5 TIPS MENGATUR KEUANGAN RUMAH TANGGA. NOMOR 1 PALING SERU!

tips mengatur keuangan rumah tangga

Semenjak hamil besar dan berhenti bekerja pada tahun 2017 lalu, sumber penghasilan keluarga kami memang hanya dari gaji suami saja. Saya nggak bilang kalau gaji suami saya tidak mencukupi kebutuhan. Hanya saja ketika sumber penghasilan hanya dari satu pintu, saya harus benar – benar pintar mengatur keuangan rumah tangga supaya tidak boros. Kalau dulu, uang gaji suami sepenuhnya saya gunakan untuk kebutuhan pokok rumah tangga. Sementara untuk sekedar ngopi – ngopi cantik bisa ambil dari gaji saya. Meski gaji kami berdua nggak terlalu besar, tapi alhamdulillah kami masih bisa pergi jalan – jalan ketika akhir pekan. Sekarang? Mau itu kebutuhan pokok, pengen beli baju, pengen beli bakso dan sebagainya ya dari uang gaji suami semuanya.

Memang, berbicara rezeki itu luas sekali apalagi bagi orang yang berumah tangga. Kadang, ada rezeki yang kita terima tapi bukan berbentuk uang. Tapi, bukan berarti kita jadi tidak berusaha mengatur keuangan rumah tangga dengan bijak, ya. Saya anggap rezeki diluar gaji suami adalah bonus. Tanggung jawab kita adalah menggunakan rezeki “pasti” kita dulu sebaik – baiknya. Soal bonus? Saya percaya ada campur tangan Allah didalamnya, dengan catatan sebagai manusia kita mau berusaha.

Sebagai ibu yang menjalani rumah tangga baru seumur jagung, tentunya saya terus belajar bagaimana cara mengatur keuangan rumah tangga yang baik. Untuk itu saya sering membaca dari berbagai sumber serta berdiskusi dengan orang yang sudah berpengalaman untuk mendapatkan tips mengatur keuangan rumah tangga. 

Ngomongin soal cara mengatur keuangan rumah tangga, akhirnya saya menemukan tips dari blog yang fokus membahas mengenai keuangan yaitu  blog milik Dani Rachmat. Seperti di salah satu artikelnya, disebutkan bahwa point penting dalam mengatur keuangan rumah tangga adalah PRIORITASKAN KEBUTUHAN DIBANDINGKAN KEINGINAN. Dari artikel Dani Rachmat tersebut isinya hampir mirip dengan apa yang saya praktekkan selama ini. Oke, inilah tips saya mengatur keuangan rumah tangga versi saya, simple tapi efektif. 

1.Buat catatan keuangan

tips mengatur keuangan rumah tangga

Tips mengatur keuangan rumah tangga yang pertama adalah membuat catatan keuangan. Di zaman yang sudah canggih ini banyak sekali aplikasi pencatat keuangan yang bertebaran di playstore. Nggak perlu ribet – ribet menghitung, cukup masukkan angka dan sistem yang akan menghitungnya.

Tapi entah kenapa setelah mencoba berbagai aplikasi pencatat keuangan, saya lebih suka mencatat keuangan rumah tangga secara manual. Kayak lebih dapat aja gitu feelnya. Saya jadi lebih menghargai jerih payah suami dan berusaha semaksimal mungkin mengatur keuangan rumah tangga supaya tidak boros. 

Ribet nggak sih mesti mencatat setiap pengeluaran dan pemasukkan? Untuk pemula pasti agak ribet, karena kok rasanya kita mesti laporan dulu pada diri sendiri setiap melakukan transaksi even hanya ke warung beli terasi. Hahhaha..

Tapi percaya deh, lama kelamaan kita akan terbiasa. Justru ketika satu dua hari saya lupa tidak mencatat transaksi harian, kadang suka gemes gitu. Ini kok uang habis dipakai apa ya? Hayoh sering ngalamin juga kan? Itulah salah satu manfaat membuat catatan keuangan. Selain itu kita jadi punya kontrol atas diri kita sendiri. Jadi, sudah terbiasa menerapkan tips mengatur keuangan rumah tangga yang pertama ini belum?

2.Dahulukan Cicilan/Hutang

tips mengatur keuangan rumah tangga

Tips mengatur keuangan rumah tangga yang kedua yaitu mendahulukan cicilan atau hutang. Namanya manusia punya hutang, wajar kok. Selama hutang tersebut untuk kebutuhan yang jelas dan ada kemampuan untuk membayarnya. Sampai saat ini ( nggak tahu kalau nanti ya! Hahahah ), saya dan suami tergolong orang yang jarang punya hutang/cicilan. Kalaupun terpaksa kita nyicil sesuatu pasti karena benar – benar terdesak. Sekiranya tidak mendesak ya kita tunggu saja sampai uang terkumpul dan bisa membelinya secara cash. Eitssss, bukan karena kita merasa horang kayah ya! Tapi, kita memang selalu berusaha meminimalisir hutang/cicilan.

Nah, buat kalian yang punya angsuran. Jangan berkecil hati membaca tulisan ini, saya nggak bermaksud memojokkan yang punya angsuran lho. Heheheh… Semuanya kan kembali ke pribadi masing – masing, yang terpenting ketika gajian atau ada rezeki maka dahulukan lah membayar hutang. Kami merasa bahwa dengan meminimalisir hutang/cicilan merupakan cara yang cukup efektif dalam mengatur keuangan rumah tangga. Meski penghasilan besar, tapi banyak angsuran kok rasanya gimana gitu ya? Gimana.. gimana, kalau tips keuangan yang kedua ini setuju nggak ibu – ibu?

3.Wajib Menabung

tips mengatur keuangan rumah tangga

Tips mengatur keuangan rumah tangga yang ketiga yaitu menabung. Urusan menabung menurut saya rada susah. Teorinya, menabung sedikit demi sedikit lama –  lama menjadi bukit. Tapi realitanya susah sekali menabung meski sedikit, ada aja deh godaannya! Untuk mengantisipasi hal tersebut saya memilih tabungan berjangka yang auto debet dari rekening setiap bulan. Untuk produk tabungan berjangka ini saya rasa tiap bank punya produknya kok, coba tanya – tanya langsung saja. Dengan tabungan berjangka ini saya jadi “dipaksa” untuk nabung. Nggak perlu besar kok, misal kita cuma mampu menyisihkan seratus ribu sebulan juga lumayan kan daripada tidak menabung sama sekali.

By the way, semenjak sering baca blognya Dani Rachmat, saya jadi mulai kefikiran untuk berinvestasi dalam bentuk lain. Next, mungkin saya akan coba berinvestasi dalam bentuk lain selain menabung biasa di bank. 

4.Kurangi Nongkrong/Jajan

tips mengatur keuangan rumah tangga

Tips mengatur keuangan rumah tangga yang keempat yaitu kurangi nongkrong/jajan. Seperti disebutkan oleh Dani Rachmat kalau ngopi di Starbucks itu hanya keinginan, kebutuhan kita untuk ngopi kan bisa terpenuhi dengan menyeduh kopi sendiri. Eeehhh.. tapi kok bener juga sih ya? Jadi, buat kamu yang ingin berhemat dan bisa mengatur keuangan rumah tangga dengan baik, coba untuk kurangi piknik/jajan/nongkrong. Memang sih terkesan sepele, menghabiskan Rp. 50.000 – Rp.100.000 untuk pergi makan atau nongkrong di cafe. Sesekali sih boleh lah, ya. Tapi, jika hal tersebut dilakukan setiap minggu kan sayang juga? Lumayan lho buat ditabung!

Untuk mengantisipasi rasa ingin jajan – jajan manja, biasanya saya pergi kepasar seminggu sekali atau seminggu dua kali untuk stok bahan makanan pokok dan cemilan. Orang – orang zaman now bilang sih, teknik food preparation. Kebetulan jarak rumah dengan pasar memang tidak terlalu jauh, bahkan saya sering ke pasar sambil jalan kaki. Yaa… itung – itung olahraga gitu.

5.Cari Tambahan Penghasilan

tips mengatur keuangan rumah tangga

Tips mengatur keuangan rumah tangga yang terakhir versi saya yaitu berusaha mencari tambahan penghasilan. Hari giniiiiih, apa sih yang gratis? Mau ke WC umum aja bayar ya kan? So, jika kita sudah berusaha mengatur keuangan rumah tangga sebaik mungkin. Memangkas biaya – biaya yang nggak terlalu penting, tapi tetap saja kurang itu artinya sudah saatnya untuk mencari tambahan penghasilan.

Mengenai penghasilan tambahan, siapa sih yang nggak mau? Saya dan suami pun begitu, ingin punya tambahan penghasilan lain selain dari gaji suami. Saya dan suami sering mencoba berbagai kesempatan, istilahnya apa aja deh kalau bisa menghasilkan uang kenapa nggak. Tapi, untuk saat ini memang kami belum punya ladang penghasilan tambahan yang bisa rutin menghasilkan. Mohon doanya ya teman –  teman semoga segala bentuk usaha kami untuk membuka pintu rezeki kelak ada hasilnya. Saya pun mendoakan teman teman –  semua para pejuang nafkah supaya dilancarkan rezekinya. Aaamiin.

Itulah 5 tips mengatur keuangan rumah tangga ala saya, keluarga sederhana namun bahagia. Eaaaa... Sebenarnya saya agak malu untuk share mengenai tips mengatur keuangan rumah tangga ini. Secara hidup kami aja masih pas – pasan. Rumah masih numpang, kendaraan hanya punya motor yang kalau kemana – mana mesti berdesakkan. Tabungan pun ya alhamdulillah ada meski sedikit. Hutang? Kayaknya nggak ada deh, palingan kreditan panci. Hahahahah…

Namun, point terpenting dari mengatur keuangan rumah tangga menurut saya sih membentuk kebiasaan baik. Dengan berusaha mengatur keuangan rumah tangga sedini mungkin, sejak awal pernikahan bahkan yang masih single pun nggak ada salahnya loh untuk belajar mengatur keuangan rumah tangga dengan baik agar kelak setelah menikah tinggal praktek.

Ciyus deh, dengan berusaha mengatur keuangan rumah tangga sedikit demi sedikit merubah perilaku saya yang agak konsumtif ketika masih bekerja dulu. Sekarang, saya nggak merasa tersiksa tuh meski harus berhemat. Banyak yang bilang katanya nikmati hidup, jangan terlalu hemat. Tapi, perjalanan kita Insyaallah masih panjang. Masih banyak tugas untuk membesarkan anak dan memberikan pendidikan yang layak, setuju? Menikmati hidup mah wajib, atuh! Namun, tetap harus kontrol biar nggak bablas dan salah satunya yaitu dengan mengatur keuangan rumah tangga sebaik mungkin. Soal rezeki mah tenang aja sudah ada ketetapannya dari Allah. Allah tahu kok kapan doa – doa kita harus dikabul. Tugas kita sebagai manusia cukup berusaha dan berdoa.

Ibu – ibu, barangkali punya tips mengatur keuangan rumah tangga lain boleh tulis dikomen ya! 


4 TIPS RUTIN BEROLAHRAGA BAGI IBU RUMAH TANGGA

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga

Sudahkah rutin berolahraga?

Apa? rutin berolahraga? Susah deh! Apalagi ibu rumah tangga yang punya balita seperti saya. Memang ya kalau ngomongin olahraga, setiap orang pasti punya persepsi yang berbeda – beda. Ada yang menganggap olahraga merupakan suatu kebutuhan, pokoknya sempat nggak sempat harus olahraga. Ada juga yang menganggap olahraga sebagai selingan, yaaa.. meski nggak rutin tapi seminggu sekali mah harus olahraga. Nah, paling parah ada juga orang yang menganggap dirinya tidak perlu olahraga. Hmmm siapakah dia? Tentu saja saya orangnya! Hahahha…

Tapi, itu dulu ya gaes. Semenjak hamil dan melahirkan saya jadi orang “rumahan” banget. Realitanya memang begitu kok, nggak mengada – ngada. Jangankan pergi ke tempat aerobic atau gym, ngurus anak dan rumah aja kayaknya sehari 24 jam masih kurang. Alhasil selain berat badan yang tidak terkontrol, badan pun jadi jompo banget! Gampang ngantuk, gampang cape. Ditambah lagi pola makan yang jauh dari kata clean.

Terus, sekarang sudah rutin berolahraga?

Sejak Desember 2019 saya memang memutuskan untuk menurunkan berat badan. Saya coba atur pola makan tanpa dibarengi olahraga. Berat badan saya memang turun pelan – pelan dengan pola makan yang lebih sehat dan clean dari sebelumnya. Setelah merasa nyaman dengan apa yang saya jalani beberapa bulan terakhir, ternyata tubuh saya nagih untuk mencoba berolahraga kembali setelah sekian lama tidak olahraga. Dengan pola hidup yang lebih sehat, lebih clean dari sebelumnya tanpa olahraga pun saya merasa jauh lebih fit, nah kenapa nggak ditambah rutin berolahraga juga ya kan? Olahraga kan nggak melulu karena lagi diet, tapi rutin berolahraga tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Setelah melewati berbagai riset dan uji coba pada diri saya sendiri, ciyeeeilah… Akhirnya saya menemukan tips bagi yang mau memulai rutin berolahraga terutama bagi kalian ibu rumah tangga, karena saya tahu betul bagaimana susahnya mengatur waktu untuk berolahraga ditengah begitu padatnya mengurus rumah dan keluarga. Tips ini tentu saja murni berdasarkan pengalaman saya pribadi. Yuk disimak tips rutin berolahraga bagi ibu rumah tangga, dibawah ini :

1.   Buat Jadwal

Sebelum memulai rutin berolahraga ada baiknya kita tentukan jadwal terlebih dahulu. Nggak usah muluk – muluk deh. Misalnya buat jadwal seminggu sekali saja, lalu lihat apakah kita bisa konsisten dengan jadwal yang kita buat sendiri? Setelah terbiasa olahraga seminggu sekali, tambahkan intensitasnya jadi seminggu 2 kali, seminggu 3 kali dan seterusnya.

Awal – awal memulai olahraga saya pun hanya olahraga sesempatnya saja. Setelah mulai terbiasa berolahraga, saya coba buat jadwal rutin olahraga seminggu sekali. Sesibuk – sibuknya saya tapi hari libur wajib olahraga karena mumpung suami ada dirumah, jadi ada yang ganti momong anak. Hehehe…

Sekarang, meski saya tidak rutin berolahraga setiap hari tapi setidaknya 3 kali dalam seminggu saya sempatkan untuk berolahraga. Waktunya pun tidak lama – lama kok, meski cuma 15 menit karena banyak gangguan domestik rumah tangga misalnya. Ya… 15 menit masih lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?

2.   Olahraga Dirumah Saja

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga


Sebelum pandemi Covid–19 saya yakin ibu rumah tangga sudah terbiasa dengan situasi #dirumahaja. Ya, situasi dan kondisi memang memaksa kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah. Meskipun pada beberapa ibu rumah tangga ada juga yang aktif bepergian keluar rumah karena urusan bisnis misalnya. Saya pribadi sih tergolong ibu rumah tangga yang total dirumah, keluar rumah jika ada keperluan seperti pergi ke pasar, minimarket, ATM dan keperluan lain yang punya urgensi cukup tinggi. Jika untuk sekedar cuci mata atau shopping, biasanya saya memilih pergi bersama suami ketika suami libur bekerja.

So, dengan kondisi saya yang lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah maka aktifitas olahraga pun harus yang bisa dilakukan didalam rumah. Olahraga lancar, urusan rumah kelar. Ada banyak pilihan olahraga yang bisa dilakukan didalam rumah misalnya yoga, aerobic, bahkan berenang kalau kalian punya kolam renang dirumahnya. Hehehheh

Pokoknya, di zaman yang sudah serba internet ini nggak ada yang susah kok! Di youtube banyak sekali video – video home workout yang mudah dilakukan dan cocok sekali bagi ibu rumah tangga yang ingin rutin berolahraga.

3. Olahraga Bersama Keluarga

Bosan berolahraga didalam rumah dan butuh suasana baru? Coba olahraga diluar rumah! Untuk olahraga diluar rumah biasanya saya melibatkan anak dan suami. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga

Aktifitas olahraga yang bisa melibatkan anggota keluarga misalnya bersepeda. Saya biasanya bersepeda mengajak anak dan suami. Seperti yang terlihat dari unggahan di instagram pribadi saya diatas, kami tak hanya sekedar mengambil gambar langit yang indah. Sebenarnya kami sedang berolahraga pada saat itu, ya olahraga versi kami tentunya. Saya menggunakan sepeda sementara anak dan suami menggunakan sepeda motor, mengikuti saya dari belakang. Gimana? Seru kan? By the way, saya pernah tulis pengalaman bersepeda saya untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bersepeda disini.

Atau kalian bisa juga coba jogging bersama keluarga setiap weekend. Menghirup segarnya udara pagi bersama keluarga tercinta. Jogging merupakan salah satu jenis olahraga yang paling mudah dilakukan dan sangat murah karena tidak perlu beli alat – alat olahraga. Bahkan kalau tidak punya sepatu olahraga, jogging tanpa menggunakan alas kaki juga bagus untuk kesehatan, lho! Salah satu manfaat jogging tanpa alas kaki seperti dikutip dari situs www.bola.com yaitu sebagai refleksi dan treatment terhadap kaki, karena kaki merupakan pusat syaraf yang berhubungan dengan organ tubuh lainnya. Sehatnya dapat, quality time nya juga dapat! 

4.   Olahraga = Aktifitas Fisik

Jika kalian tergolong ibu – ibu yang super sibuk, nggak memungkinkan untuk rutin berolahraga karena saking sibuknya. Coba deh perbanyak aktifitas fisik. Ya, di zaman now yang sudah semakin canggih ini tak dipungkiri bahwa kita banyak terbantu oleh teknologi terutama dalam urusan pekerjaan rumah tangga yang konon tak habisnya.

Kalau dulu, mencuci baju harus capek – capek pakai tangan. Belum lagi cuciannya segunung, aduh! Tapi sekarang cukup satu sentuhan tangan karena mesin cuci yang mengerjakannya, betul, nggak? Padahal dengan menggerakkan tangan untuk mencuci baju, setidaknya sekian kalori terbakar. Lumayan kan daripada mager everyday?

Saat ini, saya sedang asyik pergi ke pasar jalan kaki. Hehehe.. Seru aja gitu, selain nambah – nambah aktifitas fisik saya juga sekalian me time saya sebagai seorang ibu yang sehari – harinya hanya dirumah saja. Biasanya saya ke pasar setelah subuh, kebetulan suami masih WFH jadi bisa saya titipi anak ketika saya pergi ke pasar.

Memang sih waktu kita jadi banyak tersita, tapi ya kenapa nggak jika tersita untuk hal yang positif?

Itulah tips rutin berolahraga terutama bagi ibu rumah tangga yang sering bersembunyi dibalik kalimat “nggak ada waktu. Heheheh… Tidak ada kebiasaan yang bisa dibentuk dalam satu dua hari, termasuk membentuk kebiasaan baik rutin berolahraga. Tentunya, kesibukkan setiap ibu berbeda – beda. Jadi, tips rutin berolahraga ala saya ini belum tentu cocok bagi ibu lainnya diluar sana. Tapi jika tips ini dirasa cocok dan bermanfaat, silahkan dicoba ya!

Review Diaper Bag By Oruru. Diaper Bag Terbaik Versi Mamah Anggun!

Ketika akan melahirkan pada tahun 2018, sebagai seorang ibu baru tentunya saya sangat antusias mempersiapkan segala sesuatu keperluan calon bayi saya. Saking antusiasnya saya sudah semangat belanja perlengkapan bayi dari usia kehamilan masih muda, tapi kata orangtua disini pamali jika mempersiapkan keperluan bayi terlalu dini. Jadi, harus menunggu usia kehamilan 7 bulan ke atas boleh nyicil beli perlengkapan bayi.

Entah mitos atau fakta mengenai hal tersebut, tapi saya manut saja dengan pepatah orangtua yang lebih senior. Hingga waktunya saya berbelanja perlengkapan bayi, saya membuat list apa saja yang akan dibeli. Namun sayangnya ada satu barang yang menurut saya cukup penting tapi saya tidak masukkan list, yaitu diaper bag! Pikir saya, baru melahirkan mau kemana coba? Ternyata dugaan saya salah! Justru ketika masih bayi, kita pasti akan sering bolak balik ke bidan atau dokter untuk imunisasi. Dan yang namanya bawa bayi, pasti deh bawaannya segambreng! LOL.

Sebenarnya, ada beberapa diaper bag yang saya dapat dari kado tapi kurang sreg aja. Akhirnya saya beli lagi ke salah satu grosir yang ada di Majalengka, waktu itu saya beli diaper bag model selempang. Untuk pergi sebentar dan tidak terlalu bawa banyak barang, diaper bag kecil pun sudah cukup. Tapi ketika akan bepergian agak jauh lama, saya butuh diaper bag model ransel. Selain muat banyak, tentunya supaya lebih nyaman dibawa.

Dalam proses pencarian diaper bag terbaik versi saya, ya karena setiap orang punya standar nyaman yang berbeda – beda bukan? Saya menemukan banyak diaper bag yang harganya cukup terjangkau yaitu sekitar 200 ribuan dengan model yang lucu – lucu, tapi ketika melihat reviewnya ada beberapa yang mengeluhkan kalau tali tasnya cepat rusak dan putus. Wajar sih, namanya juga diaper bag. Isi tasnya pasti banyak banget, makanya saya perlu teliti untuk mencari diaper bag yang gak cuma lucu tapi juga kuat dan awet.

Sampai akhirnya saya menemukan diaper bag merk Oruru di shopee, link tokonya disini, untuk akun instagramnya bisa cek disini. Huaaaa, modelnya banyak, motifnya lucu - lucu.! Meskipun diaper bagnya bermotif, tapi motifnya gak pasaran deh. Karena saya butuh diaper bag dengan kapasitas yang cukup besar, akhirnya saya memutuskan memilih oruru diaper bag series cube yang motif owl. Sebenarnya saya pengen beli yang polos supaya lebih aman aja dipakai suami, tapi waktu itu ready yang motif saja. Yuk, simak lebih detail mengenai oruru diaper bag dibawah ini.

1.       Bahan dan ukuran

Oruru bag cube series ini terbuat dari bahan microfabric polyester dengan ukuran 30 cm x 20 cm x 45 cm. Wow, besar banget kan ya? Yas, memang besar. Buat kalian yang cari diaper bag size kecil, oruru bag cube series ini memang kurang cocok. Bentuk dari tas ini memang agak bulky, sesuai namanya yaitu cube. Mungkin buat kalian yang punya postur tubuh imut imut, diaper bag ini terkesan kegedean. Karena saya dan suami punya postur badan agak besar, jadi saya masih merasa cocok ( iyain aja yak? LOL ) dengan oruru diaper bag cube series ini. By the way saya kurang tahu apakah Oruru diaper bag ini waterproof atau tidak, tapi kalau cuma kena hujan gerimis dikit - dikit sih masih aman.

2.       Motif

Oruru diaper bag ini punya banyak motif dan warna, saya pilih motif dan warna yang cukup netral yaitu motif owl warna navy. Harapan saya diaper bag ini bisa awet turun temurun sampai anak selanjutnya, hahahah…

3.       Kapasitas

Ngomongin kapasitas, ini nih yang paling saya suka. Oruru diaper bag ini memang cocok buat kalian yang pengen segala dimasukin ke diaper bag pas bepergian. Ada beberapa  orang yang memilih bawa tas kecil aja, kan? Ibaratnya gak apa - apa nambah bawaan kresek dijinjing. Nah, kalau saya tipe yang pengen semua bruk jadi satu dalam satu tempat. Selain ukuran dari tasnya yang besar sehingga bisa muat banyak, didalamnya pun terdapat banyak sekat jadi kalau bawa printilan yang kecil kecil gitu, aman deh gak berceceran! Selengkapnya ada di video dibawah ini ya.


4.       Harga

Untuk urusan harga, bener - bener worth to buy deh! Diaper bag dengan kapasitas besar dan model gak pasaran ini cuma dibandrol kurang dari 300ribuan ( harga tepatnya saya lupa lagi, kebetulan saya beli ketika anak saya baru lahir dan sekarang anak saya sudah berusia 2,5 tahun ).

5.       Kualitas

Awalnya saya sempat ragu dengan kualitas diaper bag dari Oruru ini. Tapi setelah saya pakai diaper bag ini selama 2 tahun lebih, saya bisa menilai sendiri kualitas dari Oruru diaper bag yang oke punya. Talinya masih kuat padahal bawaan saya selalu banyak dan selalu saya pakai ketika bepergian, resleting tas masih berfungsi semua, sementara untuk warna dari tas itu sendiri memang agak pudar tapi tidak terlalu terlihat.

Sampai sekarang saya masih suka pakai diaper bag kemana – mana, lebih praktis aja meski secara fashion mungkin kurang girly gitu. Bahkan tas fashion ( eh bener gak sih namanya?), malah tersimpan rapi dilemari.

Ada yang samaan masih suka pake diaper bag meski anak sudah besar?

Jadi Ibu Rumah Tangga Yang Produktif? Semuanya Gak Melulu Soal Uang, Kok!

“Jadi ibu rumah tangga itu harus pinter cari duit jangan cuma bisa ngandelin suami!”
“ Jadi ibu rumah tangga itu harus bisa memanfaatkan waktu luang menjadi uang.”
“ Jadi ibu rumah tangga itu jangan hanya cantik dan bisa masak tapi harus bisa juga cari uang.”

Dan masih banyak lagi jargon - jargon yang biasa ditulis oleh ibu milenial di sosial media, entah itu memang curhatan pribadi atau untuk keperluan promosi produk/bisnis agar menarik perhatian. Yay, dari jargon - jargon diatas saya menyimpulkan bahwa produktif itu harus menghasilkan uang. Setuju gak, sih?

Sebagai ibu - ibu yang matre, iya saya matre ( pada tempatnya ). Tidak bisa pungkiri bahwa semua yang kita butuhkan itu harus dibeli dengan uang terkecuali kasih sayang. Eaaaa… Apalagi sebagai seseorang yang sudah fighter sejak zaman kuliah, saya paham betul bagaimana susahnya hidup ini kalau tidak punya banyak uang. Saya bukanlah dari keluarga berada tapi punya tekad besar untuk mengenyam pendidikan. Biaya dari orangtua yang hanya cukup untuk keperluan pokok saja, untuk menutupi biaya lain – lain atau sekedar memenuhi keinginan sendiri saya jadi penjual online serabutan. Zaman dulu di sekitar tahun 2010, penjual online yang berjualan di sosial media belum sebanyak sekarang. Setelah lulus kuliah saya langsung bekerja dan resign ketika akan melahirkan.

Ketika akan melahirkan, perasaan saya rasanya campur aduk. Bahagia karena akan punya anak dan akan mengasuh serta membesarkannya dengan tangan sendiri, bingung karena saya akan menjadi ibu rumah tangga sejati yang artinya saya hanya akan menikmati uang hasil jerih payah suami bukan hasil jerih payah sendiri. Meski suami saya sangat baik, tapi saya sering merasa “tidak enak” jika harus meminta uang untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya ketika masih bekerja saya punya bisnis sampingan yang hasilnya lumayan, istilahnya bisa nambah – nambah buat beli pulsa. Tapi saya mulai kehilangan mood ketika akan melahirkan, setelah melahirkan lebih parah lagi. Rasanya bisa mandi dan keramas dengan tenang pun sudah alhamdulillah.

Hari demi hari berlalu, saya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengasuh anak, beres – beres rumah, nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika dan berbagai pekerjaan domestik lainnya.  Sering sekali saya merasa jenuh dengan hari – hari saya yang cuma gitu doang, nothing special. Belum lagi omongan orang – orang yang sangat menyayangkan status sarjana saya tidak bisa membeli karir yang cemerlang didunia kerja. Fyuhhhh… sudah jenuh, stress pula!

Oke.. oke.. sampai sini mindset saya masih sama dengan orang – orang bahwa produktif haruslah menghasilkan uang. Anak semakin tumbuh besar, tapi saya hanya menjadi manusia yang gitu – gitu aja. Pernah saya coba melamar pekerjaan, tapi mencari pekerjaan yang cocok dengan status saya sebagai ibu rumah tangga yang masih punya anak kecil memang tidak gampang. 

Lelah mencari pekerjaan yang cocok tapi tak kunjung ketemu, saya coba peruntungan dengan berjualan baju anak murah. Respon pasar gimana tuh? Alhamdulillah laris manis bak kacang goreng, tapi kendalanya di modal. Saya yang pada waktu itu mengandalkan modal dari pencairan BPJS ketenagakerjaan merasa belum siap harus mengalokasikan seluruh uang hasil pencairan tadi untuk berjualan baju anak. Sementara yang namanya jualan baju itu modalnya lumayan besar dengan keuntungan yang tidak seberapa. Belum lagi barang reject, retur, motif tidak sesuai dan lain – lain. Meski baju yang dijual itu tidak akan busuk seperti makanan tapi kan namanya trend fashion perubahannya cepat sekali kan? Ah, mungkin saya belum punya mental pengusaha!

Akhirnya saya pasrah dengan nasib dan takdir saya menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjalankan pekerjaan domestik yang biasa saya lakukan sehari – hari. Hingga pada suatu hari saya tertegun dengan ucapan suami saya yang katanya saya harus tetap produktif, sekalipun bukan uang yang menjadi hasilnya. Kalaupun materi tidak bisa kita dapatkan tapi setidaknya pahala dan kebaikan bisa kita berikan untuk bekal nanti. Aduh, saya kemana aja nih baru tersadar sekarang? Hahahaha…

Saya jadi teringat dengan perjuangan suami saya sebagai guru honorer yang mesti kerja serabutan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan saya tidak bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang guru, tapi saya hanya kasihan melihat dia yang harus mengajar juga bekerja serabutan. Sempat saya menyarankan untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan terutama dari segi finansial. Tapi suami saya tetap dengan pendiriannya, menjadi seorang guru sambil bekerja sampingan. Menurutnya mengajar adalah bagian dari mengamalkan ilmu.

Hingga pada akhirnya suami saya mencoba mengikuti test CPNS di Kementrian Agama Jawa Barat pada akhir tahun 2018 dan alhamdulillah lolos. Saya tidak bilang bahwa menjadi ASN adalah goal dari perjalanan hidup, justru disinilah perjalanan kami dimulai kembali dari nol. Namun tidak dipungkiri bahwa menjadi ASN adalah salah satu pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Jadi, sekarang dirumah ngapain aja dong?!

Ya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sejati, dong! Sama saja seperti hari – hari sebelumnya. Tapi sekarang saya menjalaninya dengan lebih ikhlas, legowo, gak ada tuh perasaan insecure atau merasa jadi manusia yang sia – sia gitu. Memang sih semuanya berawal dari mindset kita, ketika mindset kita positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif pula begitupun sebaliknya. Di sela – sela waktu luang saya juga sempatkan untuk menulis di blog yang sudah saya buat sejak lama. 

Jujur, sebelumnya saya sempat ingin menjadikan blog ini sebagai ladang penghasilan saya. Yaaa.. itung – itung kerja dirumah gitu. Kebetulan blog saya ini juga sudah diterima google adsense. Mungkin loh ya ini mungkin.. karena saya memulainya tidak enjoy, tidak ikhlas dan terlalu profit oriented. Akhirnya malah saya jadi jarang posting sama sekali, paling sebulan sekali itu pun tulisannya acak – acakan ( eh sekarang pun tulisanku belum bagus, sih. Ehehehe ). Ditambah lagi hubungan dengan anak jadi kurang baik, sering saya menyalahkan anak saya yang susah tidur atas tidak terurusnya blog saya ini. Aduh… maafkan mamahmu ya, Nak! 

Lalu, saya jadi teringat juga chat pribadi dengan mak Lasmicika, salah satu member komunitas KEB ( Kumpulan Emak Blogger ). Waktu itu saya cerita kalau saya banyak buang waktu dalam dunia blogging. Saya sudah lama ngeblog tapi cukup kesulitan mengatur waktu untuk menulis, apalagi setelah punya anak karena anak saya tipe yang susah tidur. Kalau malam harus begadang untuk menulis, saya juga butuh istirahat karena melelahkan mengurus anak seharian sambil mengurus pekerjaan rumah. Jawaban Mak Lasmi ternyata begitu menampar saya, katanya bahwa tidak ada yang terlambat dan ngurus si kecil pun effortsnya luar biasa. Dalam hidup memang selalu ada yang di prioritaskan. Ah, peluk jauh untuk Mak Lasmi. Semoga saya bisa terus belajar menulis tanpa mengesampingkan urusan keluarga.

Intinya, menjadi ibu rumah tangga yang punya bisnis sampingan atau sambil bekerja adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dapat pahala dari mengurus keluarga, dapat gaji atau penghasilan juga iya. Tapi, bukan berarti ibu rumah tangga yang hanya mengurus pekerjaan rumah tangga jadi disebut “gak produktif”. Dengan kita berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus anak, mengurus suami, beribadah dan lain – lain itu juga merupakan kegiatan produktif kan? Pokoknya jangan pernah deh memandang orang lain dengan kacamata sendiri begitupun sebaliknya. Setiap rumah tangga itu punya jalan rezekinya masing – masing. Ada yang rezekinya melalui suami dan istri yang sama – sama bekerja, ada yang rezekinya hanya melalui suaminya saja bahkan banyak juga loh istri yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Dalam hal ini tentu saja perlu sosok suami yang bisa jadi support system terbaik bagi istrinya. 

Boleh saja seorang suami mendambakan istrinya bisa lebih produktif dari sekedar mengerjakan urusan domestik rumah tangga, tapi ya harus disupport sebaik mungkin. Bantu istri untuk mendapatkan suasana kondusif dalam rumah, misal ketika libur bekerja coba ajak anak keluar rumah supaya istri bisa mengerjakan “sesuatu” dirumah. Dan suami pun harus ingat ketika istri bekerja, entah itu didalam maupun diluar rumah kemudian mendapatkan penghasilan, tidak akan melunturkan kewajibannya dalam menafkahi loh! Jadi, kalaupun istri produktif dari dalam rumah pada intinya adalah untuk pengembangan dirinya sendiri.

" Saya memang gagal menjadi sarjana yang punya karya, saya gagal juga melanjutkan karir di dunia kerja, tapi saya tidak mau gagal menjadi ibu rumah tangga "

Wajan Anti Lengketmu Cepat Rusak? Coba Ganti Spatula Dengan Spatula Silikon!

wajan anti lengket rusak

Siapa yang wajannya sama seperti wajan milik saya diatas? Wajan dengan bentuk seperti tersebut kalau disini biasanya disebut "teflon", padahal teflon itu jenis bahan dari wajan kan? hehehe. Oke skip dulu pembahasan antara wajan dan teflon. Intinya bahwa saya pernah merasa "kapok" punya wajan anti lengket. Kapok karena menurut saya harganya cukup mahal ( tergantung merk juga, sih ) tapi kurang awet, tuh buktinya saya sudah punya dua wajan yang akhirnya jadi hiasan didapur.

Lalu, apa sih yang bikin wajan anti lengket jadi cepat rusak? Utamanya adalah karena dulu saya sangat minim dengan ilmu perdapuran. Dulu ketika pertama kali membeli wajan anti lengket saya beli juga dengan spatula dari bahan kayu, tapi karena menurut saya spatula dari kayu itu kurang nyaman akhirnya saya tetap pakai spatula stainless di wajan anti lengket saya. Setelah sekarang saya banyak belajar ilmu perdapuran, sepertinya haram hukumnya wajan anti lengket pakai spatula stainless hahaha. Satu dua kali mungkin tidak masalah menggunakan spatula stainless di wajan anti lengket, tapi kalau keseringan saya harus terima konsekuensi lapisan anti lengket pada wajan jadi terkikis habis.

Beberapa bulan yang lalu saya request dibelikan wajan anti lengket ke suami dan suami pun approved atas permintaan saya. Pengalaman saya dimasa lalu dengan wajan anti lengket memaksa saya untuk membeli dulu spatula baru kemudian membeli wajannya ahahaha. Salah satu jenis spatula yang menarik perhatian saya yaitu spatula silikon. Selain warnanya yang colorful, “gemesin”, saya cukup penasaran dengan ketahanan spatula tersebut yang katanya meski terbuat dari silikon tapi justru lebih kuat dari spatula berbahan nilon. Sebenarnya spatula berbahan silikon ini sudah booming sejak lama, tapi karena saya baru punya grill pan baru *ehemmm*.. akhirnya saya putuskan untuk sekalian membeli spatulanya agar grill pan baru saya lebih awet. 

Sebelum menjatuhkan pilihan pada spatula silikon yang saya beli, saya cukup kebingungan memilih spatula silikon di berbagai e - commerce. Sebagai ibu - ibu sejati tentunya saya sangat mempertimbangkan harga dan kualitas spatula silikon yang akan saya beli. Seperti biasanya, ibu ibu kan maunya kualitas sultan tapi harga rakyat. Wkwkwk… Oke, akhirnya pilihan saya jatuh pada DIECI 10 in 1 Set Silicone Kitchen Utensil by MIZU Living. Berikut beberapa alasan saya memilih spatula silikon set DIECI 10:

review spatula silikon

1. Harga

Seperti sudah saya sebutkan di atas bahwa urusan harga biasanya paling utama di mata emak - emak, LOL. Setelah saya compare dengan beberapa produk spatula silikon dari berbagai lapak, DIECI 10 in 1 Set Silicone ini worth to buy banget! Satu set spatula silikon yang berisi 10 jenis spatula ini dibandrol Rp. 158.000 saja. Murah apa murah banget, ya kan?

review spatula silikon

Hmm.. sudah pada tahu kan fungsi dari masing - masing spatulanya? Atau perlu saya buat postingan khusus tentang fungsi dari masing - masing spatula silikon ini?

2. Trusted Seller

Meski saya mencari spatula yang murah, tapi bukan berarti saya asal beli saja dan alhamdulillah saya menemukan toko yang punya statistik cukup baik, jadi saya tidak takut kalau barang yang saya beli itu tidak sesuai dengan apa yang tertulis di deskripsi produk. MIZU Living, tempat saya membeli spatula silicon ini memang punya statistik yang cukup baik dan produk – produk yang dijual pun kualitasnya oke dengan harga yang cukup terjangkau. By the way MIZU living tersedia di tokopedia dan Shopee ya, kebetulan saya melakukan transaksi pembelian di tokopedia. Link produk yang saya beli klik disini ya.

3. Pilihan warna yang beragam

Yay, zaman now alat masak emang gak gitu gitu aja. Pokoknya gak ada alasan malas masak, kalau sesekali sih boleh . Saya cukup kebingungan menentukan pilihan spatula silikon yang akan saya beli di MIZU Living karena ada beberapa pilihan warna yang super cute yaitu rainbow, black, red dan green. Karena spatula ini akan saya simpan di dapur dan supaya lebih segar suasananya maka saya pilih warna green.

4. Aman

Di kemasan produk memang tidak dijelaskan kalau spatula silikon ini sudah BPA free dan aman digunakan. Namun di keterangan produk yang ada di e - commerce tertulis bahwa spatula silikon ini BPA free. Semoga saja benar kalau spatula silikon ini aman digunakan sehari hari.

Itulah beberapa alasan saya kenapa memilih spatula silicon dari MIZU Living. Buat kalian yang punya budget lebih, masih banyak merk spatula yang harganya jauh lebih mahal dari spatula yang dijual di MIZU Living. Untuk kualitas saya belum berani sharing terlalu banyak karena ini adalah spatula silicon pertama saya, jadi saya tidak punya merk lain untuk dijadikan pembanding. So far so good sih, spatula silikonnya aman digunakan memasak, gak meleleh seperti di bayangan saya sebelumnya, Hihihih.. karena seperti tertulis di kemasan bahwa spatula silicon ini aman digunakan hingga maksimal suhu 48.

So, buat kalian yang sedang kebingungan mencari spatula silikon untuk pasangan terbaik alat masak dirumah,DIECI 10 in 1 Set Silicone by MIZU Living ini bisa jadi pilihan.


Makna "Kemerdekaan" Bagi Ibu Rumah Tangga. Ssssst, Ini Curhatku!

Sebentar lagi seluruh warga Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke - 75. HUT Kemerdekaan RI tahun sekarang mungkin akan berbeda dengan tahun  - tahun sebelumnya karena sekarang kita masih dalam kondisi pandemi. Bahkan di beberapa daerah yang tadinya berada di zona hijau sekarang berubah menjadi zona merah karena laju pertumbuhan covid - 19 semakin meningkat salah satunya yaitu di kabupaten Majalengka. Pemerintah kabupaten Majalengka pun menghimbau masyarakatnya agar tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam rangka merayakan HUT RI ke - 75, sumber resmi klik disini.

Meski tidak seperti tahun  - tahun sebelumnya yang identik dengan perayaan HUT yang meriah, namun tidak ada salahnya jika kita melakukan selebrasi bersama orang - orang terdekat saja. Banyak cara kita melakukan selebrasi tanpa harus berkerumun dengan banyak orang, cara sederhana misalnya dengan menggelar doa bersama dengan anggota keluarga dirumah untuk para pahlawan yang sudah berjuang merebut kemerdaan RI. Ngomong - ngomong soal kemerdekaan, pasti sudah familiar kan dengan kata kemerdekaan? Kemerdekaan berasal dari kata merdeka yang menurut KBBI adalah bebas, berdiri sendiri, tidak terikat, tidak bergantung pada orang lain. Makna merdeka zaman sekarang tentu saja sangat berbeda dengan merdeka pada zaman dahulu. Merdeka pada zaman dahulu adalah merdeka dari para penjajah. Sedangkan zaman sekarang makna merdeka sudah semakin meluas. Setiap orang punya caranya masing - masing untuk memaknai kemerdekaan. Berhubung saya adalah seorang ibu rumah tangga, saya akan menjelaskan makna merdeka menurut perspektif saya.

1. Merdeka itu saat bisa pergi tanpa anak
Semenjak lahir hingga sekarang anak saya berusia 2 tahun, bisa dibilang saya mengasuh anak sendirian. Kalaupun ada moment saat anak saya dipegang orang lain, mungkin hanya sekitar 20%. So, kemanapun saya pergi jika masih memungkinkan membawa anak pasti akan saya bawa. Contohnya pergi ke pasar, minimarket, pergi ke rumah teman dan lain lain. Jika tidak memungkinkan membawa anak dan tidak terlalu urgent saya memilih untuk tidak pergi. So, ketika ada kesempatan saya bisa pergi tanpa anak rasanya senang sekali meski hanya beberapa menit.

2. Merdeka itu saat bisa melakukan banyak hal tanpa diganggu anak
Yup, banyak orang yang bilang lebay ketika tahu saya sering melakukan pekerjaan rumah sambil menggendong anak. Simpelnya para netizen berkomentar, “kenapa engga nunggu anak tidur aja biar gak usah gembol anak?”. Berhubung anak saya susah sekali tidur maka mau tidak mau saya harus bisa double job, mengasuh anak sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah yang bisa saya kerjakan sebelum anak bangun tentu saja akan saya maksimalkan, tapi ada saja beberapa pekerjaan yang baru saya kerjakan setelah anak bangun dan mau tidak mau saya harus mengerjakan sambil menggendong anak. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kok. Setelah anak berusia setahunan dan mulai bisa saya biarkan bermain sendiri ( sambil tetap diawasi tentunya ). Moment – moment seperti inilah yang membuat saya masih bisa menikmati sisi “kemerdekaan” dari seorang ibu rumah tangga yang terkadang bagai terpenjara dalam sangkar emas, ciyeeee. 

3. Merdeka itu saat anak tidur cepat dan bangun siang
Sebagian ibu punya prinsip bahwa pekerjaan rumah dikerjakan sesempatnya saja, point utama adalah mengurus anak. Tapi saya justru tidak bisa berprinsip seperti itu, seperti sudah saya jelaskan pada point ke – 3 bahwa sebelum anak bangun saya harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah setidaknya 50% tapi biasanya saya sudah kerjakan sekitar 80%. Jadi ketika anak bangun saya sudah “ready” menghadapi anak yang kadang moodnya tidak sama setiap harinya. Semenjak usia 1 tahun anak saya mulai lebih “manusiawi” jam tidurnya, ya meskipun masih tergolong susah tidur siang tapi setidaknya dia bangun jam 6 - 7 pagi dan tidur jam 9 - 10 malam. Jam tersebut masih tergolong sangat normal menurutku jika dibanding dengan jam tidur sebelumnya yang tidak tentu, kadang bangun jam 4 pagi dan terus bangun seharian lalu tidur jam 6 sore. Kadang bangun jam 7 pagi, tidur jam 12 siang kemudian begadang sampai tengah malam. So, ketika anak saya bisa bangun agak siang dan tidur tidak terlalu larut saya merasa sangat MERDEKA! Selain bisa mengerjakan banyak hal tanpa diganggu anak seperti pada point 3, saya juga bisa tidur cukup dan tentunya ini sangat bermanfaat untuk kesehatan dan stamina saya. Ya ibu – ibu juga pasti tahu rasanya kalau habis begadang pasti besoknya langsung tidak enak badan dan akan merusak mood kita seharian.

4. Merdeka itu saat anak tidak rewel seharian
Ngomongin soal mood, jangankan anak kecil yang belum bisa sepenuhnya menyampaikan apa keinginannya. Kita sebagai orang dewasa pun pasti sering mengalami mood swing karena satu dan lain hal. Nah, ketika anak rewel tanpa sebab dan sudah melakukan ini itu tapi tetap rewel biasanya saya suka ikut – ikutan gak mood makan, emosi dan gak jarang saya nangis tersedu - sedu. Sebaliknya ketika anak anteng bermain, makan tanpa harus lari - lari dan tidak banyak “bertingkah” saya merasa bisa menikmati waktu saya seharian dengan begitu ringan.

Itulah beberapa makna kemerdekaan dari sudut pandang ibu rumah tangga versi saya. Tentunya bukan tanpa alasan saya berbagi mengenai hal ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan yang kerjanya 24 jam. Saking sibuknyanya kadang seorang ibu bisa lupa bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Salah satu cara mencintai diri sendiri yaitu dengan menikmati “me time” ketika moment merdeka itu datang. Setiap ibu pasti punya caranya sendiri itu mendapatkan dan menikmati “kemerdekannya”. Tapi yang pasti setiap ibu berhak mendapatkan “kemerdekaan” meski hanya beberapa menit.

Kalau kamu tipe ibu yang benar - benar kesulitan mendapatkan moment kemerdekaan, coba bicarakan dengan orang terdekat bahwa sedikitnya seminggu sekali seorang ibu yang seringnya diam dirumah saja pun perlu merasakan “kemerdekaan”.

Yuk cintai dan sayangi diri sendiri sebelum kita mencintai negeri ini, merdeka!

 


Bersepeda Setelah Jadi Ibu - Ibu, Beginilah Rasanya. Simak Yuk!

Semenjak pandemi covid - 19 dan banyak orang menghabiskan waktu untuk beraktifitas didalam rumah, maka bermunculan ide - ide kreatif untuk mengisi waktu luang dirumah salah satunya yaitu bersepeda. Bersepeda selain sebagai aktifitas mengisi waktu luang, utamanya merupakan aktifitas olahraga yang tentu saja sangat bermanfaat untuk kesehatan. Seperti dikutip dari hello sehat.com, bersepeda sangat bermanfaat untuk kesehatan salah satunya yaitu mengurangi resiko penyakit jantung. Saat pandemi covid - 19 olahraga menjadi salah satu kegiatan yang banyak dikampanyekan dalam rangka meningkatkan imun tubuh agar bisa melawan virus covid - 19. Lalu, apakah mereka yang bersepeda benar - benar bertujuan untuk olahraga atau hanya ikut ikutan trend? Semua kembali kepada pribadi masing - masing ya. Sebenarnya saya kurang tertarik dengan kegiatan bersepeda, karena memang budget saya tidak memadai heheh. Tapi, karena dirumah ada sepeda “nganggur” kenapa tidak dimanfaatkan?.

By the way sepeda itu banyak macamnya diantaranya sepeda MTB, sepeda lipat, sepeda BMX dan lain lain. Tentunya jenis sepeda yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan masing - masing. Kebetulan sepeda yang ada dirumah saya adalah sepeda Genio M541 dan tergolong sepeda MTB ( Mount To Bike ) atau lebih familiar dengan sebutan “sepeda gunung”. Mengenai jenis sepeda dan spesifikasinya tidak akan saya bahas panjang lebar ya karena saya tidak terlalu expert mengenai sepeda.

Pada tulisan kali ini saya memang tidak akan bercerita mengenai sepeda dan spesifikasinya, tapi saya akan bercerita bagaimana pengalaman saya mencoba bersepeda setelah sekian lama tidak melakukan aktifitas fisik. Semenjak hamil dan melahirkan saya memang jarang punya waktu khusus untuk berolahraga. Olahraga versi saya yaitu “ mondar - mandir “ mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus anak. Sebenarnya saya agak was - was ketika akan mencoba bersepeda, takut ngos - ngosan lah, takut gak kuat ngayuh pedal lah dan lain - lain. Apalagi track bersepeda didekat rumah saya memang banyak naik turunnya, sekalipun datar tapi jalanannya agak bergelombang. So, yuk simak pengalaman saya setelah mencoba kembali bersepeda.

1. Lelah
Sebelum mencoba kembali bersepeda, saya merasa kalau workout dirumah saja sudah cukup melelahkan. Tapi setelah mencoba bersepeda, nyatanya kegiatan bersepeda jauh lebih melelahkan. Bersepeda memang terlihat seperti “main – main”, tapi yang saya rasakan adalah badan saya “bekerja” semuanya. Paha dan betis sakit karena mengayuh pedal, ditambah nafas ngos - ngosan seperti habis lari keliling lapangan padahal cuma duduk di sadel sepeda ya kan? LOL.

2. Kesulitan menjaga keseimbangan
Sering saya mendengar istilah bahwa mengendarai motor jauh lebih mudah daripada mengendarai sepeda. Ternyata hal tersebut benar saya alami, tapi bisa saja berbeda kasus dengan orang lain yang mungkin saja sudah lebih mahir dalam bersepeda. Saya cukup kesulitan menyeimbangkan badan dan beberapa kali “oleng” apalagi ketika ada mobil besar menyalip sepeda saya. For your information, saya memang tinggal di kampung yang padat penduduk. So, ketika ingin bersepeda maka tidak ada pilihan lain tracknya adalah jalan yang sering dilalui kendaraan, bukan di lingkungan perumahan yang lebih safety sih kalau menurut saya. Ditambah lagi angin Majalengka yang khas sekali membuat saya beberapa kali turun dan menuntun sepeda saya. 
3. Malu
Saya memang sangat malu ketika pertama kali mencoba bersepeda. Rasanya dalam hati saya berfikiran kalau orang lain yang melihat akan berkata, “ ciyee ciyee sepedaan ya?”, hahaha. Sounds lebay sih, tapi itu sejujurnya yang saya rasakan. Belum lagi kalau saya kelelahan hingga akhirnya mengharuskan saya menuntun sepeda. Wahhh itu sih bukan malu, tapi malu banget.

4. Harus punya waktu khusus
Sebagai ibu rumah tangga yang mengurus semuanya sendiri, mau tidak mau prioritas utama saya adalah urusan anak dan rumah. Tapi, olahraga juga sangat penting bagi saya karena selain sangat bermanfaat untuk kesehatan juga sebagai ajang “me time”. Bersepeda memang salah satu olahraga yang bikin saya lebih refresh karena saya bisa sekalian “cuci mata” dan menghirup udara segar diluar, tapi minusnya adalah saya harus punya waktu khusus untuk bersepeda misalnya ketika anak saya tidur dan itu adalah sesuatu yang langka bagi saya. LOL


Nah, itulah beberapa hal yang saya rasakan saat pertama kali mencoba bersepeda semenjak menjadi ibu. Secara fisik tentu saja sudah berbeda dengan dulu, katanya perempuan itu kalau sudah melahirkan istilahnya sudah "turun mesin". Justru itu bukan menjadi halangan bagi kita tetap menyempatkan waktu berolahraga agar kondisi tetap prima meski usia semakin bertambah. Tapi, ketika harus memilih antara olahraga sepeda atau olahraga lainnya tentu saja saya lebih memilih olahraga lain contohnya aerobic/zumba yang bisa dilakukan didalam rumah. Next, Insyaallah saya akan share alasan saya lebih memilih olahraga didalam rumah daripada bersepeda.