnis.
Jadi, kalau ditanya jualan sayur cape atau nggak, ya tentu saja cape. Tapi, karena saya orangnya suka jualan, cape pun tetap terasa senang. Bagi teman - teman yang tidak punya pengalaman berjualan dan ingin mencoba berjualan, sebaiknya jualan produk yang minim resiko dulu.
Pilih Cuan atau Keluarga?
Salah satu alasan saya rehat dulu dari berjualan sayur adalah karena keluarga. Ya, walaupun saya sangat suka berjualan dan menikmati sepenuh hati menjadi bakul sayur, tapi masih mempertimbangkan faktor keluarga. Memang, jualan sayur di CFD itu hanya seminggu sekali. Selebihnya masih banyak menghabiskan waktu bersama anak - anak di rumah. Tapi, jualan sayur yang dikemas itu sangat menyita waktu. Jualannya memang cuma beberapa jam, tapi preparenya bisa dari hari Sabtu. Hari Minggu setelah berjualan, badan rasanya remuk dan saya masih punya tanggung jawab mengurus pekerjaan rumah tangga yang lain. Singkatnya, saya mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan ART. Udah kebayang, kan?
Dampaknya ke anak - anak tuh terasa sekali ketika cape. Saya jadi nggak bisa fokus mengurus anak - anak. Jadi 'bodo amat' juga mereka mau ngapain. Alhasil, setengah tahun anak pertama saya nggak mau belajar dan berangkat mengaji. Saya pun sudah kehabisan energi untuk membujuknya. Belum lagi, kami jadi kehilangan quality time yang biasanya dilakukan setiap hari Minggu. Memang, kami bukan keluarga yang suka travelling. Tapi, sekedar menghabiskan waktu libur bersama juga sudah sangat berharga. Semenjak jualan, waktu tersebut jadi tidak kami dapatkan. Suami dan anak ke sekolah tiap Senin - Jumat. Sabtu - Minggu mereka libur tapi saya sibuk ngurusin sayur. Heuheu
Keputusan yang saya buat, seakan - akan sudah jadi sultan yang nggak butuh uang. Padahal, kebutuhan kami banyak dan masih banyak rencana besar yang belum tercapai. Tapi, namanya hidup memang nggak selalu mulus. Dalam setiap keputusan, akan ada sesuatu yang dikorbankan. Dalam hal ini, saya memilih mengorbankan cuan demi keluarga. Saya merasa keputusan ini masih aman karena alhamdulillah suami bekerja dan punya penghasilan tetap setiap bulan yang insyaallah cukup untuk mengcover kebutuhan pokok.
Jualan Sayur: Usaha 'Real Time' yang Kurang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga
Kalau ditanya rencana selanjutnya apa, saya belum tahu pasti. Untuk saat ini memang belum kebayang, tapi kedepannya saya akan tetap mencoba mencari peluang usaha sampingan. Bukan berarti mata duitan dan 'kagila - gila teuing' kalau kata orang Sunda. Sekali lagi, namanya hidup kan banyak kebutuhan dan rencana - rencana kedepannya. Bukan tidak bersyukur dengan penghasilan suami saat ini, tapi kalau bisa punya usaha sampingan artinya bisa saving lebih banyak untuk bekal kami kedepannya.
Untuk saat ini, memang belum kefikiran usaha yang sifatnya itu harus real time seperti jualan sayur ataupun makanan basah. Real time yang saya maksud disini karena jualan sayur itu kejar - kejaran dengan umur sayur yang pendek. Memang, ada beberapa treatment yang bisa membuat sayur umurnya lebih panjang. Tapi, tetap saja sayuran itu tergolong produk yang berumur pendek.
Ketika akan berjualan sayur di hari Minggu, maka saya harus dadakan mencari stok sayur di hari Sabtu agar sayur yang dijual masih fresh. Secepat - cepatnya, hari Jumat bisa mulai stok sayuran, itu pun harus benar - benar baru petik dalam kondisi baik dan dengan penanganan khusus. Nggak mungkin saya jualan sayur hari Minggu dan sayurannya sudah nyicil saya stok dari Senin. Ya kecuali saya punya kebun sendiri, metik sendiri dan dari awal sudah diperhitungkan kapan harus tanam agar tepat panen untuk dijual hari Minggu. Itupun akan ada melesetnya kalau dikaitkan dengan faktor - faktor lain yang kadang tidak sesuai prediksi.
Pernah saya coba open pre order selain hari Minggu dan alhamdulillah antusiasmenya baik. Banyak ibu - ibu serta anak kost yang merasa sangat terbantu dengan adanya layanan delivery order. Tapi, saya cukup kebingungan ketika harus mengantarkan pesanan karena tidak ada yang menunggu anak - anak di rumah. Mau menggunakan jasa ojek online, harganya mahal karena rumah saya bukan berada di pusat kota sementara kebanyakan konsumen adalah di sekitaran pusat kota. Belum lagi, stok sayuran yang tidak menentu setiap harinya. Untuk bisa menerapkan layanan delivery order seperti di kota - kota besar, memang harus punya gudang khusus dengan stok yang stabil setiap harinya. Wah, untuk menyusun sistem tersebut tergolong berat untuk saya yang saat ini harus lebih fokus ke keluarga dulu.
Intinya, berjualan sayur itu memang kurang cocok untuk ibu rumah tangga seperti saya karena sayuran itu harus benar - benar di treatment dengan baik dan tidak bisa ditunda - tunda. Beda dengan menulis di blog atau produksi konten lainnya yang bisa dilakukan bertahap ketika ada waktu luang.
Saya nggak tahu kedepannya, apakah akan terjun lagi usaha yang cukup menantang seperti berjualan sayur. Tapi, untuk saat ini sepertinya tidak dulu karena sekali lagi, prioritas saya adalah keluarga dulu dan menyelesaikan tesis.
Yaaa sekian ya cerita tentang Sayur Lima Ribu :)
Post a Comment for "Alasan Rehat Jualan Sayur di Car Free Day GGM Majalengka"