Monday, April 6, 2020

Jenis - Jenis Sambal Yang Sering Ada Di Meja Makan Kami, Kamu Suka Yang Mana?


Sebagai seorang istri dari suami yang sangat menyukai masakan rumahan, memasak sambal menjadi suatu keharusan apalagi kami orang sunda asli yang rasanya kalau makan tanpa sambal itu kurang “nendang”. 

Makan dengan menu apapun, suami saya selalu bertanya,” nyambel henteu, Yank?”. Lalu ketika saya jawab tidak, beliau membalas,”nyambel atuh, nu dadakan bae.”

Sejak awal menikah saya memang sudah tahu konsekuensinya menikah dengan laki – laki yang suka sambal. Saya pribadi pun cukup bosan jika setiap makan dengan menu sambal yang itu – itu saja. Akhirnya dengan kemampuan memasak saya yang pas – pasan, saya selalu berusaha menyajikan menu sambal yang berbeda – beda setiap kali makan apalagi saat WFH ( Work From Home ) seperti sekarang ini. Setidaknya saya harus menyajikan dua sambal yang berbeda dalam satu hari, sementara untuk sarapan saya skip sambal. Saya belajar memasak dengan otodidak, maka saya biasa membuat sambal semau saya. Ada beberapa jenis sambal yang saya lihat menunya dari cookpad atau saya dapat ilmunya dari hasil bertanya, namun tak jarang resep sambal tersebut saya modifikasi sesuai selera dan stok bahan yang tersedia.

Berikut beberapa jenis sambal yang cukup favorit di meja makan kami :

1. Sambal cengek ( cabe rawit ) matah
Sambal matah ini merupakan sambal favorit saya, kenapa? Karena sambal matah ini paling praktis dan jadi penolong saat tidak sempat masak sambal. Bahan – bahannya hanya cabe rawit, bawang putih, garam dan sedikit vetsin. Sambal cengek matah ini harus dibuat dadakan ketika akan makan dan segera habiskan karena kalau terlalu lama akan menimbulkan bau dan rasa yang kurang sedap. Sambal cengek matah ini cocok untuk berbagai lauk.

2. Sambal korek
Sedikit berbeda dengan sambal cengek matah, sambal korek ini memang tergolong sambal matah namun saat selesai diulek bisa ditambahkan minyak panas bekas menggoreng ikan atau ayam sehingga sangat terasa gurihnya. Saya pernah mencoba sambal korek dengan berbagai macam perpaduan bawang dan cabe dan yang paling pas dilidah suami saya adalah sambal korek dari cabe merah besar dan bawang putih. Untuk seasoningnya cukup dengan garam dan vetsin. Namun dibeberapa resep ada juga yang membuat sambal matah terasi, sambal matah tomat dan lain – lain. Hmmm patut dicoba!

3. Sambal matah kencur
Sambal matah kencur ini sama dengan sambal cengek matah hanya bedanya ditambahkan kencur. Menurut saya, sambal matah kencur ini cocok disajikan dengan lauk yang cukup netral rasanya misal dengan ayam goreng, ikan goreng, tahu goreng, tempe goreng serta lalab sayur karena rasa kencurnya yang cukup strong. Jika disajikan dengan menu lain seperti tumis – tumisan malah terlalu banyak rasa dan rasa khas dari kencurnya kurang terasa.

4. Sambal balado
Bahan dari sambal balado ini adalah cabe merah, bawang putih dan tomat. Ada banyak versi membuat sambal balado, tapi saya lebih suka diulek mentah dulu kemudian digoreng. Saat menggoreng tinggal tambahkan garam, vetsin, penyedap dan gula pasir agak banyak karena saya suka sambal balado yang ada manis – manisnya gitu.

5. Sambal tomat
Komposisi dari sambal tomat hampir sama dengan komposisi sambal pada umumnya, namun pada tomat ini harus dominan rasa tomatnya. Tapi jika terlalu banyak tomat juga jadi asam, biasanya saya akali dengan membuang tomat bagian dalam dan merebus sebentar tomatnya sebelum saya olah menjadi sambal tomat.

6. Sambal terasi
Bicara terasi pasti erat kaitannya dengan sambal. Ya, sambal selalu identik menggunakan terasi, padahal tidak semua sambal ada komposisi terasinya. Sambal terasi versi saya biasanya terdiri dari cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, sedikit tomat, terasi, gula merah, garam, penyedap dan vetsin. Untuk membuat sambal terasi biasanya saya memotong – motong dulu cabe, bawang dan tomat kemudian digoreng sebentar bersama terasi. Setelah digoreng barulah saya ulek, bisa langsung dimakan bisa digoreng kembali jika akan dimakan beberapa jam kemudian supaya tidak cepat bau.

7. Sambal matah Bali
Saya pertama mendapat resep ini dari cookpad dan ketika mencoba ternyata enak juga. Saya tidak tahu pasti apakah resep sambal matah ini asli dari Bali atau bukan, mohon maaf kepada masyarakat Bali apabila terjadi kesalahan. Bahan – bahan untuk membuat sambal matah bali terdiri dari cabe, bawang merah, bawang putih, tomat dan sereh. Semua bahan saya cincang kasar kemudian panaskan minyak kemudian campurkan minyak panas dengan bahan – bahan sambal tadi. Sambal matah siap disajikan dengan nasi hangat dan lauk favoritmu, yummy!

8. Sambal cumi, sambal teri, sambal tahu, sambal tempe, sambal jengkol, sambal petai
Sambal ini ada sedikit perbedaan dengan sambal – sambal lainnya yaitu ada komposisi  tambahan seperti cumi, teri, tahu, tempe, petai dan jengkol. Biasanya saya menggunakan cabe, bawang merah, bawang putih, sedikit tomat, sedikit terasi, daun jeruk dan dicampur dengan bahan – bahan yang disebut diatas sesuai selera. Bahan – bahan campuran biasanya saya goreng tanpa dibumbui terlebih dahulu kecuali petai. Untuk cumi asin dan teri biasanya  saya rendam terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa asin. Untuk sambal jenis ini suami saya bisa menghabiskan satu mangkok sambal, lho!

Nah itulah jenis – jenis sambal yang biasa saya sajikan dan termasuk sambal favorit suami saya. Sebenarnya masih banyak jenis sambal lagi yang sering saya sajikan tanpa rencana, misal karena bahan – bahannya tidak lengkap dan jadilah sambal sesuka hati. So far, suami saya selalu lahap makan dengan sambal apapun.
Mohon maaf apabila dari segi bahan atau cara pembuatan sambal kurang sesuai atau berbeda dengan yang sering dilakukan oleh ibu – ibu lainnya, saya sangat senang apabila ada yang memberikan koreksi untuk menambah wawasan saya akan sambal.


Salam ngulek!


Susi Story

Sunday, April 5, 2020

Memasak Dan Menulis Part II

Gambar hanya ilustrasi
Sebelumnya

Setali tiga uang dengan memasak, menulis juga adalah suatu proses. Tidak ada penulis hebat yang langsung bisa menerbitkan buku atau karyanya langsung dimuat dimedia cetak. Saya yakin para penulis hebat yang berhasil menulis novel, menulis cerpen atau buku – buku ilmiah pernah melewati proses pahit dikritik oleh banyak pihak. Apalagi saya yang bukan siapa – siapa ini. Seperti memasak, saya yakin setiap orang bisa menulis tapi perihal hasilnya yang baik atau tidak itulah yang perlu digaris bawahi.

Sejak SMA saya sangat suka membaca novel, cerpen dan menulis ala kadarnya sampai sering dibilang “lebay” karena terlalu menjiwai isi sebuah novel, cerpen atau tulisan yang saya baca. Selain menulis, saya sangat suka segala sesuatu yang berkaitan dengan internet hingga bisa mengantarkan saya mengikuti lomba kontes blog antar SMA dan saya KALAH. Saya benar – benar minim ilmu blogging, yang saya tahu bikin blog itu cuma add widget dan ganti warna tema. Lagi – lagi saya belajar secara otodidak bahkan hingga sekarang. Dulu, saya punya beberapa blog dengan isinya semau saya. Pada saat itu difikiran saya adalah yang penting saya nulis diblog.

Namun semenjak saya melahirkan dan berhenti bekerja, mulai terbersit dibenak saya untuk kembali meneruskan proses belajar menulis saya. Kebetulan saya punya blog pribadi, saya coba manfaatkan salah satu blog saya. Saya tinjau kembali isinya, saya hapus postingan – postingan yang “alay” menurut saya dan iseng – iseng saya ajukan untuk bergabung disalah satu jasa periklanan dan ternyata blog saya disetujui. Senang, blog saya yang apa adanya ini ternyata bisa disetujui di jasa periklalanan tersebut. Bingung, karena saya tidak tahu harus mulai melangkah dari mana dan kemana untuk bisa “panen” rupiah dari jasa periklanan tersebut.

Hingga akhirnya saya gabung di grup – grup blogger, belajar dari berbagai tutorial di web dan youtube. Ternyata dunia blogging itu berat menurut saya, tapi tentunya mudah menurut para master blogger. Menulis diblog itu tidak hanya menulis dengan kaidah penulisan yang baik dan benar tapi bagaimana caranya agar tulisan kita ramah mesin pencari dan ramai pengunjung.
Kemudian obrolan saya dengan teman yang mengantarkan saya ke grup KBM ini. Sudah sejak lama saya mengenal grup KBM ini tapi saya belum tertarik untuk gabung dan belajar disini. Namun fikiran saya terbuka semenjak mengobrol dengan teman saya tersebut. Intinya, tidak ada salahnya mencoba menulis di grup KBM sebagai media untuk belajar menulis. Tapi saat kita menulis artinya kita siap untuk di kritik. Sebagai pendatang baru di grup KBM, saya terima berbagai komentar positif dan negatif untuk proses belajar menulis saya.

Dalam hemat saya, saat proses belajar wajar sekali jika kita review ulang tulisan kita dan kita sesuaikan dengan masukan – masukan dari orang lain. Masukan – masukan dari orang lain saya anggap sebagai gambaran minat baca sehingga saya harus banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang punya nilai jual. Ya, nilai jual disini maksudnya adalah diminati banyak orang. Suatu hal yang lumrah jika dalam proses belajar ada istilah hapus sana hapus sini, edit sana edit sini, bahkan pindah haluan dari plan A ke plan B. Proses perbaikan menurut saya adalah bagian dari tanggung jawab dan challenge untuk diri sendiri bagaimana pada akhirnya kita berusaha mengikuti alur dan minat pembaca. Perbaikan adalah bagian dari pembelajaran, bukan bagian dari pembelaan. Kalau saya takut dibully karena tulisan saya, cukup saya hapus postingan atau turn off komentar dan masalah selesai. Tapi bukan itu tujuan saya, saya tidak ingin tulisan saya hanya sekedar rame dikomentari orang dan viral. Tujuan saya adalah belajar menulis, saya berusaha mencerna masukan – masukan untuk tulisan saya.

Ah, saya jadi panjang lebar menulis tentang dua hal yang masih saya pelajari yaitu memasak dan menulis. Memasak dan menulis adalah kegiatan yang sedang saya tekuni saat ini disela – sela kesibukan saya mengurus kelurarga. Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah memberikan masukan – masukan positifnya. Maaf jika tulisan ini terkesan sok bijak dan sok menggurui, saya hanya berusaha menjabarkan apa yang saya alami sebagai pemula dalam hal memasak dan menulis. Silahkan tertawa jika saya lucu seperti badut, silahkan ambil sisi positifnya jika ada hal yang baik dan jangan ambil sisi negatifnya karena saya yakin itu jauh lebih banyak. Semangat memasak dan menulis!

Salam hangat

Susi Story

Memasak Dan Menulis

Gambar hanya ilustrasi

Dulu, saya sama sekali tidak bisa memasak bahkan saat kegiatan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ), saya selalu tidak pede jika waktunya piket masak. Jangankan tahu bagaimana cara memasak suatu menu yang layak disajikan, pengetahuan saya akan bahan masakan dan bumbu – bumbunya pun sangat minim. Saya malu, sangat malu karena tidak sedikit yang menertawakan saya karena tidak tahu cara masak yang baik dan benar. Ketidakmampuan saya dalam hal memasak selalu jadi bahan olok – olokan yang terselip diantara obrolan ringan.

Semenjak itu saya bertekad untuk belajar memasak karena saya yakin setiap orang bisa memasak. Perihal masakannya enak atau tidak, layak atau tidak, disitulah point pentingnya saya harus belajar. Banyak cara belajar memasak mulai dari belajar secara otodidak, belajar dari orangtua, belajar dari buku menu atau resep yang bisa didapat secara online atau bisa kelas ikut memasak professional yang tentunya berbayar. Pada saat itu saya tidak berfikiran untuk ikut kelas memasak atau kursus tataboga karena keterbatasan biaya, bahkan sampai saat ini saya belum pernah ikut kelas memasak. Saya hanya mengandalkan kemauan saya untuk memasak. Iya, intinya saya mau masak entah itu masakannya enak atau tidak yang penting saya memasak. Lucu sih, diawal saya belajar memasak bahkan saya tidak tahu cara memasak telur dadar yang enak, saya tidak tahu takaran garam yang pas untuk sebuah telur dadar. Sering saya masak telur dadar keasinan atau hambar tidak ada rasa. Sering juga saya ditentang oleh ibu saya karena dengan belajar memasak jadinya buang – buang bahan makanan untuk trial and eror masakan saya. Berbeda dengan bapak saya yang selalu menghabiskan makanan saya bagaimanapun rasanya.

Saya sangat senang saat bapak saya selalu menghabiskan masakan saya artinya rasa masakan saya enak, meski sebenarnya saya tahu bahwa rasa masakan saya sangat aneh. Saya seperti dipaksa membohongi diri sendiri, saya dipaksa untuk berkata pada diri sendiri bahwa masakan saya enak padahal sebenarnya tidak enak. Sementara dari sikap ibu saya yang seperti merendahkan dan tidak suka dengan proses saya belajar memasak, saya jadi termotivasi untuk terus belajar. Saya jadi semakin semangat mencari – cari menu masakan untuk kemudian saya praktekkan sendiri dan akhirnya saya tahu dimana letak kesalahan saya sehingga masakan saya tidak enak.
Sekarang, saya sudah menjadi seorang istri, seorang ibu dari satu anak balita. Memasak menjadi daily routine saya apalagi suami saya pecinta masakan rumahan. Anak saya sejak awal MPASI tidak suka dengan MPASI instan sehingga saya selalu masak setiap hari untuk MPASI nya sejak masih bubur hingga sekarang sudah ikut menu keluarga. Terharu, saya yang tidak bisa masak ini ternyata sekarang bisa masak meski hanya untuk keluarga. Saya jadi tidak perlu pusing jika sewaktu – waktu anak saya minta dibuatkan suatu menu masakan atau cemilan, saya tinggal pergi ke dapur dan eksekusi. Pun saat suami saya secara mendadak akan mengadakan acara makan – makan dengan rekan kerjanya, saya tidak perlu repot mencari “tukang masak” dadakan.

Sampai disini jangan salah paham dulu, saya tidak bermaksud pamer akan kemampuan saya memasak karena kemampuan saya masih sangat pas – pasan. Menurut suami saya, saya bisa disebut pintar memasak jika sudah bisa memasak seperti “tukang masak” di hajatan. Wah, masih sangat jauh untuk sampai kesana. Sekali lagi, bukan soal pamernya tapi bagaimana saya menjelaskan bahwa proses belajar itu lebih penting daripada hasil. Tidak apa – apa kamu dibilang tidak bisa masak, masakannya aneh, masakannya bikin mual muntah dan lain – lain yang terpenting adalah bisa belajar dari kesalahan.

Friday, April 3, 2020

Menjadi Ibu Rumah Tangga Bukan Akhir Dari Segalanya


Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan. Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.  Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah… Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.  Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan.

Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.

Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah…

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.

Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

Thursday, April 2, 2020

Apa Penyebab Mual Dan Muntah Pada Anak Saya? Semoga Dokter Anak Punya Jawabannya


Apa Penyebab Mual Dan Muntah Pada Anak Saya? Semoga Dokter Anak Punya Jawabannya.


Sepulangnya dirawat di puskesmas Maja, saya belum menemukan jawaban pasti penyebab mual dan muntah pada anak saya. Sementara kondisi anak saya mulai membaik, sudah tidak demam, sudah tidak diare dan muntah – muntah, hanya saja nafsu makannya belum kembali membaik dan anak saya masih sangat lemas terlihat dari keinginannya yang hanya ingin rebahan.
Sebagai ibu saya hanya ingin anak saya mendapatkan yang terbaik, besoknya saya pun langsung membawa anak saya ke dokter anak langganan. Sesampainya di dokter anak, kami jadi pasien paling pertama dan situasi disana cukup sepi. Sehubungan dengan pandemi corona, di tempat praktek dokter anak pun ada pembatasan orang yang masuk ke tempat praktek. Jadi, hanya pasien dan pengantar pasien 1 orang yang boleh masuk ke lingkungan praktek dokter,selain itu hanya menunggu sampai apotek yang berada dilantai bawah.
Setelah dokter anak datang dan waktunya anak saya diperiksa, saya langsung menceritakan kronologis sakit anak saya dan dokter anak bilang bahwa ada masalah pada usus sehingga anak saya diberi obat untuk menormalkan kembali usus. Sementara untuk keluhan anak saya yang sering sakit tenggorokan, anak saya diberi obat batuk dan radang berbentuk puyer yang rasa pahitnya cukup strong.
Keesokan harinya anak saya mulai bisa bangun dari tidurnya, bermain dan mengobrol seperti sebelum sakit hanya saja nafsu makan belum kembali normal. Saya tidak berani bilang kalau perawatan sebelumnya kurang tepat, namun harus saya akui bahwa setelah dari dokter anak ini kondisi anak saya jauh lebih baik. Saya pun tidak bisa menyalahkan dokter atau fasilitas kesehatan manapun karena diagnosa dokter bisa saja kurang tepat dan itu manusiawi kok. Inti dari semua ini adalah kesehatan anak saya, yang penting kondisi anak saya sudah jauh lebih baik dan sekarang masih dalam masa penyembuhan.
Dalam masa penyembuhan perlu kesabaran ekstra dari seorang ibu karena jujur saja akhir – akhir ini saya jadi sering menangis dan mood naik turun melihat kondisi anak saya. But show must go on, saya harus sabar dan kuat agar bisa mengurus anak saya hingga sembuh total.
Akhirnya saya dapat pencerahan mengenai penyebab mual dan muntah pada anak saya yaitu karena adanya masalah pada usus. Sebagai ibu saya seperti ditampar berkali – kali, saya jadi disadarkan untuk lebih baik lagi dalam hal mengurus anak meskipun selama ini saya sudah berusaha memberikan yang terbaik.
Semoga pengalaman ini menjadi yang pertama dan terkahir. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi pembaca.

Hari Terakhir Anak Dirawat, Apa Diagnosa Dokter Terhadap Anak Saya?

penyebab mual dan muntah pada anak

Sebelumnya.....

Hari Senin, 30 Maret 2020 merupakan hari yang mendebarkan untuk saya karena hari ini aka nada visit dokter. Harapan saya saat ada visit dokter nanti, anak saya sudah dinyatakan sehat dan bisa pulang serta saya bisa mengetahui apa penyebab mual dan muntah pada anak saya karena saya sendiri merasa tidak pernah memberikan makanan yang baru saja dicoba oleh anak saya. Dalam arti sebelum anak saya muntah – muntah, saya memberikan makanan berat dan cemilan yang sehari – hari biasa saya sajikan. Namun jika ada kuman atau bakteri yang akhirnya membuat anak saya muntah – muntah, itu benar – benar diluar kendali saya. Sebagai seorang ibu saya berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk anak saya termasuk dari komposisi gizi dan kebersihan makanan. Tapi sekali lagi semaksimal apapun usaha saya selalu ada faktor “X” yang bisa saja tidak saya sadari, misal dari segi kebersihan anak saya sendiri. Meskipun sebagai seorang ibu saya sudah mengajarkan mengenai cara mencuci tangan yang baik apalagi ditengah pandemi corona ini, tapi saya tidak bisa mengontrol jika tiba – tiba anak saya misal ketika makan snack sambil jalan – jalan kemudian anak saya menyentuh benda yang kotor. Wallahualam.

Saat dokter datang saya langsung menjelaskan kondisi anak saya dan riwayat pengobatan yang telah diberikan karena sebelumnya anak saya diperiksakan di tempat prakteknya. Selain itu saya coba jelaskan bahwa anak saya sering mengeluh sakit tenggorokan tapi dokter hanya menjawab bahwa harus menginap satu malam lagi untuk kembali dipantau apakah demam lagi atau tidak. Tanpa fikir panjang saya langsung menolak keputusan dokter tersebut dengan alasan anak saya sudah sering rewel dan dokter pun membolehkan keinginan saya untuk bisa pulang hari ini namun sebelumnya harus menjalani tes darah dan jika hasilnya bagus maka anak saya dibolehkan pulang.

Hingga pukul 12 siang saya belum juga mendapatkan hasil tes darah anak saya kemudian saya coba tanya ke bagian IGD mengenai hasil tes darah anak saya dan setelah dicari ternyata hasil tes darahnya sudah keluar. Kemudian saya menyampaikan maksud saya ingin mengetahui hasil tes darah tersebut bagus atau tidak. Setelah hasil tes darahnya dibacakan oleh perawat yang ada di IGD bahwa hasilnya baik kemudian saya meyampaikan sekali lagi bahwa saya ingin anak saya pulang. Perawat IGD kemudian meminta waktu kepada saya untuk mengirimkan hasil tes darah via whatsapp ke dokter puskesmas yang memeriksa anak saya. Setelah beberapa lama kemudian perawat tadi memberi kabar bahwa hasil tes darah anak saya bagus dan menanyakan kembali apakah benar ingin pulang hari ini.

Bagai mendapat hadiah undiah, saya sangat senang mendengar kabar bahwa anak saya bisa pulang hari ini. Saya langsung membereskan barang – barang kedalam tas dan tidak lama perawat datang untuk membuka infusan anak saya sembari memberikan hasil tes darah anak saya. Bahkan hingga saya akan pulang saya belum mendapatkan jawaban penyebab mual dan muntah pada anak saya. Jika anak saya menginap semalam lagi apakah akan mendapatkan jawaban tersebut?

Selanjutnya....

Awalnya Mual Dan Muntah, Akhirnya Anak Saya Masuk IGD


penyebab mual dan muntah pada anak

Sebelumnya........

Setelah anak saya mendapat tindakan pemasangan infus di IGD puskesmas Maja, anak saya langsung dipindah ke ruangan anak yang sudah disiapkan oleh perawat. Ada 4 ruangan perawatan di puskesmas Maja ini yaitu ruang anak, ruang wanita, ruang laki – laki serta ruang isolasi dan masing – masing ruangan terdapat 3 bed. Alhamdulillah pada saat anak saya dirawat, ruangan anak kosong jadi saya cukup nyaman di ruang perawatan tanpa harus “berbagi” kamar mandi dengan pasien lain.

Malam Minggu tanggal 29 Maret 2020 adalah malam pertama menginap di puskesmas Maja. Sore itu anak saya langsung dijamu dengan makan sore dari puskesmas yang isinya bubur, tahu goreng, tempe goreng, tumis wortel dan buncis. Tapi karena anak saya memang sedang bermasalah dengan nafsu makan, dia hanya makan buburnya beberapa sendok saja. Malam pertama dirawat di puskesmas Maja tidak ada tambahan obat oral karena memang belum ada visit dokter, selama itu saya hanya memberikan obat yang dibawa dari rumah yang sebelumnya saya dapatkan ketika diperiksa ke dokter praktek, selengkapnya saya tulis di part I. Entah kenapa semenjak dirawat di puskesmas Maja yang tadinya hanya mengalami demam dan lemas karena tidak masuk makan dan minum tiba – tiba jadi mengeluarkan BAB dengan tekstur encer dan bau yang cukup menyengat namun setelah saya berkonsultasi dengan perawat jaga, jika frekuensi BAB nya belum sering ( bisa sampai 5x dalam jarak berdekatan ) maka anak saya belum perlu mendapatkan obat diare.

Hari Minggu tanggal 30 Maret 2020, pagi – pagi ketika bangun tidur anak saya ingin pergi keluar mungkin sudah terasa jenuh meski baru semalam menginap di puskesmas Maja. Saya ikuti kemauan anak saya yang penting dia tidak rewel. Awalnya saya sempat kaget kenapa puskesmas Maja sangat sepi, apakah karena ada pandemi corona ( Covid – 19) ? Kemudian saya baru teringat bahwa hari Minggu rawat jalan libur, pantas saja lingkungan di sekitar puskesmas Maja lumayan sepi. Ditambah lagi tidak ada makanan untuk pasien dan tidak ada petugas kebersihan yang membersihkan ruangan rawat inap di puskesmas Maja menambah rasa ketidaknyaman saya. Saya tidak tahu kenapa tidak ada makanan untuk pasien dan tidak ada petugas kebersihan dihari Minggu, mungkin libur atau mungkin bekerja tapi tidak tahu kalau ada beberapa pasien rawat inap. Dengan kondisi di puskesmas yang seperti itu saya berharap bahwa ada visit dokter di hari Minggu dan dokter menyatakan anak saya bisa pulang. Namun tanpa sengaja saya mendengar beberapa perawat berbicara bahwa seharusnya ada visit dokter di hari Minggu namun kebetulan tidak bisa hadir hari ini. Ah, saya mencoba menguatkan mental saya dan anak saya untuk tetap sabar dirawat disini karena beberapa kali anak saya merengek minta pulang.

Alhamdulillah disaat saya merasa jenuh dan lelah mengurus anak yang dirawat dirumah sakit, ada support penuh dari orangtua dan suami. Suami yang rela pulang pergi mengambil keperluan yang selalu saja kurang dan ketinggalan, orangtua yang repot mempersiapkan segala keperluan termasuk makanan untuk anak saya terlebih ketika hari Minggu tidak ada makanan dari puskesmas untuk pasien.

Minggu siang kebetulan infusan anak saya hampir habis jadi saya meminta kepada perawat jaga untuk menggantikan cairan infus dengan yang baru sembari bertanya apakah anak saya bisa pulang sore ini atau tidak. Kemudian beliau menanyakan perihal kondisi terkini anak saya dan saya menjelaskan bahwa suhu tubuh anak saya sudah turun namun BAB yang dikeluarkan masih encer dengan bau yang menyengat namun frekuensinya masih jarang dan lagi – lagi anak saya belum diberikan obat diare hanya disarankan untuk banyak minum agar tidak dehidrasi. Selain itu perawat juga menyarankan agar anak saya tetap menginap setidaknya sampai senin pagi supaya mendapatkan penanganan langsung oleh dokter apalagi anak saya masih mengeluarkan BAB dengan tekstur encer dan bau yang menyengat. Jujur, sampai saat ini saya belum bisa mengetahui apa penyebab mual dan muntah pada anak saya.

Selanjutnya....