Showing posts with label Mom And Baby. Show all posts

3 Fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel. Wajib Dibawa Kemana Aja!

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Sejak masih single, saya memang tergolong orang yang ribet. Kemana - mana harus lengkap dengan alat perang versi saya. Pokoknya saya harus tetap menemukan zona nyaman dimanapun saya berada. Termasuk urusan skincare. Kalau bepergian apalagi menginap, nggak boleh ketinggalan skincare

Namun semenjak punya anak saya merasa harus lebih ringkas ketika bepergian. Karena alat perang punya anak saja sudah segambreng. By the way, kemarin saya pergi menginap dirumah mertua. Dekat sih, masih dalam satu kota dan cukup menempuh jarak 30 menit perjalanan saja.

Oh ya, meski masih dalam satu kota tapi wilayah domisili saya dan mertua punya perbedaan cuaca yang lumayan ekstrem. Saya tinggal di daerah berhawa dingin, nggak pakai AC aja udah sejuk. Sementara mertua saya tinggal di daerah dengan hawa yang panas, maklum dekat dengan pabrik - pabrik.

Di cuaca seperti ini kulit saya biasanya kering parah, jadi wajib banget bawa pelembab untuk wajah dan tubuh. Tapiiiii... Rempong amat kalau saya harus bawa body lotion, pelembab wajah, belum night creamnya. Ehhh... Ada Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel, dong! Sebelumnya saya pernah review produk yang sama dengan varian berbeda yaitu variant tomato

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Baik variant coconut maupun variant tomato, saya benar benar merasakan kalau produk ini memang multifungsi seperti namanya, multifunction gel. Istilahnya, dalam satu produk aja bisa dipakai untuk segala keperluan. Lho, emang apa saja sih fungsi dari Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini?

1.Sebagai Pelembab Wajah

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel  yang pertama yaitu sebagai pelembab wajah. Yup, pelembab wajah sangat penting bagi saya. Bahkan lebih penting daripada make up. Mau make up sebagus dan semahal ( yaelah kan selama ini selalu beli make up murce ahahha ) apapun kalau kulit saya kering, nggak sehat, ambyar deh! Jadi, buat saya menggunakan pelembab adalah langkah awal, entah akan lanjut menggunakan make up atau cukup sampai pelembab saja. 

Sebenarnya penggunaan Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel sebagai pelembab wajah sering saya mix dengan tone up cream ( dari brand lain ). Jadi, kalau saya ingin wajah saya sedikit ter-cover ya saya pakai tone up cream karena memang Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini nggak meng-cover flek - flek hitam atau noda bekas jerawat. By the way, kalau nggak salah Citra juga punya produk tone up cream tapi saya belum coba.

Salah satu kandungan dari Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini yaitu air kelapa yang berfungsi mencerahkan dan melembabkan wajah. Untuk efek melembabkan saya setuju, bahkan bila dibandingkan dengan variant tomato, variant ini lebih memberikan efek lembab dikulit saya. Tapi, kalau klaim dari produk ini bisa mencerahkan saya sih agak ragu. Eeee… ini review jujur lho ya. Emang produk ini dikulit saya nggak mencerahkan, tapi nggak bikin kusam. Tapi, produk ini memang menghidrasi kulit saya dengan baik. Kulit saya memang jauh terasa lebih segar. Jadi, kalau ditanya mengenai fungsi produk ini sebagai pelembab wajah? Saya kasih nilai 90% deh. Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini melembabkan wajah tapi tetap ringan, nggak bikin wajah jadi berminyak lebay. Hahahah

2.Sebagai Body Lotion

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel yang kedua yaitu sebagai body lotion. Selain wajah, tubuh juga perlu pelembab lho! Apalagi saya tipe yang punya masalah cukup berat dibagian kulit tangan dan kaki. Yaahhh.. Kulit tangan dan kaki saya memang cukup kering, rentan bersisik dan pecah - pecah. Makanya body lotion nggak boleh saya skip dalam ritual harian saya. Bahkan saya bisa berkali kali apply body lotion terutama pada bagian tangan dan kaki.

Beruntungnya, produk Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini bisa digunakan di wajah dan dibadan juga, lho. Jadi, menolong banget deh ketika bepergian nggak perlu banyak banyak bawa skincare. Seperti sudah disebutkan di point pertama, bahwa Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini lebih memberikan efek melembabkan daripada mencerahkan. Saya memang lebih suka fungsinya sebagai pelembab dibanding pencerah wajah. That’s why saya lebih sering menggunakan Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel untuk body lotion.

Jadi, untuk fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel yang kedua ini saya sukaaa banget. Apalagi dengan kemasan yang besar yaitu 180 ml dan harga sangat terjangkau yaitu sekitar 20 ribuan, saya jadi nggak sayang kalau Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini cepet habis karena sering dipakai.

3.Sebagai Sleeping Mask

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel yang ketiga yaitu sebagai sleeping mask. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang menggunakan skincare sebagai sebuah kebutuhan, bukan karena saya seorang beauty blogger. Eaaaa... Saya cukup bingung membedakan night cream dengan sleeping mask. Kan sama - sama digunakan ketika tidur, ya nggak? Hihi. . Mungkin perbedaanya karena sleeping mask diapply agak banyak kali ya? Menyerupai masker gitu. Coba yang tahu perbedaan night cream dengan sleeping mask apa, boleh komen dibawah ya 

Untuk bisa merasakan manfaat Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel ini, bersihkan wajah terlebih dahulu ya. Kemudian gunakan ke seluruh wajah secara merata. Oh ya, saya pakainya lebih tebal daripada ketika menggunakan night cream. Tapi jangan berlebihan juga, secukupnya saja. 

Hasilnya? Ulalalaaaa.. Setelah semalaman menggunakan produk ini, besoknya saya langsung merasakan kulit saya lebih kenyal dan segar. Yup, sesuai dengan klaim produk yang mengandung 20x vitamin B3 dan collagen yang berfungsi membuat kulit terasa kenyal dan bercahaya.

Serius deh, saya benar benar rutin menggunakan Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel sebagai sleeping mask. Jadi, saya nggak punya stok masker wajah lain untuk saat ini karena maskeran versi saya ya dengan Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel. Kalau untuk night cream saya memang pakai dari brand lain.

fungsi citra fresh glow multifunction gel coconut

Nah, itulah 3 fungsi Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel bagi saya pribadi. Kalau ibu ibu, suka dipakai apa tuh Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel  nya? Oh ya, kalau ditanya suka nggak dengan produk Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel? Saya jawab suka, suka banget malah!

Untuk benar benar diaplikasikan sehari hari sebagai 3 fungsi sekaligus sih nggak, karena seperti sudah disebutkan diatas ada beberapa produk yang sudah rutin saya gunakan sebagai skincare. Tapi, kalau Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel sudah habis saya pasti akan repurchase, mungkin saya akan coba variant aloe vera. Pokoknya, Citra Fresh Glow Coconut Nourish UV Multifunction Gel harus selalu ada di rumah untuk jaga jaga kalau bepergian nggak usah bawa banyak skincare, cukup bawa satu produk tapi bisa mendapatkan 3 fungsi sekaligus.

Bu ibu, sudah coba variant Citra mutifunction gel yang mana nih?

Baca juga Review Citra Fresh Glow Multifunction Gel Tomato



Anak Susah Makan Nasi? Coba Resep Creamy Spagheti!

 

ANAK SUSAH MAKAN NASI? COBA RESEP CREAMY SPAGHETI

Intensitas saya share aktifitas melalui Instagram atau facebook memang tidak seintens saya share di status whatsapp. Saya merasa lebih butuh privacy aja semenjak punya anak. Masih suka kok posting di instagram atau facebook tapi saya lebih pilih pilih. Kalau untuk whatsapp saya merasa lebih bebas karena kontak yang saya save pun terbatas.

Karena sekarang saya full dirumah as ibu rumah tangga bahagia, aktifitas yang saya share kebanyakan adalah aktifitas bersama anak. Ketika saya share video atau foto anak saya yang sedang makan, banyak sekali yang berkomentar dengan memberikan pujian karena anak saya suka sayur, makannya lahap dan nggak pilih – pilih.

Alhamdulillah, anak saya memang tergolong lahap. Sayur suka, protein suka, ngemil pun hayuk. Tapi, bukan berarti saya tidak mengalami fase ketika anak susah makan atau bahasa kerennya GTM ( Gerakan Tutup Mulut ). Sebagai USA alias Urang Sunda Asli, masalah terberat susah makan anak adalah ketika anak susah makan nasi. Yay, saya yakin ibu ibu diluar sana pun merasa ketika anak susah makan nasi, akan jadi beban fikiran. Maklum lah, disini mah kalau belum makan nasi ya belum makan namanya.

Padahal ketika anak susah makan nasi, ya nggak apa – apa deh makan apa aja yang penting sumber karbohidrat  terpenuhi. Ingat, karbohidratnya ya bukan nasi nya! Wkwkwk… Ya daripada dipaksa makan nasi malah berujung nggak mau makan semua menu, kan lebih repot.

Harus Bagaimana Ketika Anak Susah Makan Nasi?

Jika fase anak susah makan nasi terjadi berkepanjangan, jujur kalau saya sih agak repot karena ya saya makan sumber karbohidrat memang dari nasi. Saya juga nggak punya pengalaman menghadapi anak susah makan nasi berkepanjangan. Karena diluar sana saya sering lho dengar anak yang susah makan nasi sejak kecil dan berlanjut sampai dewasa. Tapi jika anak sesekali menolak makan nasi, boleh disimak tips menghadapi anak yang susah makan nasi dibawah ini.

a. Jangan dipaksa

      Yup, semakin dipaksa anak akan semakin trauma. Kita sebagai orang dewasa, suka nggak kalau dipaksa – paksa? Saya yakin nggak!

b. Sounding

    Yes, sepele tapi efektif. Saya selalu sounding apapun ke anak termasuk ketika anak susah makan nasi. Saya coba jelaskan bahwa boleh lah sekarang nggak makan nasi, misal dia cuma makan lauknya saja. Tapi, besok lusa harus tetap makan nasi biar tercukupi gizinya dan sehat.

c. Cari Sumber Karbohidrat Lain

    Yuhuuu.. Sumber karbohidrat itu banyak sekali, yuk buka kembali pelajaran biologi pas sekolah. Hihihi.. Sumber karbohidrat yang paling sering saya gunakan ketika anak susah makan memang pasta diantaranya spagheti, mie dan makaroni.

d. Kreasikan Menu Makanan

    Berkreasi dengan menu makanan di era digital, nggak susah kok. Resep – resep masakan yang enak dan kekinian bisa didapat dalam satu sentuhan jari di smartphone. Tinggal kita sebagai ibu saja yang harus punya niat untuk berkreasi. Jangan sampai ketika anak susah makan nasi, eh kita pasrah aja.

Resep Creamy Spagheti

Anak susah makan nasi, coba resep creamy spagheti


Jadi, saya menemukan resep creamy spagheti ini ketika anak saya susah makan nasi di usia 15 bulanan kalau nggak salah. Mungkin lho ya, mungkin anak saya susah makan nasi karena sudah bosan setiap hari makan nasi. Hahahaha… Resep ini saya temukan iseng – iseng, berkreasi dari bahan – bahan yang ada. Yuk disimak resep creamy spagheti dibawah ini:

1. Bahan bahan

Anak susah makan nasi, coba resep creamy spagheti


a. Spagheti

b. Kornet

c. Brokoli

d. Keju

e. Bawang putih

f.      Minyak

g.      Garam dan Merica

2. Cara membuat

a. Rebus spagheti dan beri sedikit minyak goreng supaya tidak lengket. Rebus spagheti sampai  mengembang dan lunak, tapi kembali ke selera juga suka tekstur yang sperti apa.

b. Rebus brokoli dan cincang halus atau boleh dipotong sesuai selera dan kemampuan mengunyah anak.

c. Tumis bawang putih yang sudah dicincang sampai wangi.

d. Masukkan kornet lalu aduk – aduk sebentar.

e. Masukkan spagheti dan brokoli yang sudah direbus

f. Beri garam dan merica, secukupnya saja ya karena nanti akan diberi keju juga supaya tidak terlalu asin.

g. Aduk – aduk hingga merata

h. Terakhir masukkan parutan keju dan aduk hingga merata

i. Creamy spaghetti. menu andalanku ketika anak susah makan nasi, siap disajikan.

Menu creamy spagheti ini sebaiknya disajikan dalam keadaan hangat ya, seperti tahu bulat yang digoreng dadakan. Tapi, saya yakin nggak semua ibu bisa masak dadakan, karena saya pun begitu. Sudah pusing karena anak susah makan nasi, searching – searching menu, belum lagi uji coba resep. Eaaaa… Berat sekali memang beban hidup kita ibu – ibu. Hahaha…

Solusinya yaitu saya sudah siapkan bahan – bahan dipagi hari, pagi biasanya memang saya masak untuk sarapan sekalian makan siang. Di pagi hari saya sudah rebus spagheti dan brokoli. Jadi ketika akan makan di siang hari saya tinggal oseng – oseng saja. Nggak makan banyak waktu rebus spagheti. Untuk mendapatkan tekstur yang disukai anak saya, memang butuh waktu. Terkecuali, jika kita sudah masak menu nasi lengkap tapi anak menolak makan nasi. Terpaksa deh harus dadakan bikin spagheti. That’s why saya selalu masukkan spagheti ke dalam list belanja bulanan. Untuk merk spaghetinya saya selalu pakai merk La Fonte, belum pernah nyoba merk lain karena memang merk itu yang paling mudah dicari disini. By the way, saya juga pernah share resep mie untuk balita. Ini juga andalan banget lho ketika anak susah makan nasi.

Ibu – ibu, punya resep andalan lain ketika anak susah makan nasi? Share dong!


4 TIPS RUTIN BEROLAHRAGA BAGI IBU RUMAH TANGGA

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga

Sudahkah rutin berolahraga?

Apa? rutin berolahraga? Susah deh! Apalagi ibu rumah tangga yang punya balita seperti saya. Memang ya kalau ngomongin olahraga, setiap orang pasti punya persepsi yang berbeda – beda. Ada yang menganggap olahraga merupakan suatu kebutuhan, pokoknya sempat nggak sempat harus olahraga. Ada juga yang menganggap olahraga sebagai selingan, yaaa.. meski nggak rutin tapi seminggu sekali mah harus olahraga. Nah, paling parah ada juga orang yang menganggap dirinya tidak perlu olahraga. Hmmm siapakah dia? Tentu saja saya orangnya! Hahahha…

Tapi, itu dulu ya gaes. Semenjak hamil dan melahirkan saya jadi orang “rumahan” banget. Realitanya memang begitu kok, nggak mengada – ngada. Jangankan pergi ke tempat aerobic atau gym, ngurus anak dan rumah aja kayaknya sehari 24 jam masih kurang. Alhasil selain berat badan yang tidak terkontrol, badan pun jadi jompo banget! Gampang ngantuk, gampang cape. Ditambah lagi pola makan yang jauh dari kata clean.

Terus, sekarang sudah rutin berolahraga?

Sejak Desember 2019 saya memang memutuskan untuk menurunkan berat badan. Saya coba atur pola makan tanpa dibarengi olahraga. Berat badan saya memang turun pelan – pelan dengan pola makan yang lebih sehat dan clean dari sebelumnya. Setelah merasa nyaman dengan apa yang saya jalani beberapa bulan terakhir, ternyata tubuh saya nagih untuk mencoba berolahraga kembali setelah sekian lama tidak olahraga. Dengan pola hidup yang lebih sehat, lebih clean dari sebelumnya tanpa olahraga pun saya merasa jauh lebih fit, nah kenapa nggak ditambah rutin berolahraga juga ya kan? Olahraga kan nggak melulu karena lagi diet, tapi rutin berolahraga tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Setelah melewati berbagai riset dan uji coba pada diri saya sendiri, ciyeeeilah… Akhirnya saya menemukan tips bagi yang mau memulai rutin berolahraga terutama bagi kalian ibu rumah tangga, karena saya tahu betul bagaimana susahnya mengatur waktu untuk berolahraga ditengah begitu padatnya mengurus rumah dan keluarga. Tips ini tentu saja murni berdasarkan pengalaman saya pribadi. Yuk disimak tips rutin berolahraga bagi ibu rumah tangga, dibawah ini :

1.   Buat Jadwal

Sebelum memulai rutin berolahraga ada baiknya kita tentukan jadwal terlebih dahulu. Nggak usah muluk – muluk deh. Misalnya buat jadwal seminggu sekali saja, lalu lihat apakah kita bisa konsisten dengan jadwal yang kita buat sendiri? Setelah terbiasa olahraga seminggu sekali, tambahkan intensitasnya jadi seminggu 2 kali, seminggu 3 kali dan seterusnya.

Awal – awal memulai olahraga saya pun hanya olahraga sesempatnya saja. Setelah mulai terbiasa berolahraga, saya coba buat jadwal rutin olahraga seminggu sekali. Sesibuk – sibuknya saya tapi hari libur wajib olahraga karena mumpung suami ada dirumah, jadi ada yang ganti momong anak. Hehehe…

Sekarang, meski saya tidak rutin berolahraga setiap hari tapi setidaknya 3 kali dalam seminggu saya sempatkan untuk berolahraga. Waktunya pun tidak lama – lama kok, meski cuma 15 menit karena banyak gangguan domestik rumah tangga misalnya. Ya… 15 menit masih lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?

2.   Olahraga Dirumah Saja

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga


Sebelum pandemi Covid–19 saya yakin ibu rumah tangga sudah terbiasa dengan situasi #dirumahaja. Ya, situasi dan kondisi memang memaksa kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah. Meskipun pada beberapa ibu rumah tangga ada juga yang aktif bepergian keluar rumah karena urusan bisnis misalnya. Saya pribadi sih tergolong ibu rumah tangga yang total dirumah, keluar rumah jika ada keperluan seperti pergi ke pasar, minimarket, ATM dan keperluan lain yang punya urgensi cukup tinggi. Jika untuk sekedar cuci mata atau shopping, biasanya saya memilih pergi bersama suami ketika suami libur bekerja.

So, dengan kondisi saya yang lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah maka aktifitas olahraga pun harus yang bisa dilakukan didalam rumah. Olahraga lancar, urusan rumah kelar. Ada banyak pilihan olahraga yang bisa dilakukan didalam rumah misalnya yoga, aerobic, bahkan berenang kalau kalian punya kolam renang dirumahnya. Hehehheh

Pokoknya, di zaman yang sudah serba internet ini nggak ada yang susah kok! Di youtube banyak sekali video – video home workout yang mudah dilakukan dan cocok sekali bagi ibu rumah tangga yang ingin rutin berolahraga.

3. Olahraga Bersama Keluarga

Bosan berolahraga didalam rumah dan butuh suasana baru? Coba olahraga diluar rumah! Untuk olahraga diluar rumah biasanya saya melibatkan anak dan suami. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

4 Tips Rutin Berolahraga Bagi Ibu Rumah Tangga

Aktifitas olahraga yang bisa melibatkan anggota keluarga misalnya bersepeda. Saya biasanya bersepeda mengajak anak dan suami. Seperti yang terlihat dari unggahan di instagram pribadi saya diatas, kami tak hanya sekedar mengambil gambar langit yang indah. Sebenarnya kami sedang berolahraga pada saat itu, ya olahraga versi kami tentunya. Saya menggunakan sepeda sementara anak dan suami menggunakan sepeda motor, mengikuti saya dari belakang. Gimana? Seru kan? By the way, saya pernah tulis pengalaman bersepeda saya untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bersepeda disini.

Atau kalian bisa juga coba jogging bersama keluarga setiap weekend. Menghirup segarnya udara pagi bersama keluarga tercinta. Jogging merupakan salah satu jenis olahraga yang paling mudah dilakukan dan sangat murah karena tidak perlu beli alat – alat olahraga. Bahkan kalau tidak punya sepatu olahraga, jogging tanpa menggunakan alas kaki juga bagus untuk kesehatan, lho! Salah satu manfaat jogging tanpa alas kaki seperti dikutip dari situs www.bola.com yaitu sebagai refleksi dan treatment terhadap kaki, karena kaki merupakan pusat syaraf yang berhubungan dengan organ tubuh lainnya. Sehatnya dapat, quality time nya juga dapat! 

4.   Olahraga = Aktifitas Fisik

Jika kalian tergolong ibu – ibu yang super sibuk, nggak memungkinkan untuk rutin berolahraga karena saking sibuknya. Coba deh perbanyak aktifitas fisik. Ya, di zaman now yang sudah semakin canggih ini tak dipungkiri bahwa kita banyak terbantu oleh teknologi terutama dalam urusan pekerjaan rumah tangga yang konon tak habisnya.

Kalau dulu, mencuci baju harus capek – capek pakai tangan. Belum lagi cuciannya segunung, aduh! Tapi sekarang cukup satu sentuhan tangan karena mesin cuci yang mengerjakannya, betul, nggak? Padahal dengan menggerakkan tangan untuk mencuci baju, setidaknya sekian kalori terbakar. Lumayan kan daripada mager everyday?

Saat ini, saya sedang asyik pergi ke pasar jalan kaki. Hehehe.. Seru aja gitu, selain nambah – nambah aktifitas fisik saya juga sekalian me time saya sebagai seorang ibu yang sehari – harinya hanya dirumah saja. Biasanya saya ke pasar setelah subuh, kebetulan suami masih WFH jadi bisa saya titipi anak ketika saya pergi ke pasar.

Memang sih waktu kita jadi banyak tersita, tapi ya kenapa nggak jika tersita untuk hal yang positif?

Itulah tips rutin berolahraga terutama bagi ibu rumah tangga yang sering bersembunyi dibalik kalimat “nggak ada waktu. Heheheh… Tidak ada kebiasaan yang bisa dibentuk dalam satu dua hari, termasuk membentuk kebiasaan baik rutin berolahraga. Tentunya, kesibukkan setiap ibu berbeda – beda. Jadi, tips rutin berolahraga ala saya ini belum tentu cocok bagi ibu lainnya diluar sana. Tapi jika tips ini dirasa cocok dan bermanfaat, silahkan dicoba ya!

Review Diaper Bag By Oruru. Diaper Bag Terbaik Versi Mamah Anggun!

Ketika akan melahirkan pada tahun 2018, sebagai seorang ibu baru tentunya saya sangat antusias mempersiapkan segala sesuatu keperluan calon bayi saya. Saking antusiasnya saya sudah semangat belanja perlengkapan bayi dari usia kehamilan masih muda, tapi kata orangtua disini pamali jika mempersiapkan keperluan bayi terlalu dini. Jadi, harus menunggu usia kehamilan 7 bulan ke atas boleh nyicil beli perlengkapan bayi.

Entah mitos atau fakta mengenai hal tersebut, tapi saya manut saja dengan pepatah orangtua yang lebih senior. Hingga waktunya saya berbelanja perlengkapan bayi, saya membuat list apa saja yang akan dibeli. Namun sayangnya ada satu barang yang menurut saya cukup penting tapi saya tidak masukkan list, yaitu diaper bag! Pikir saya, baru melahirkan mau kemana coba? Ternyata dugaan saya salah! Justru ketika masih bayi, kita pasti akan sering bolak balik ke bidan atau dokter untuk imunisasi. Dan yang namanya bawa bayi, pasti deh bawaannya segambreng! LOL.

Sebenarnya, ada beberapa diaper bag yang saya dapat dari kado tapi kurang sreg aja. Akhirnya saya beli lagi ke salah satu grosir yang ada di Majalengka, waktu itu saya beli diaper bag model selempang. Untuk pergi sebentar dan tidak terlalu bawa banyak barang, diaper bag kecil pun sudah cukup. Tapi ketika akan bepergian agak jauh lama, saya butuh diaper bag model ransel. Selain muat banyak, tentunya supaya lebih nyaman dibawa.

Dalam proses pencarian diaper bag terbaik versi saya, ya karena setiap orang punya standar nyaman yang berbeda – beda bukan? Saya menemukan banyak diaper bag yang harganya cukup terjangkau yaitu sekitar 200 ribuan dengan model yang lucu – lucu, tapi ketika melihat reviewnya ada beberapa yang mengeluhkan kalau tali tasnya cepat rusak dan putus. Wajar sih, namanya juga diaper bag. Isi tasnya pasti banyak banget, makanya saya perlu teliti untuk mencari diaper bag yang gak cuma lucu tapi juga kuat dan awet.

Sampai akhirnya saya menemukan diaper bag merk Oruru di shopee, link tokonya disini, untuk akun instagramnya bisa cek disini. Huaaaa, modelnya banyak, motifnya lucu - lucu.! Meskipun diaper bagnya bermotif, tapi motifnya gak pasaran deh. Karena saya butuh diaper bag dengan kapasitas yang cukup besar, akhirnya saya memutuskan memilih oruru diaper bag series cube yang motif owl. Sebenarnya saya pengen beli yang polos supaya lebih aman aja dipakai suami, tapi waktu itu ready yang motif saja. Yuk, simak lebih detail mengenai oruru diaper bag dibawah ini.

1.       Bahan dan ukuran

Oruru bag cube series ini terbuat dari bahan microfabric polyester dengan ukuran 30 cm x 20 cm x 45 cm. Wow, besar banget kan ya? Yas, memang besar. Buat kalian yang cari diaper bag size kecil, oruru bag cube series ini memang kurang cocok. Bentuk dari tas ini memang agak bulky, sesuai namanya yaitu cube. Mungkin buat kalian yang punya postur tubuh imut imut, diaper bag ini terkesan kegedean. Karena saya dan suami punya postur badan agak besar, jadi saya masih merasa cocok ( iyain aja yak? LOL ) dengan oruru diaper bag cube series ini. By the way saya kurang tahu apakah Oruru diaper bag ini waterproof atau tidak, tapi kalau cuma kena hujan gerimis dikit - dikit sih masih aman.

2.       Motif

Oruru diaper bag ini punya banyak motif dan warna, saya pilih motif dan warna yang cukup netral yaitu motif owl warna navy. Harapan saya diaper bag ini bisa awet turun temurun sampai anak selanjutnya, hahahah…

3.       Kapasitas

Ngomongin kapasitas, ini nih yang paling saya suka. Oruru diaper bag ini memang cocok buat kalian yang pengen segala dimasukin ke diaper bag pas bepergian. Ada beberapa  orang yang memilih bawa tas kecil aja, kan? Ibaratnya gak apa - apa nambah bawaan kresek dijinjing. Nah, kalau saya tipe yang pengen semua bruk jadi satu dalam satu tempat. Selain ukuran dari tasnya yang besar sehingga bisa muat banyak, didalamnya pun terdapat banyak sekat jadi kalau bawa printilan yang kecil kecil gitu, aman deh gak berceceran! Selengkapnya ada di video dibawah ini ya.


4.       Harga

Untuk urusan harga, bener - bener worth to buy deh! Diaper bag dengan kapasitas besar dan model gak pasaran ini cuma dibandrol kurang dari 300ribuan ( harga tepatnya saya lupa lagi, kebetulan saya beli ketika anak saya baru lahir dan sekarang anak saya sudah berusia 2,5 tahun ).

5.       Kualitas

Awalnya saya sempat ragu dengan kualitas diaper bag dari Oruru ini. Tapi setelah saya pakai diaper bag ini selama 2 tahun lebih, saya bisa menilai sendiri kualitas dari Oruru diaper bag yang oke punya. Talinya masih kuat padahal bawaan saya selalu banyak dan selalu saya pakai ketika bepergian, resleting tas masih berfungsi semua, sementara untuk warna dari tas itu sendiri memang agak pudar tapi tidak terlalu terlihat.

Sampai sekarang saya masih suka pakai diaper bag kemana – mana, lebih praktis aja meski secara fashion mungkin kurang girly gitu. Bahkan tas fashion ( eh bener gak sih namanya?), malah tersimpan rapi dilemari.

Ada yang samaan masih suka pake diaper bag meski anak sudah besar?

Jadi Ibu Rumah Tangga Yang Produktif? Semuanya Gak Melulu Soal Uang, Kok!

“Jadi ibu rumah tangga itu harus pinter cari duit jangan cuma bisa ngandelin suami!”
“ Jadi ibu rumah tangga itu harus bisa memanfaatkan waktu luang menjadi uang.”
“ Jadi ibu rumah tangga itu jangan hanya cantik dan bisa masak tapi harus bisa juga cari uang.”

Dan masih banyak lagi jargon - jargon yang biasa ditulis oleh ibu milenial di sosial media, entah itu memang curhatan pribadi atau untuk keperluan promosi produk/bisnis agar menarik perhatian. Yay, dari jargon - jargon diatas saya menyimpulkan bahwa produktif itu harus menghasilkan uang. Setuju gak, sih?

Sebagai ibu - ibu yang matre, iya saya matre ( pada tempatnya ). Tidak bisa pungkiri bahwa semua yang kita butuhkan itu harus dibeli dengan uang terkecuali kasih sayang. Eaaaa… Apalagi sebagai seseorang yang sudah fighter sejak zaman kuliah, saya paham betul bagaimana susahnya hidup ini kalau tidak punya banyak uang. Saya bukanlah dari keluarga berada tapi punya tekad besar untuk mengenyam pendidikan. Biaya dari orangtua yang hanya cukup untuk keperluan pokok saja, untuk menutupi biaya lain – lain atau sekedar memenuhi keinginan sendiri saya jadi penjual online serabutan. Zaman dulu di sekitar tahun 2010, penjual online yang berjualan di sosial media belum sebanyak sekarang. Setelah lulus kuliah saya langsung bekerja dan resign ketika akan melahirkan.

Ketika akan melahirkan, perasaan saya rasanya campur aduk. Bahagia karena akan punya anak dan akan mengasuh serta membesarkannya dengan tangan sendiri, bingung karena saya akan menjadi ibu rumah tangga sejati yang artinya saya hanya akan menikmati uang hasil jerih payah suami bukan hasil jerih payah sendiri. Meski suami saya sangat baik, tapi saya sering merasa “tidak enak” jika harus meminta uang untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya ketika masih bekerja saya punya bisnis sampingan yang hasilnya lumayan, istilahnya bisa nambah – nambah buat beli pulsa. Tapi saya mulai kehilangan mood ketika akan melahirkan, setelah melahirkan lebih parah lagi. Rasanya bisa mandi dan keramas dengan tenang pun sudah alhamdulillah.

Hari demi hari berlalu, saya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengasuh anak, beres – beres rumah, nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika dan berbagai pekerjaan domestik lainnya.  Sering sekali saya merasa jenuh dengan hari – hari saya yang cuma gitu doang, nothing special. Belum lagi omongan orang – orang yang sangat menyayangkan status sarjana saya tidak bisa membeli karir yang cemerlang didunia kerja. Fyuhhhh… sudah jenuh, stress pula!

Oke.. oke.. sampai sini mindset saya masih sama dengan orang – orang bahwa produktif haruslah menghasilkan uang. Anak semakin tumbuh besar, tapi saya hanya menjadi manusia yang gitu – gitu aja. Pernah saya coba melamar pekerjaan, tapi mencari pekerjaan yang cocok dengan status saya sebagai ibu rumah tangga yang masih punya anak kecil memang tidak gampang. 

Lelah mencari pekerjaan yang cocok tapi tak kunjung ketemu, saya coba peruntungan dengan berjualan baju anak murah. Respon pasar gimana tuh? Alhamdulillah laris manis bak kacang goreng, tapi kendalanya di modal. Saya yang pada waktu itu mengandalkan modal dari pencairan BPJS ketenagakerjaan merasa belum siap harus mengalokasikan seluruh uang hasil pencairan tadi untuk berjualan baju anak. Sementara yang namanya jualan baju itu modalnya lumayan besar dengan keuntungan yang tidak seberapa. Belum lagi barang reject, retur, motif tidak sesuai dan lain – lain. Meski baju yang dijual itu tidak akan busuk seperti makanan tapi kan namanya trend fashion perubahannya cepat sekali kan? Ah, mungkin saya belum punya mental pengusaha!

Akhirnya saya pasrah dengan nasib dan takdir saya menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjalankan pekerjaan domestik yang biasa saya lakukan sehari – hari. Hingga pada suatu hari saya tertegun dengan ucapan suami saya yang katanya saya harus tetap produktif, sekalipun bukan uang yang menjadi hasilnya. Kalaupun materi tidak bisa kita dapatkan tapi setidaknya pahala dan kebaikan bisa kita berikan untuk bekal nanti. Aduh, saya kemana aja nih baru tersadar sekarang? Hahahaha…

Saya jadi teringat dengan perjuangan suami saya sebagai guru honorer yang mesti kerja serabutan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan saya tidak bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang guru, tapi saya hanya kasihan melihat dia yang harus mengajar juga bekerja serabutan. Sempat saya menyarankan untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan terutama dari segi finansial. Tapi suami saya tetap dengan pendiriannya, menjadi seorang guru sambil bekerja sampingan. Menurutnya mengajar adalah bagian dari mengamalkan ilmu.

Hingga pada akhirnya suami saya mencoba mengikuti test CPNS di Kementrian Agama Jawa Barat pada akhir tahun 2018 dan alhamdulillah lolos. Saya tidak bilang bahwa menjadi ASN adalah goal dari perjalanan hidup, justru disinilah perjalanan kami dimulai kembali dari nol. Namun tidak dipungkiri bahwa menjadi ASN adalah salah satu pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Jadi, sekarang dirumah ngapain aja dong?!

Ya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sejati, dong! Sama saja seperti hari – hari sebelumnya. Tapi sekarang saya menjalaninya dengan lebih ikhlas, legowo, gak ada tuh perasaan insecure atau merasa jadi manusia yang sia – sia gitu. Memang sih semuanya berawal dari mindset kita, ketika mindset kita positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif pula begitupun sebaliknya. Di sela – sela waktu luang saya juga sempatkan untuk menulis di blog yang sudah saya buat sejak lama. 

Jujur, sebelumnya saya sempat ingin menjadikan blog ini sebagai ladang penghasilan saya. Yaaa.. itung – itung kerja dirumah gitu. Kebetulan blog saya ini juga sudah diterima google adsense. Mungkin loh ya ini mungkin.. karena saya memulainya tidak enjoy, tidak ikhlas dan terlalu profit oriented. Akhirnya malah saya jadi jarang posting sama sekali, paling sebulan sekali itu pun tulisannya acak – acakan ( eh sekarang pun tulisanku belum bagus, sih. Ehehehe ). Ditambah lagi hubungan dengan anak jadi kurang baik, sering saya menyalahkan anak saya yang susah tidur atas tidak terurusnya blog saya ini. Aduh… maafkan mamahmu ya, Nak! 

Lalu, saya jadi teringat juga chat pribadi dengan mak Lasmicika, salah satu member komunitas KEB ( Kumpulan Emak Blogger ). Waktu itu saya cerita kalau saya banyak buang waktu dalam dunia blogging. Saya sudah lama ngeblog tapi cukup kesulitan mengatur waktu untuk menulis, apalagi setelah punya anak karena anak saya tipe yang susah tidur. Kalau malam harus begadang untuk menulis, saya juga butuh istirahat karena melelahkan mengurus anak seharian sambil mengurus pekerjaan rumah. Jawaban Mak Lasmi ternyata begitu menampar saya, katanya bahwa tidak ada yang terlambat dan ngurus si kecil pun effortsnya luar biasa. Dalam hidup memang selalu ada yang di prioritaskan. Ah, peluk jauh untuk Mak Lasmi. Semoga saya bisa terus belajar menulis tanpa mengesampingkan urusan keluarga.

Intinya, menjadi ibu rumah tangga yang punya bisnis sampingan atau sambil bekerja adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dapat pahala dari mengurus keluarga, dapat gaji atau penghasilan juga iya. Tapi, bukan berarti ibu rumah tangga yang hanya mengurus pekerjaan rumah tangga jadi disebut “gak produktif”. Dengan kita berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus anak, mengurus suami, beribadah dan lain – lain itu juga merupakan kegiatan produktif kan? Pokoknya jangan pernah deh memandang orang lain dengan kacamata sendiri begitupun sebaliknya. Setiap rumah tangga itu punya jalan rezekinya masing – masing. Ada yang rezekinya melalui suami dan istri yang sama – sama bekerja, ada yang rezekinya hanya melalui suaminya saja bahkan banyak juga loh istri yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Dalam hal ini tentu saja perlu sosok suami yang bisa jadi support system terbaik bagi istrinya. 

Boleh saja seorang suami mendambakan istrinya bisa lebih produktif dari sekedar mengerjakan urusan domestik rumah tangga, tapi ya harus disupport sebaik mungkin. Bantu istri untuk mendapatkan suasana kondusif dalam rumah, misal ketika libur bekerja coba ajak anak keluar rumah supaya istri bisa mengerjakan “sesuatu” dirumah. Dan suami pun harus ingat ketika istri bekerja, entah itu didalam maupun diluar rumah kemudian mendapatkan penghasilan, tidak akan melunturkan kewajibannya dalam menafkahi loh! Jadi, kalaupun istri produktif dari dalam rumah pada intinya adalah untuk pengembangan dirinya sendiri.

" Saya memang gagal menjadi sarjana yang punya karya, saya gagal juga melanjutkan karir di dunia kerja, tapi saya tidak mau gagal menjadi ibu rumah tangga "

Makna "Kemerdekaan" Bagi Ibu Rumah Tangga. Ssssst, Ini Curhatku!

Sebentar lagi seluruh warga Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke - 75. HUT Kemerdekaan RI tahun sekarang mungkin akan berbeda dengan tahun  - tahun sebelumnya karena sekarang kita masih dalam kondisi pandemi. Bahkan di beberapa daerah yang tadinya berada di zona hijau sekarang berubah menjadi zona merah karena laju pertumbuhan covid - 19 semakin meningkat salah satunya yaitu di kabupaten Majalengka. Pemerintah kabupaten Majalengka pun menghimbau masyarakatnya agar tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam rangka merayakan HUT RI ke - 75, sumber resmi klik disini.

Meski tidak seperti tahun  - tahun sebelumnya yang identik dengan perayaan HUT yang meriah, namun tidak ada salahnya jika kita melakukan selebrasi bersama orang - orang terdekat saja. Banyak cara kita melakukan selebrasi tanpa harus berkerumun dengan banyak orang, cara sederhana misalnya dengan menggelar doa bersama dengan anggota keluarga dirumah untuk para pahlawan yang sudah berjuang merebut kemerdaan RI. Ngomong - ngomong soal kemerdekaan, pasti sudah familiar kan dengan kata kemerdekaan? Kemerdekaan berasal dari kata merdeka yang menurut KBBI adalah bebas, berdiri sendiri, tidak terikat, tidak bergantung pada orang lain. Makna merdeka zaman sekarang tentu saja sangat berbeda dengan merdeka pada zaman dahulu. Merdeka pada zaman dahulu adalah merdeka dari para penjajah. Sedangkan zaman sekarang makna merdeka sudah semakin meluas. Setiap orang punya caranya masing - masing untuk memaknai kemerdekaan. Berhubung saya adalah seorang ibu rumah tangga, saya akan menjelaskan makna merdeka menurut perspektif saya.

1. Merdeka itu saat bisa pergi tanpa anak
Semenjak lahir hingga sekarang anak saya berusia 2 tahun, bisa dibilang saya mengasuh anak sendirian. Kalaupun ada moment saat anak saya dipegang orang lain, mungkin hanya sekitar 20%. So, kemanapun saya pergi jika masih memungkinkan membawa anak pasti akan saya bawa. Contohnya pergi ke pasar, minimarket, pergi ke rumah teman dan lain lain. Jika tidak memungkinkan membawa anak dan tidak terlalu urgent saya memilih untuk tidak pergi. So, ketika ada kesempatan saya bisa pergi tanpa anak rasanya senang sekali meski hanya beberapa menit.

2. Merdeka itu saat bisa melakukan banyak hal tanpa diganggu anak
Yup, banyak orang yang bilang lebay ketika tahu saya sering melakukan pekerjaan rumah sambil menggendong anak. Simpelnya para netizen berkomentar, “kenapa engga nunggu anak tidur aja biar gak usah gembol anak?”. Berhubung anak saya susah sekali tidur maka mau tidak mau saya harus bisa double job, mengasuh anak sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah yang bisa saya kerjakan sebelum anak bangun tentu saja akan saya maksimalkan, tapi ada saja beberapa pekerjaan yang baru saya kerjakan setelah anak bangun dan mau tidak mau saya harus mengerjakan sambil menggendong anak. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, kok. Setelah anak berusia setahunan dan mulai bisa saya biarkan bermain sendiri ( sambil tetap diawasi tentunya ). Moment – moment seperti inilah yang membuat saya masih bisa menikmati sisi “kemerdekaan” dari seorang ibu rumah tangga yang terkadang bagai terpenjara dalam sangkar emas, ciyeeee. 

3. Merdeka itu saat anak tidur cepat dan bangun siang
Sebagian ibu punya prinsip bahwa pekerjaan rumah dikerjakan sesempatnya saja, point utama adalah mengurus anak. Tapi saya justru tidak bisa berprinsip seperti itu, seperti sudah saya jelaskan pada point ke – 3 bahwa sebelum anak bangun saya harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah setidaknya 50% tapi biasanya saya sudah kerjakan sekitar 80%. Jadi ketika anak bangun saya sudah “ready” menghadapi anak yang kadang moodnya tidak sama setiap harinya. Semenjak usia 1 tahun anak saya mulai lebih “manusiawi” jam tidurnya, ya meskipun masih tergolong susah tidur siang tapi setidaknya dia bangun jam 6 - 7 pagi dan tidur jam 9 - 10 malam. Jam tersebut masih tergolong sangat normal menurutku jika dibanding dengan jam tidur sebelumnya yang tidak tentu, kadang bangun jam 4 pagi dan terus bangun seharian lalu tidur jam 6 sore. Kadang bangun jam 7 pagi, tidur jam 12 siang kemudian begadang sampai tengah malam. So, ketika anak saya bisa bangun agak siang dan tidur tidak terlalu larut saya merasa sangat MERDEKA! Selain bisa mengerjakan banyak hal tanpa diganggu anak seperti pada point 3, saya juga bisa tidur cukup dan tentunya ini sangat bermanfaat untuk kesehatan dan stamina saya. Ya ibu – ibu juga pasti tahu rasanya kalau habis begadang pasti besoknya langsung tidak enak badan dan akan merusak mood kita seharian.

4. Merdeka itu saat anak tidak rewel seharian
Ngomongin soal mood, jangankan anak kecil yang belum bisa sepenuhnya menyampaikan apa keinginannya. Kita sebagai orang dewasa pun pasti sering mengalami mood swing karena satu dan lain hal. Nah, ketika anak rewel tanpa sebab dan sudah melakukan ini itu tapi tetap rewel biasanya saya suka ikut – ikutan gak mood makan, emosi dan gak jarang saya nangis tersedu - sedu. Sebaliknya ketika anak anteng bermain, makan tanpa harus lari - lari dan tidak banyak “bertingkah” saya merasa bisa menikmati waktu saya seharian dengan begitu ringan.

Itulah beberapa makna kemerdekaan dari sudut pandang ibu rumah tangga versi saya. Tentunya bukan tanpa alasan saya berbagi mengenai hal ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan yang kerjanya 24 jam. Saking sibuknyanya kadang seorang ibu bisa lupa bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Salah satu cara mencintai diri sendiri yaitu dengan menikmati “me time” ketika moment merdeka itu datang. Setiap ibu pasti punya caranya sendiri itu mendapatkan dan menikmati “kemerdekannya”. Tapi yang pasti setiap ibu berhak mendapatkan “kemerdekaan” meski hanya beberapa menit.

Kalau kamu tipe ibu yang benar - benar kesulitan mendapatkan moment kemerdekaan, coba bicarakan dengan orang terdekat bahwa sedikitnya seminggu sekali seorang ibu yang seringnya diam dirumah saja pun perlu merasakan “kemerdekaan”.

Yuk cintai dan sayangi diri sendiri sebelum kita mencintai negeri ini, merdeka!

 


Bersepeda Setelah Jadi Ibu - Ibu, Beginilah Rasanya. Simak Yuk!

Semenjak pandemi covid - 19 dan banyak orang menghabiskan waktu untuk beraktifitas didalam rumah, maka bermunculan ide - ide kreatif untuk mengisi waktu luang dirumah salah satunya yaitu bersepeda. Bersepeda selain sebagai aktifitas mengisi waktu luang, utamanya merupakan aktifitas olahraga yang tentu saja sangat bermanfaat untuk kesehatan. Seperti dikutip dari hello sehat.com, bersepeda sangat bermanfaat untuk kesehatan salah satunya yaitu mengurangi resiko penyakit jantung. Saat pandemi covid - 19 olahraga menjadi salah satu kegiatan yang banyak dikampanyekan dalam rangka meningkatkan imun tubuh agar bisa melawan virus covid - 19. Lalu, apakah mereka yang bersepeda benar - benar bertujuan untuk olahraga atau hanya ikut ikutan trend? Semua kembali kepada pribadi masing - masing ya. Sebenarnya saya kurang tertarik dengan kegiatan bersepeda, karena memang budget saya tidak memadai heheh. Tapi, karena dirumah ada sepeda “nganggur” kenapa tidak dimanfaatkan?.

By the way sepeda itu banyak macamnya diantaranya sepeda MTB, sepeda lipat, sepeda BMX dan lain lain. Tentunya jenis sepeda yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan masing - masing. Kebetulan sepeda yang ada dirumah saya adalah sepeda Genio M541 dan tergolong sepeda MTB ( Mount To Bike ) atau lebih familiar dengan sebutan “sepeda gunung”. Mengenai jenis sepeda dan spesifikasinya tidak akan saya bahas panjang lebar ya karena saya tidak terlalu expert mengenai sepeda.

Pada tulisan kali ini saya memang tidak akan bercerita mengenai sepeda dan spesifikasinya, tapi saya akan bercerita bagaimana pengalaman saya mencoba bersepeda setelah sekian lama tidak melakukan aktifitas fisik. Semenjak hamil dan melahirkan saya memang jarang punya waktu khusus untuk berolahraga. Olahraga versi saya yaitu “ mondar - mandir “ mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengurus anak. Sebenarnya saya agak was - was ketika akan mencoba bersepeda, takut ngos - ngosan lah, takut gak kuat ngayuh pedal lah dan lain - lain. Apalagi track bersepeda didekat rumah saya memang banyak naik turunnya, sekalipun datar tapi jalanannya agak bergelombang. So, yuk simak pengalaman saya setelah mencoba kembali bersepeda.

1. Lelah
Sebelum mencoba kembali bersepeda, saya merasa kalau workout dirumah saja sudah cukup melelahkan. Tapi setelah mencoba bersepeda, nyatanya kegiatan bersepeda jauh lebih melelahkan. Bersepeda memang terlihat seperti “main – main”, tapi yang saya rasakan adalah badan saya “bekerja” semuanya. Paha dan betis sakit karena mengayuh pedal, ditambah nafas ngos - ngosan seperti habis lari keliling lapangan padahal cuma duduk di sadel sepeda ya kan? LOL.

2. Kesulitan menjaga keseimbangan
Sering saya mendengar istilah bahwa mengendarai motor jauh lebih mudah daripada mengendarai sepeda. Ternyata hal tersebut benar saya alami, tapi bisa saja berbeda kasus dengan orang lain yang mungkin saja sudah lebih mahir dalam bersepeda. Saya cukup kesulitan menyeimbangkan badan dan beberapa kali “oleng” apalagi ketika ada mobil besar menyalip sepeda saya. For your information, saya memang tinggal di kampung yang padat penduduk. So, ketika ingin bersepeda maka tidak ada pilihan lain tracknya adalah jalan yang sering dilalui kendaraan, bukan di lingkungan perumahan yang lebih safety sih kalau menurut saya. Ditambah lagi angin Majalengka yang khas sekali membuat saya beberapa kali turun dan menuntun sepeda saya. 
3. Malu
Saya memang sangat malu ketika pertama kali mencoba bersepeda. Rasanya dalam hati saya berfikiran kalau orang lain yang melihat akan berkata, “ ciyee ciyee sepedaan ya?”, hahaha. Sounds lebay sih, tapi itu sejujurnya yang saya rasakan. Belum lagi kalau saya kelelahan hingga akhirnya mengharuskan saya menuntun sepeda. Wahhh itu sih bukan malu, tapi malu banget.

4. Harus punya waktu khusus
Sebagai ibu rumah tangga yang mengurus semuanya sendiri, mau tidak mau prioritas utama saya adalah urusan anak dan rumah. Tapi, olahraga juga sangat penting bagi saya karena selain sangat bermanfaat untuk kesehatan juga sebagai ajang “me time”. Bersepeda memang salah satu olahraga yang bikin saya lebih refresh karena saya bisa sekalian “cuci mata” dan menghirup udara segar diluar, tapi minusnya adalah saya harus punya waktu khusus untuk bersepeda misalnya ketika anak saya tidur dan itu adalah sesuatu yang langka bagi saya. LOL


Nah, itulah beberapa hal yang saya rasakan saat pertama kali mencoba bersepeda semenjak menjadi ibu. Secara fisik tentu saja sudah berbeda dengan dulu, katanya perempuan itu kalau sudah melahirkan istilahnya sudah "turun mesin". Justru itu bukan menjadi halangan bagi kita tetap menyempatkan waktu berolahraga agar kondisi tetap prima meski usia semakin bertambah. Tapi, ketika harus memilih antara olahraga sepeda atau olahraga lainnya tentu saja saya lebih memilih olahraga lain contohnya aerobic/zumba yang bisa dilakukan didalam rumah. Next, Insyaallah saya akan share alasan saya lebih memilih olahraga didalam rumah daripada bersepeda.

 

Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini. Let's Read, Baby!

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Membaca adalah membuka jendela dunia. Membaca membantu saya menemukan banyak hal yang tidak terjangkau oleh tangan dan pandangan mata. Kalau membaca membukakan jendela dunia, maka buku adalah dunia yang penuh cerita. Ya, saya bisa menemukan apapun dari buku yang saya baca.

Saya bukanlah orang yang tergolong "kutu buku", bahkan saya tidak punya ribuan koleksi buku. Saya hanya punya beberapa koleksi buku dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menghabiskan satu buku untuk saya baca. Tapi, dibanding aktifitas lainnya seperti mendengarkan musik, menonton film dan lainnya, membaca adalah aktifitas yang paling sering saya lakukan. Selain membaca, saya juga suka menulis. Saya mulai “mengakui” hobi saya menulis sejak SMA. Untuk bisa menulis banyak, maka saya harus membaca lebih banyak.

Meski saya belum menjadi “apa – apa” karena membaca, tapi saya ingin anak saya punya hobi yang sama. Toh hobi membaca bukanlah sesuatu yang merepotkan, kan? Justru hampir sebagian besar aktifitas kita sehari – hari melibatkan kegiatan membaca. Mulai dari membaca pelajaran di sekolah, membaca resep masakan di aplikasi, membaca berita di koran bahkan membaca chatting di layar handphone.

Jadi, saya menaruh harapan besar kepada anak saya agar bisa menerapkan budaya membaca dalam kehidupan sehari - hari dan punya minat baca tinggi melebihi minat baca saya yang masih naik turun. Namun, saya menyadari betul bahwa sebagai orangtua saya hanya bisa mengarahkan tapi keputusan sepenuhnya ada ditangan anak saya sendiri. Saya tidak tahu apakah kelak anak saya bisa punya minat baca yang tinggi atau tidak. Tapi, saya tidak mau kalah sebelum berperang. Saya mencoba dulu untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Ketika saya hamil dan usia kandungan saya berusia 5 bulan, saya pergi ke Bazar Buku Murah yang ada di Majalengka. Kebetulan suami saya juga punya hobi yang sama, bagi kami pergi ke bazar buku merupakan ajang our time yang bermanfaat. Seperti dikutip dari Alodokter bahwa pada usia kehamilan 18 minggu proses pendengaran bayi mulai berfungsi. Lalu, apa hubungannya dengan pergi ke bazar buku? Yup, ketika pergi ke bazar buku tentunya saya dan suami memilih - milih buku sambil "ngobrol" buku mana yang akan kita ambil. Dari kegiatan sederhana ini saya berharap anak saya sudah familiar dengan istilah - istilah buku dan membaca sejak dini, tentunya agar kelak punya minat baca yang tinggi.

Setelah anak saya lahir, saya coba mengenalkan buku kepada anak saya. Bantal buku adalah buku pertama yang saya kenalkan kepada anak saya pada usia 3 bulan. Bantal buku merupakan mainan anak yang berbentuk buku dan berisi gambar - gambar, bahannya terbuat dari kain berisi dacron jadi sangat aman untuk bayi. Meski belum mengerti, tapi saya tetap memberikan mainan bantal buku kepada anak saya untuk melatih motoriknya karena anak saya suka sekali membolak -  balik bantal buku ini. Selain itu, warnanya yang colorful juga pasti disukai anak - anak. Tak lupa selalu sisipkan edukasi disetiap kegiatan bermain anak. Sambil anak saya memainkan bantal bukunya, pelan - pelan saya sebutkan apa yang ada didalam buku tersebut. 

Seiring beranjak usia dan anak saya sudah bisa duduk mandiri, saya mulai mengenalkan buku - buku berbahan kertas bukan lagi bantal buku kepada anak saya. Buku - buku yang saya berikan adalah buku - buku cerita hewan ataupun buku bergambar lainnya. Pada fase ini kegiatan mengenalkan buku jauh lebih menyenangkan karena anak saya sudah duduk mandiri dan merangkak. Bahkan anak saya tetap seru diberi koran sekalipun, heheheh. Jadi, selain belajar mengenal buku dan budaya membaca juga bisa jadi wahana untuk bereksplorasi anak. Sebagai ibu, saya juga jadi lebih ekspresif ketika mengenalkan apa yang ada dalam buku dengan gerakan - gerakan agar anak saya bisa lebih memahami dan tidak bosan. Pengawasan dalam fase ini juga harus ekstra ketat, khawatirnya buku dari bahan kertas disobek kemudian dimasukkan ke dalam mulut.

Di usia anak saya sekarang yang menginjak 2 tahun dia sudah mengenal buku dengan baik, bahkan anak saya sering minta dibelikan buku jika buku - buku dirumah sudah rusak karena sering dimainkan olehnya. Agar tetap tercipta mindset membaca menyenangkan bagi anak saya, saya memberikan kebebasan untuk anak saya memilih buku yang ia mau. Selain itu, saya juga tidak melarang apabila anak saya mencoret - coret buku atau menggunting buku - buku yang sudah saya belikan agar dia bisa tetap asyik bereksplorasi. Maka dari itu, hingga saat ini saya selalu memberikan buku - buku murah untuk anak saya. Bukan saya perhitungan, tapi memang di usianya yang baru 2 tahun ini sedang asyik - asyiknya mencoba berbagai hal baru termasuk menggunting buku. So, buku - buku bergambar yang saya belikan biasanya saya beli dari toko buku murah. Buku - buku di toko buku murah merupakan buku - buku terbitan lama. Meski terbilang buku terbitan lama, tapi tidak mengurangi manfaatnya. 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Saking sukanya dengan buku, ketika dibawa ke toko buku murah langganan meski tempatnya kurang baby friendly tapi anak saya sangat excited memilih buku. Bahkan beberapa kali dia bilang ingin dibelikan buku bergambar hewan dan bapak pemilik toko buku pun akhirnya memberi kami 3 buah buku anak gratis. Alhamdulillah.


Saya berharap kesukaan anak saya terhadap buku tidak akan berkurang seiring berjalannya waktu. Meski tak bisa dipungkiri di zaman yang serba digital ini, minat baca masyarakat sudah semakin menurun. Mana mungkin kita berharap punya anak yang rajin membaca sementara orangtuanya sendiri masih ogah - ogahan membaca, bukan? Ditambah lagi kemajuan teknologi memaksa kita jadi lebih suka gadget daripada buku, iya kan? Saya sendiri mengalami itu, kok! Tidak ada yang salah dengan perkembangan teknologi, bahkan kita harus mampu mengikutinya karena jika tidak maka kita akan ketinggalan. 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, mengenalkan buku pada anak lebih mudah dan menyenangkan karena ada aplikasi Let's Read. Let's Read merupakan perpustakaan digital yang diprakarsai oleh program Book For Asia, The Asia Foundation. Aplikasi Let's Read berisi buku - buku cerita bergambar yang pastinya menarik bagi anak - anak. Ceritanya banyak dan tersedia dalam berbagai bahasa, seru! Asyiknya lagi buku - buku pada aplikasi Let's Read ini bisa diunduh dan dibaca secara offline, lebih hemat kuota kan? 

minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read

Untuk mengunduh buku yang akan dibaca, caranya sangat mudah yaitu pilih buku yang akan diunduh kemudian pilih tombol panah kebawah dan buku siap dibaca meski dalam kondisi oflline. Saya coba mengunduh buku berjudul Tata & Titi yang bercerita tentang ayam dan cacing karena kebetulan anak saya suka sekali dengan karakter - karakter hewan. Ceritanya memang ringan dan sederhana, cocok sekali untuk anak - anak. Tapi, karena anak saya baru berusia 2 tahun maka saya tidak bebas memberikan handphone yang terinstal aplikasi Let's Read untuk dioperasikan oleh anak saya. Seperti dikutip dari Detik Health bahwa screen time pada anak usia 1-2 tahun yaitu kurang dari satu jam dalam sehari. Namun, jika sewaktu - waktu anak saya meminta handphone karena melihat teman - teman seusianya bermain handphone, saya coba berikan aplikasi Let's Read. Selain itu aplikasi Let's Read ini bisa jadi referensi orangtua untuk mendongeng atau bercerita kepada anak.
 
minat baca anak, budaya membaca, membaca menyenangkan, let's read indonesia, download aplikasi let's read  

Berdasarkan pengalaman saya dalam menumbuhkan minat baca anak dapat disimpulkan bahwa minat baca anak bisa dipupuk sejak dini. Prinsipnya adalah santai dan fun. Santai dalam arti jangan terlalu berekspektasi tinggi, berusaha mengenalkan buku kepada anak sejak dini dan berharap anak langsung suka buku dan membaca itu salah besar. Terkadang ekspektasi - ekspektasi kita sebagai orangtua yang akhirnya memaksakan anak menjadi seperti apa yang kita mau, setuju? Padahal semuanya butuh proses, begitupun dengan mengenalkan budaya membaca dan menumbuhkan minat baca pada anak. Fun, membaca buku harus menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi anak bukan lagi sesuatu yang terkesan jadul dan membosankan. Ikuti saja apa yang disukai anak, tapi tetap fungsi controlling ada pada kita sebagai orangtua. Awalnya saya merasa risih dan rugi ketika anak saya suka sekali menggunting buku - buku dengan gunting kertas miliknya, tapi lama - kelamaan saya menyadari bahwa disitulah point pentingnya. Anak saya merasa seru dengan buku - buku dan guntingnya, saya sebagai ibu berusaha menyisipkan edukasi misalnya dengan mengarahkan agar menggunting pada karakter - karakter tertentu sambil menjelaskan mengenai karakter yang akan ia gunting. Lama - kelamaan karena terbiasa bergelut dengan buku - buku dan merasakan bahwa aktifitas membaca itu menyenangkan maka secara natural anak akan suka dengan buku serta punya minat baca yang tinggi.

Tips terakhir dalam menumbuhkan minat baca pada anak yaitu dengan menggunakan aplikasi Let's Read. Seperti telah disebutkan diatas bahwa penggunaan gadget pada anak sebaiknya dibatasi sesuai usianya. Artinya, anak masih boleh kok main gadget selama masih dalam batasan wajar dan ketika anak bermain gadget pun ada baiknya adalah membuka aplikasi yang bermanfaat seperti aplikasi Let's Read.

Nah, tunggu apalagi yuk download aplikasi Let's Read!

#LetsReadAsia #AyoMembaca

Penerapan Jadwal Makan Yang Konsisten Lebih Efektif Daripada Vitamin Penambah Nafsu Makan Dalam Mengatasi Gerakan Tutup Mulut ( GTM ) Pada Anak Saya PART I


penerapan jadwal makan yang konsisten lebih efektif daripada vitamin penambah nafsu makan dalam mengatasi gerakan tutup mulut pada anak saya

Vitamin penambah nafsu makan anak merupakan incaran para ibu yang anaknya sering mengalami gerakan tutup mulut ( GTM ). Banyak merk vitamin penambah nafsu makan anak yang mengklaim bahwa produknya bisa membantu meningkatkan nafsu makan sehingga bisa mengatasi GTM pada anak. Tapi, benarkah vitamin penambah nafsu makan efektif untuk mengatasi GTM pada anak?

Ah, begitu panjang dan melelahkan ketika saya harus menceritakan bagaimana saya sebagai seorang ibu harus mengikuti fase paling seram dalam MPASI ( Makanan Pendamping ASI ) anak, mungkin perlu satu postingan khusus yang fokus membahas fase GTM anak saya. By the way anak saya tidak suka dengan MPASI instan, jadi saya selalu membuat MPASI untuk anak saya sejak masih bubur saring hingga sekarang sudah ikut menu keluarga. Sebenarnya anak saya bukanlah tipe anak yang sangat susah makan, bahkan diawal MPASI tergolong lahap. Namun, sewaktu – waktu fase GTM nya sering menyerang dan berlangsung sekitar 3-7 hari. Sebagai ibu baru tentunya saya sangat panik ketika anak saya menolak menu apapun yang coba saya berikan.  Saya selalu takut anak saya tidak tercukupi nutrisinya apalagi semakin besar usianya maka semakin kecil pula asupan nutrisi yang bisa terpenuhi dari ASI.

Hal pertama yang terlintas di fikiran saya ketika anak GTM adalah memberikan vitamin penambah nafsu makan. Entah sudah tradisi atau saya yang terlalu tergiring opininya oleh iklan bahwa ketika anak GTM, vitamin penambah nafsu makan adalah solusinya. Maka, ketika anak saya mengalami GTM parah diusia 9 bulan saya pun terfikirkan untuk mencoba memberikan vitamin penambah nafsu makan. Namun, pada saat itu saya tidak berani memberikan vitamin penambah nafsu makan anak tanpa anjuran dokter. Setelah beberapa kali pergi ke dokter anak karena memang kebetulan anak saya juga sering sakit bahkan hampir setiap bulan, mungkinkah karena sistem imun yang lemah akibat tidak tercukupinya nutrisi yang dibutuhkan oleh anak seusianya? Maybe yes! Dokter anak pun menilai anak saya yang berat badannya tidak sampai 8 kg itu tergolong kecil.
“Bu, berapa berat badannya waktu lahir?” Tanya dokter anak favoritku itu.
“3,2 kg bu dokter.” Jawabku
“Waaah kecil ya, harusnya usia segini sudah mendekati 3x berat lahir.” Jawab dokter dengan tetap ramah dan tersenyum manis.
Dokter menyarankan untuk memperbaiki pola makan dan meresepkan vitamin. Lalu, apakah efektif pemberian vitamin penambah nafsu makan pada anak saya? Ternyata vitamin penambah nafsu makan anak tidak terlalu efektif mengatasi GTM pada anak saya. Anak saya tetap GTM dan kalaupun mau makan hanya 3 suap, hal tersebut berlangsung hingga usia 15 bulanan. Lelah, seminggu lahap seminggu GTM.

Kemudian saya teringat di highlight instagram dokter anak yang cukup sering sharing info tentang anak yaitu Dokter Metahanindita, ada highlight yang membahas mengenai GTM dan jadwal makan pada anak. Mohon maaf sebelumnya bila ada kesalahan pemahaman dari saya ya, Dok.  Saya berusaha menafsirkan apa yang dijabarkan oleh dokter semampu saya, apalagi saya tidak punya background di dunia medis.


Di salah satu highlightnya dokter Meta menjelaskan bahwa jadwal makan merupakan aturan dasar yang sangat penting. Seorang anak butuh waktu 100 menit untuk mengosongkan isi lambungnya sebanyak 50%, artinya dengan mengatur jadwal makan yang berkaitan dengan waktu pengosongan lambung maka kita sekaligus mengajarkan konsep lapar dan kenyang pada anak.

Sebelumnya jadwal makan anak saya sebagai berikut :
1.    Pukul 06.30 – pukul 07.30 : Sarapan
2.    Pukul 10.00 – pukul 11.00 : Makan siang
3.    Pukul 13.00 – pukul 14.00 : Snack
4.    Pukul 16.00 – pukul 17.00 : Makan sore

Jadwal makan tersebut sudah disesuaikan dengan jam tidur anak saya. Anak saya tergolong anak yang susah tidur siang dan selalu bangun pagi, sementara untuk pemberian ASI tidak saya atur waktunya dalam artian saya berikan kapanpun jika anak saya minta.

Setelah membaca highlight dokter Meta, saya jadi menyadari bahwa bisa saja ada yang salah dengan penerapan jadwal makan anak saya sehingga anak saya sering mengalami GTM. Mungkin saja anak saya jenuh karena jarak makan berat dengan makan berat selanjutnya terlalu dekat tanpa diselingi snack. Belum lagi orang – orang disekitar saya yang beranggapan bahwa “biar sedikit yang penting sering” ternyata tidak benar jika diterapkan seenaknya. Memang saat anak GTM, tidak masalah jika dia masih mau makan meski sedikit tapi bukan berarti setiap menit berusaha memberikan makan atau cemilan dan pada akhirnya makan akan menjadi rutinitas yang membosankan. Pemberian makan yang sedikit tapi sering boleh diterapkan tapi tetap perlu diperhatikan pula intervalnya.

Akhirnya dengan perasaan yakin dan tidak yakin saya mencoba merubah jadwal makan dan sedikit memberikan jarak supaya anak mengenal “rasa lapar”,

Berikut jadwal makan baru anak saya :
1.       Pukul 06.30 – pukul 07.30 : Sarapan
2.       Pukul 09.00 – pukul 10.00 : Snack
3.       Pukul 12.00 – pukul 01.00 : Makan siang
4.       Pukul 15.00 – pukul 16.00 : Snack
5.       Pukul 17.00 – pukul 18.00 : Makan sore

Jadwal makan yang sudah saya buat tidak sepenuhnya on time kok, maka dari itu saya beri perkiraan misal untuk sarapan antara pukul 06.30 – pukul 07.30 dan saat lewat dari jam tersebut maka saya harus lewati jadwal tersebut. Contohnya, pada suatu hari anak saya bangun kesiangan karena malamnya begadang sehingga bangun pukul 08.00 maka saya tidak berikan dia sarapan pagi karena biasanya butuh waktu 30 – 60 menit untuk membangkitkan nafsu makannya setelah bangun tidur. So, saya skip sarapannya dan saya hanya berikan snack begitu pula saat anak saya hanya makan beberapa suap maka saya tidak paksa untuk makan banyak dan tidak berusaha memberikan lagi makan dalam beberapa menit ke depan, saya biarkan dan tunggu hingga jadwal makan berikutnya.

Dalam menerapkan jadwal makan ini saya yakin banyak sekali hambatannya, baik dari diri kita sendiri sebagai ibu maupun dari orang lain. Di awal – awal menerapkan jadwal makan ini saya sering “perang batin” dengan diri saya sendiri, saya selalu takut anak saya kelaparan apalagi saat anak saya hanya makan beberapa suap. Selain hambatan dari diri sendiri, tak jarang saya mengalami hambatan dari orang lain. Misalnya ketika bermain diluar dan sebentar lagi waktu makan siang anak saya, saya selalu membiarkan dia asyik bermain hingga lupa ngemil. Namun terkadang orang lain tidak mengerti apa yang sedang saya terapkan sehingga sering menawarkan makanan atau cemilan kepada anak saya.
 “ Keun wae atuh saeutik – saeutik ge padu ngereyeuh daek barang dahar ( tidak apa – apa makan sedikit – sedikit juga yang penting mau makan ), “ pernah terlontar dari salah satu saudaraku.
Kesal, saya benar – benar kesal saat selalu mendengar slogan tersebut. What? Se-lebay itu kah? Ya, di awal – awal saya sering kesal dengan orang – orang yang selalu memberikan cemilan atau mengajak anak saya makan padahal timingnya tidak sesuai dengan jadwal makan yang berusaha saya terapkan pada anak saya.

Namun, lama kelamaan anak saya pun sudah hafal “ritme” makannya sendiri. Sekarang anak saya sudah berusia 2 tahun dan jarang sekali bermasalah dengan nafsu makan bahkan dia sudah bisa memilih mau makan dengan apa atau menolak ketika merasa masih kenyang dan meminta makan ketika sudah merasa lapar. Berat badan anak saya sekarang hanya 11,7 kg setelah sebelumya di 12 kg karena masih recovery setelah sakit dan dirawat cerita selengkapnya disini. Anak saya memang tergolong kecil tapi posturnya tinggi bahkan hampir menyerupai anak usia 3 - 4 tahunan.

Jujur, sampai saat ini saya belum tahu pasti kenapa dulu anak saya sering GTM tapi untuk vitamin penambah nafsu makan anak memang tidak efektif pada waktu itu. Maybe pada beberapa anak vitamin penambah nafsu makan sangat efektif mengatasi GTM. Dan penerapan jadwal makan cukup efektif untuk anak saya tapi bisa jadi tidak berpengaruh untuk anak lain. So, saya tidak memaksa pembaca untuk meyakini apa yang saya tulis tapi semoga apa yang saya tulis disini bisa bermanfaat. Selalu konsultasikan ke dokter ya apabila terjadi sesuatu pada anak termasuk jika GTM sudah berkepanjangan dan berakibat pada penurunan berat badan.