Review RS Djuansih Majalengka - Semenjak menikah dan punya anak, saya merasa selalu berada di mode 'siaga'. Kalau sedang bahagia, jangan terlena dengan kebahagiaan. Contohnya beberapa waktu yang lalu, anak kedua tiba - tiba demam dan nggak mempan dengan obat bebas yang dijual di warung dekat rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkunjung ke Poli Anak RS Djuansih Majalengka.
Pengalaman Pertama Berobat di Poli Anak RS Djuansih Majalengka
Kenapa Harus RS Djuansih Majalengka?
Alasan utama saya memilih RS Djuansih Majalengka untuk berobat si bungsu yaitu karena dokter anak langganan ternyata jadwal paling pagi ada di RS Djuansih. Jika mau sabar beberapa jam, sebenarnya nggak usah jauh - jauh ke RS Djuansih karena sore hari ada jadwal di apotek AW Farma dan jaraknya lebih dekat. Namun, saya sudah lelah beberapa hari menjadi zombie dan memutuskan untuk berobat di RS Djuansih Majalengka.
Oh ya, sehari sebelumnya saya sudah berusaha menghubungi dokter umum langganan anak - anak melalui kerabatnya. Kebetulan, si bungsu sakit di hari libur dan dokter sedang tidak berada di rumah. Katanya, beliau mau pulang tetapi masih lama. Maaf, saya keburu bad mood dan nggak kefikiran untuk mencoba kesana lagi keesokan harinya. Terlebih, melihat kondisi anak yang tidak ada perubahan, tekad semakin bulat untuk pergi ke dokter anak saja.
Sebagai orang yang belum pernah berobat di RS Djuansih, saya cukup terbantu dengan adanya sosial media untuk menemukan jadwal terbaru dokter. Setelah mengetahui jadwal terbaru, saya coba daftar online di link yang tertera pada akun instagram RS Djuansih tapi selalu gagal. Baik, saya coba datang langsung saja kesana dengan harapan tidak antri terlalu banyak karena jadwalnya hanya dari jam 7 pagi sampai jam 10 pagi.
First Impression RS Djuansih Majalengka
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari Maja ke Panyingkiran, sampailah kami di RS Djuansih Majalengka. First impression, rumah sakitnya lumayan luas dan nyaman. Parkirannya sebagian besar outdoor jadi aura panasnya sangat terasa tetapi terlihat sepi dan lega. Mungkin, karena tergolong rumah sakit baru yang belum banyak pasien, parkiran pun tidak dipenuhi orang yang akan berobat maupun keluarga yang mengantar. Design bangunan terlihat 'niat' banget. Pokoknya, saya merasa nyaman dan meminimalisir aura rumah sakit yang biasanya seram serta bau obat! Hohoho
Sesampainya di lobi, kami langsung disambut hangat oleh security dan dibantu untuk mendaftar melalui mesin pendaftaran. Jujur, lumayan kaget dengan Point Coffe yang terletak di belakang mesin pendaftaran. Lebih kaget lagi ada Indomaret di dekat loket farmasi. Wkwkkwk. Benar dugaan saya, dari parkiran saja terlihat kalau orang yang di dalam rumah sakit tidak terlalu banyak. Di loket pendaftaran pun tidak perlu menunggu lama, langsung di proses dan diarahkan ke poli anak untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter anak. Sebelum menuju poli anak, saya konfirmasi kembali ke petugas pendaftaran terkait jadwal dokter anak yang dimaksud. Alhamdulillah, beliau memang sedang dinas disana. Jadinya, effort kami datang dari gunung ke kota ternyata tidak sia - sia. Hehe...
Berbiara soal rumah sakit, nggak akan lepas kaitannya dengan pelayanan. Ini testi jujur lho ya, semua pegawai baik itu bagian medis maupun non medis di RS Djuansih Majalengka benar - benar ramah. Sepertinya, karena pasien tidak terlalu banyak sehingga pelayanan pun bisa maksimal. Semoga pelayanan RS Djuansih selalu baik meskipun nanti sudah lebih banyak pasiennya.
Biaya Berobat di Poli Anak RS Djuansih Majalengka: Worth It Sesuai Fasilitas dan Pelayanan!
Sampai di poli anak, hanya menunggu 3 antrian saja. Ruang tunggunya juga sangat nyaman meskipun tidak luas. Selain itu, ada mini playground juga yang bisa bikin anak - anak lebih anteng saat menunggu antrian. Setelah menunggu tidak sampai 1 jam, akhirnya bisa bertemu dengan dokter anak langganan kami yang super ramah. Ada yang tau nggak siapa dokternya?
Selama pemeriksaan, anak saya lumayan rewel. Maklum, anak - anak kalau sakit memang begitu. Hasil diagnosa dokter tidak mengarah ke penyakit yang serius. Ya, memang demam tinggi ditambah ada radang tenggorokan yang membuat anak saya lumayan rewel selama beberapa hari. Beres pemeriksaan, perawat mengantarkan kami keluar ruangan sampai ke lobi poli anak. Good service banget deh!
Beres pemeriksaan, saya langsung menuju ke loket farmasi untuk mengambil obat. Selang beberapa menit, apotekernya menyerahkan satu lembar kertas untuk dibawa ke loket pembayaran. Kebetulan, saya memilih tidak menggunakan BPJS jadi harus melunasi pembayaran dulu sebelum resepnya diracik oleh apoteker. Jika menggunakan BPJS, biasanya tinggal duduk manis menunggu obat saja.
Loket pembayaran letaknya tidak terlalu jauh dari loket farmasi. Saya langsung bergegas kesana untuk melunasi pembayaran. Alhamdulillah, bisa bayar non tunai. Sempat was - was karena sisa cash di dompet hanya 100 ribu. Wkwkkwk. Setelah di cek, total pembayarannya adalah Rp. 574.000 untuk obat dan jasa dokter.
Bagi saya yang biasa menggunakan BPJS atau berobat di klinik lain, nominalnya memang tergolong mahal. Namun, jika dibandingkan dengan benefit yang saya rasakan, nominal tersebut sangat sepadan. Pelayanan yang oke, ruangan bersih dan nyaman serta lengkapnya fasilitas seperti indomaret, point coffe dan free wifi.
Tips Hemat Berobat di RS Djuansih Majalengka
Berdasarkan pengalaman pertama berobat di poli anak RS Djuansih Majalengka, saya akan bagikan beberapa tips hemat berobat disana. Pertama, gunakan asuransi. Ya, RS Djuansih sudah bekerja sama dengan beberapa asuransi salah satunya BPJS. Kedua, pelajari mekanisme dari asuransi yang kita punya. Setiap asuransi punya ketentuan agar bisa digunakan. Kami sekeluarga cuma punya asuransi BPJS, jadi saya akan sharing tips hemat versi BPJS.
Jika kalian pengguna BPJS dan ingin menggunakannya untuk berobat di poli RS Djuansih Majalengka, pastikan memiliki surat rujukan dari faskes tingkat pertama. Jujur, part ini lumayan sulit karena nggak semua faskes bisa langsung memberikan rujukan. Terkadang, harus periksa dulu di faskes satu, diberi obat 3 hari dan kalau tidak ada perubahan baru dirujuk ke faskes lanjutan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan prosedur tersebut, tetapi saya punya sedikit pengalaman buruk jadi agak trauma dengan faskes tingkat pertama. Pada waktu itu anak kedua saya sembelit parah dan saya ceritakan treatment apa saja yang sudah dilakukan di rumah tetapi anak masih sembelit makanya saya minta rujukan untuk ke dokter anak. Eh, malah dikasih vitamin dulu untuk 3 hari. Ah, saya sudah tidak sanggup melihat anak menangis kesakitan tiap buang air besar. Akhirnya, saya putuskan tidak jadi meminta rujukan!
Oke, kembali lagi ke soal berobat di RS Djuansih Majalengka menggunakan BPJS. Intinya, harus punya surat rujukan dulu. Sebenarnya bisa sih tanpa rujukan dan BPJS nya tetap terpakai yaitu melalui jalur IGD. Kekurangannya yaitu kita tidak bisa langsung bertemu dengan dokter yang dituju, bisa saja yang menangani adalah perawat ataupun dokter jaga. Pemanfaatan BPJS via IGD ini biasa saya pakai kalau ada di kondisi darurat. Contohnya ketika anak demam tinggi tengah malam dan bingung harus berobat kemana, better ke IGD aja dan jujur saya lebih suka memilih IGD rumah sakit dibanding IGD puskesmas walau faskes tingkat pertamanya di puskesmas.
Baiklah, sekian dulu sharing dari saya terkait pengalaman berobat di RS Djuansih Majalengka. Semoga bermanfaat!
Post a Comment for "Pengalaman Pertama Berobat di Poli Anak RS Djuansih Majalengka"