Showing posts with label Love And Family. Show all posts

Jadi Ibu Rumah Tangga Yang Produktif? Semuanya Gak Melulu Soal Uang, Kok!

“Jadi ibu rumah tangga itu harus pinter cari duit jangan cuma bisa ngandelin suami!”
“ Jadi ibu rumah tangga itu harus bisa memanfaatkan waktu luang menjadi uang.”
“ Jadi ibu rumah tangga itu jangan hanya cantik dan bisa masak tapi harus bisa juga cari uang.”

Dan masih banyak lagi jargon - jargon yang biasa ditulis oleh ibu milenial di sosial media, entah itu memang curhatan pribadi atau untuk keperluan promosi produk/bisnis agar menarik perhatian. Yay, dari jargon - jargon diatas saya menyimpulkan bahwa produktif itu harus menghasilkan uang. Setuju gak, sih?

Sebagai ibu - ibu yang matre, iya saya matre ( pada tempatnya ). Tidak bisa pungkiri bahwa semua yang kita butuhkan itu harus dibeli dengan uang terkecuali kasih sayang. Eaaaa… Apalagi sebagai seseorang yang sudah fighter sejak zaman kuliah, saya paham betul bagaimana susahnya hidup ini kalau tidak punya banyak uang. Saya bukanlah dari keluarga berada tapi punya tekad besar untuk mengenyam pendidikan. Biaya dari orangtua yang hanya cukup untuk keperluan pokok saja, untuk menutupi biaya lain – lain atau sekedar memenuhi keinginan sendiri saya jadi penjual online serabutan. Zaman dulu di sekitar tahun 2010, penjual online yang berjualan di sosial media belum sebanyak sekarang. Setelah lulus kuliah saya langsung bekerja dan resign ketika akan melahirkan.

Ketika akan melahirkan, perasaan saya rasanya campur aduk. Bahagia karena akan punya anak dan akan mengasuh serta membesarkannya dengan tangan sendiri, bingung karena saya akan menjadi ibu rumah tangga sejati yang artinya saya hanya akan menikmati uang hasil jerih payah suami bukan hasil jerih payah sendiri. Meski suami saya sangat baik, tapi saya sering merasa “tidak enak” jika harus meminta uang untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya ketika masih bekerja saya punya bisnis sampingan yang hasilnya lumayan, istilahnya bisa nambah – nambah buat beli pulsa. Tapi saya mulai kehilangan mood ketika akan melahirkan, setelah melahirkan lebih parah lagi. Rasanya bisa mandi dan keramas dengan tenang pun sudah alhamdulillah.

Hari demi hari berlalu, saya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengasuh anak, beres – beres rumah, nyuci baju, nyuci piring, masak, nyetrika dan berbagai pekerjaan domestik lainnya.  Sering sekali saya merasa jenuh dengan hari – hari saya yang cuma gitu doang, nothing special. Belum lagi omongan orang – orang yang sangat menyayangkan status sarjana saya tidak bisa membeli karir yang cemerlang didunia kerja. Fyuhhhh… sudah jenuh, stress pula!

Oke.. oke.. sampai sini mindset saya masih sama dengan orang – orang bahwa produktif haruslah menghasilkan uang. Anak semakin tumbuh besar, tapi saya hanya menjadi manusia yang gitu – gitu aja. Pernah saya coba melamar pekerjaan, tapi mencari pekerjaan yang cocok dengan status saya sebagai ibu rumah tangga yang masih punya anak kecil memang tidak gampang. 

Lelah mencari pekerjaan yang cocok tapi tak kunjung ketemu, saya coba peruntungan dengan berjualan baju anak murah. Respon pasar gimana tuh? Alhamdulillah laris manis bak kacang goreng, tapi kendalanya di modal. Saya yang pada waktu itu mengandalkan modal dari pencairan BPJS ketenagakerjaan merasa belum siap harus mengalokasikan seluruh uang hasil pencairan tadi untuk berjualan baju anak. Sementara yang namanya jualan baju itu modalnya lumayan besar dengan keuntungan yang tidak seberapa. Belum lagi barang reject, retur, motif tidak sesuai dan lain – lain. Meski baju yang dijual itu tidak akan busuk seperti makanan tapi kan namanya trend fashion perubahannya cepat sekali kan? Ah, mungkin saya belum punya mental pengusaha!

Akhirnya saya pasrah dengan nasib dan takdir saya menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjalankan pekerjaan domestik yang biasa saya lakukan sehari – hari. Hingga pada suatu hari saya tertegun dengan ucapan suami saya yang katanya saya harus tetap produktif, sekalipun bukan uang yang menjadi hasilnya. Kalaupun materi tidak bisa kita dapatkan tapi setidaknya pahala dan kebaikan bisa kita berikan untuk bekal nanti. Aduh, saya kemana aja nih baru tersadar sekarang? Hahahaha…

Saya jadi teringat dengan perjuangan suami saya sebagai guru honorer yang mesti kerja serabutan juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan saya tidak bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang guru, tapi saya hanya kasihan melihat dia yang harus mengajar juga bekerja serabutan. Sempat saya menyarankan untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan terutama dari segi finansial. Tapi suami saya tetap dengan pendiriannya, menjadi seorang guru sambil bekerja sampingan. Menurutnya mengajar adalah bagian dari mengamalkan ilmu.

Hingga pada akhirnya suami saya mencoba mengikuti test CPNS di Kementrian Agama Jawa Barat pada akhir tahun 2018 dan alhamdulillah lolos. Saya tidak bilang bahwa menjadi ASN adalah goal dari perjalanan hidup, justru disinilah perjalanan kami dimulai kembali dari nol. Namun tidak dipungkiri bahwa menjadi ASN adalah salah satu pekerjaan yang diimpikan banyak orang.

Jadi, sekarang dirumah ngapain aja dong?!

Ya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sejati, dong! Sama saja seperti hari – hari sebelumnya. Tapi sekarang saya menjalaninya dengan lebih ikhlas, legowo, gak ada tuh perasaan insecure atau merasa jadi manusia yang sia – sia gitu. Memang sih semuanya berawal dari mindset kita, ketika mindset kita positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif pula begitupun sebaliknya. Di sela – sela waktu luang saya juga sempatkan untuk menulis di blog yang sudah saya buat sejak lama. 

Jujur, sebelumnya saya sempat ingin menjadikan blog ini sebagai ladang penghasilan saya. Yaaa.. itung – itung kerja dirumah gitu. Kebetulan blog saya ini juga sudah diterima google adsense. Mungkin loh ya ini mungkin.. karena saya memulainya tidak enjoy, tidak ikhlas dan terlalu profit oriented. Akhirnya malah saya jadi jarang posting sama sekali, paling sebulan sekali itu pun tulisannya acak – acakan ( eh sekarang pun tulisanku belum bagus, sih. Ehehehe ). Ditambah lagi hubungan dengan anak jadi kurang baik, sering saya menyalahkan anak saya yang susah tidur atas tidak terurusnya blog saya ini. Aduh… maafkan mamahmu ya, Nak! 

Lalu, saya jadi teringat juga chat pribadi dengan mak Lasmicika, salah satu member komunitas KEB ( Kumpulan Emak Blogger ). Waktu itu saya cerita kalau saya banyak buang waktu dalam dunia blogging. Saya sudah lama ngeblog tapi cukup kesulitan mengatur waktu untuk menulis, apalagi setelah punya anak karena anak saya tipe yang susah tidur. Kalau malam harus begadang untuk menulis, saya juga butuh istirahat karena melelahkan mengurus anak seharian sambil mengurus pekerjaan rumah. Jawaban Mak Lasmi ternyata begitu menampar saya, katanya bahwa tidak ada yang terlambat dan ngurus si kecil pun effortsnya luar biasa. Dalam hidup memang selalu ada yang di prioritaskan. Ah, peluk jauh untuk Mak Lasmi. Semoga saya bisa terus belajar menulis tanpa mengesampingkan urusan keluarga.

Intinya, menjadi ibu rumah tangga yang punya bisnis sampingan atau sambil bekerja adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dapat pahala dari mengurus keluarga, dapat gaji atau penghasilan juga iya. Tapi, bukan berarti ibu rumah tangga yang hanya mengurus pekerjaan rumah tangga jadi disebut “gak produktif”. Dengan kita berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus anak, mengurus suami, beribadah dan lain – lain itu juga merupakan kegiatan produktif kan? Pokoknya jangan pernah deh memandang orang lain dengan kacamata sendiri begitupun sebaliknya. Setiap rumah tangga itu punya jalan rezekinya masing – masing. Ada yang rezekinya melalui suami dan istri yang sama – sama bekerja, ada yang rezekinya hanya melalui suaminya saja bahkan banyak juga loh istri yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Dalam hal ini tentu saja perlu sosok suami yang bisa jadi support system terbaik bagi istrinya. 

Boleh saja seorang suami mendambakan istrinya bisa lebih produktif dari sekedar mengerjakan urusan domestik rumah tangga, tapi ya harus disupport sebaik mungkin. Bantu istri untuk mendapatkan suasana kondusif dalam rumah, misal ketika libur bekerja coba ajak anak keluar rumah supaya istri bisa mengerjakan “sesuatu” dirumah. Dan suami pun harus ingat ketika istri bekerja, entah itu didalam maupun diluar rumah kemudian mendapatkan penghasilan, tidak akan melunturkan kewajibannya dalam menafkahi loh! Jadi, kalaupun istri produktif dari dalam rumah pada intinya adalah untuk pengembangan dirinya sendiri.

" Saya memang gagal menjadi sarjana yang punya karya, saya gagal juga melanjutkan karir di dunia kerja, tapi saya tidak mau gagal menjadi ibu rumah tangga "

Pentingnya Pendidikan Bagi Perempuan, Si Jantung Rumah Tangga



Pendidikan merupakan sebuah investasi  yang sangat berharga. Saya meyakini hal  itu dari dulu hingga saat ini. Apapun jenis pendidikannya, baik  formal ataupun informal serta bagaimana cara mendapatkannya, melalui beasiswa, pelatihan gratis ataupun dengan biaya mandiri. Pendidikan ibarat sebuah tabungan yang efeknya tidak akan dirasakan langsung dalam satu atau dua hari, tetapi akan dirasakan dalam waktu mendatang. Kita analogikan seperti halnya  menabung uang, mengenyam pendidikan berarti menabung ilmu, menabung skill. Ada orang yang sejak kecil oleh orang tuanya sudah disetting akan menjadi apa dan harus mengikuti pendidikan apa, namun sebagian orang tua membiarkan anaknya bereksplorasi dengan dunianya hingga kelak bisa menemukan dunianya sendiri. That’s why tidak jarang ada orang yang kuliah jurusan tertentu  malah bekerja dibidang yang berlainan dengan basic pendidikanya, misalnya saya ini. Hehe… Jika begitu banyak orang berlomba – lomba menabung bahkan mendepositokan uang untuk masa depan maka kita juga bisa berinvestasi  melalui pendidikan.

Dikutip dari Profil Perempuan Indonesia 2019 yang diterbitkan oleh Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak bahwa fokus pengembangan perempuan salah satunya adalah peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak. Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pendidikan sangat penting untuk ibu rumah tangga meski pekerjaan sehari – harinya hanya mengurus rumah dan keluarga karena perempuan adalah bagian terpenting dalam rumah tangga, hampir sebagian besar pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh perempuan. Perempuan ibarat jantung yang peranannya sangat penting dalam mengalirkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Perempuan harus tetap aktif bergerak agar kehidupan dalam rumah tangga  tetap hidup. Selain itu, perempuan merupakan sekolah pertama bagi anak – anaknya yang bertugas mentransfer berbagai ilmu sejak anak dalam kandungan hingga tak terbatas sampai kapanpun. Hal sederhana seperti mengajarkan anak berbicara, mengenalkan benda-benda, hewan dan tumbuhan serta mengenalkan huruf dan angka pun adalah bagian dari mentransfer ilmu, kan?

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang full time mengurus anak, saya merasakan betapa pentingnya pendidikan dalam memperkuat peran saya di dalam rumah tangga. Beberapa peran ibu rumah tangga yang memerlukan  ilmu pengetahuan didalamnya, yaitu sebagai berikut :
1.  Manajemen keuangan
Mengurus keuangan rumah tangga memang susah – susah gampang. Meski terlihat sederhana tapi saya punya beban lebih, sebagai istri tentunya harus sangat bijak mengelola keuangan. Disinilah peran ilmu akuntansi sangat penting, meski tidak perlu belajar ilmu akuntansi secara kompleks dan rumit tapi setidaknya bisa membuat pencatatan pengeluaran dan pemasukan setiap bulan sehingga bisa jadi bahan laporan kepada suami sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai “manager keuangan” dalam rumah tangga. Saya tipe orang yang suka mencatat secara manual karena bisa lebih mudah menjelaskan kepada suami mengenai laporan keuangan bulanan yang sudah saya buat, tapi kalau kalian mau mencoba membuat catatan keuangan yang lebih praktis bisa coba berbagai aplikasi pencatat keuangan di android.
2. Teknologi
Di zaman yang sudah semakin maju ini, tidak dipungkiri peranan teknologi sangatlah penting dalam kehidupan sehari - hari. Maybe tidak semua ibu rumah tangga harus jadi ahli teknologi. Tapi, untuk hal – hal mendasar contohnya menggunakan Ms.Office rasanya cukup diperlukan karena anak sekolah zaman sekarang sudah harus melek teknologi termasuk aplikasi komputer dan internet untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Namun penggunaan teknologi  tak jarang menimbulkan berbagai permasalahan karena begitu cepat dan mudahnya setiap orang untuk mengakses suatu hal. Maka dari itu pentingnya pemahaman akan komputer dan teknologi sangatlah penting maka dari itu seorang ibu harus menjalankan fungsi control  ketika anak menggunakan teknologi agar tetap menggunakan teknologi dengan bijak dan sesuai usianya.
3. Kemampuan berbahasa asing
Sebagai ibu rumah tangga, saya merasakan betul begitu pentingnya kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris karena sampai saat ini bahasa Inggris masih diakui sebagai bahasa internasional. Mungkin terlihat sepele, tapi peran bahasa inggris sangatlah penting dalam kehidupan saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Contoh sederhananya adalah ketika berbelanja, penting sekali untuk kita memahami produk yang akan dibeli. Misal saat akan memilih produk sikat gigi, biasanya dikemasan sikat gigi tersebut tertulis keterangan medium, soft dan extra soft. Setidaknya saya harus hafal apa yang membedakan ketiga produk tersebut padahal masih sama produk sikat gigi.
Sementara untuk contoh yang lebih serius, saya akan mencontohkan bagaimana pentingnya kemampuan berbahasa asing bagi saya pribadi terutama dalam rangka menemani pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Anak saya berusia 2 tahun dan sedang asyik – asyiknya mengeksplor mainan. Mainan yang sering dia mainkan tentunya yang cukup menarik perhatiannya salah satunya yang punya warna cukup menarik salah satunya adalah mainan ring donat. Saya mulai memperkenalkan mainan ring donat ini sejak usianya sebelum satu tahun dan saat itu saya hanya membiarkannya memainkan mainan donat tersebut tanpa banyak memberikan edukasi. Namun sejak anak saya mulai “berceloteh” diusia  15 bulanan pelan – pelan saya coba memberikan edukasi mengenai warna karena kebetulan mainan ring donut tersebut sangat colorful. Saya coba kenalkan dia warna dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, lalu responnya bagaimana? Anak saya hanya diam dan memperhatikan. Surprisingly, diusianya yang baru 20 bulanan tiba – tiba saat memainkan mainan ring donut tersebut dia sambil menyebutkan warna dalam bahasa Indonesia dan beberapa warna dalam bahasa Inggris seperti purple, yellow, brown dan green. Perkembangan sekecil itu pun saya sangat senang karena artinya apa yang saya ajarkan selama ini tidak sia – sia.


Itulah beberapa dari sekian banyak peran perempuan yang perlu didasari ilmu atau skill didalamnya. Berbicara mengenai pendidikan nyatanya cukup sensitif karena tidak semua istri dan ibu bisa mengenyam pendidikan dengan layak karena berbagai faktor salah satu faktor yang paling umum yaitu biaya. Ya, saya pun merasakan hal tersebut ketika harus kuliah dengan biaya yang pas – pasan alhasil saya kuliah sambil serabutan jualan apapun setidaknya untuk menambah uang saku agar tidak memberatkan kedua orang tua. Orang lain mungkin hanya melihat sisi enaknya saja saya bisa menjadi ibu rumah tangga dengan predikat sarjana dan berkata “ahhh kamu sih enak kan bisa kuliah, saya dulu tidak punya biaya!”. Believe me, apa yang saya jalani tidak semudah yang dibayangkan tapi semuanya terbayar sekarang terutama setelah saya punya anak. Meski saya tidak ahli dalam semua bidang tapi setidaknya hal – hal mendasar seperti yang sudah saya sebutkan diatas bisa saya dapatkan selama saya mengenyam pendidikan sehingga saya merasa peran saya sebagai seorang ibu memang sangat kuat dan penting.

Hal –hal mengenai pentingnya pendidikan dalam peranan ibu rumah tangga seperti yang sudah saya jabarkan diatas bisa jadi berbeda bagi setiap ibu. Mungkin ada ibu yang anaknya punya bakat dalam menyanyi, sebagai seorang ibu meski tidak harus bisa menyanyi tapi setidaknya wawasan mengenai musik haruslah diperkuat untuk menemani anak dalam tumbuh dan berkembang sesuai hobinya. Again, saya tekankan bahwa tidak semua ibu adalah hebat dan bisa paham semua dasar keilmuan dalam rangka peran sertanya didalam keluarga. Saat kita tidak mampu menjalankan semua peran tersebut maka sudah kewajiban kita untuk mengalihkan tugas dan kewajiban kita kepada mereka yang lebih kompeten. Banyak cara untuk menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua dalam memberikan pendidikan yang layak untuk anak – anak, selain menyekolahkan disekolah formal bisa juga ditambah dengan pendidikan melalui lembaga kursus. Salah satu lembaga kursus yang ada di Indonesia adalah EduCenter. Awalnya saya fikir EduCenter ini adalah tempat kursus bahasa Inggris, namun ternyata EduCenter ini adalah pusat edukasi yang didalamnya terdapat lebih dari 20 lembaga pendidikan/tempat kursus. Kursus – kursus tersebut tak hanya meliputi pembelajaran disekolah tapi juga kursus yang membantu mengembangkan hobi dan bakat anak. So, menurut saya ini cukup efektif dan efisien karena ada begitu banyak pilihan edukasi dalam satu tempat. Sayangnya EduCenter ini terletak di BSD City Tangerang dan sangat jauh dengan domisili keluarga saya di Majalengka. Ah, semoga ketika anak saya sudah cukup usia untuk mendapatkan berbagai pendidikan dan kursus, EduCenter sudah buka cabang di Majalengka.


By the way keluarga kami bukanlah keluarga kaya apalagi kami baru beberapa tahun menikah dan perjalanan rumah tangga kami baru saja dimulai. Tapi, saya sadar betul bagaimana pentingnya pendidikan apalagi anak saya adalah perempuan yang kelak akan menjadi ibu untuk anak – anaknya. Maka, saya pun sudah merencanakan keuangan untuk pendidikan anak saya dengan menabung sekecil apapun itu. Walaupun yang saya simpan nilainya kecil bila dilihat dari nominal tapi saya yakin akan bermanfaat besar untuk pendidikannya di masa yang akan datang.

 Akhir kata, semoga perempuan Indonesia selalu sehat dan aktif karena kita adalah jantungnya rumah tangga yang punya peranan sangat penting. Saat kita aktif maka kehidupan rumah tangga pun akan hidup, tapi saat kita berhenti bergerak maka matilah kehidupan dalam rumah tangga. Tetap semangat untuk belajar dan menjadi sekolah terbaik bagi anak – anak kita, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Jangan pernah terfikirkan kita tidak berarti apa – apa hanya karena seorang ibu rumah tangga, justru peran kita sangat penting dan perlu ditunjang dengan pendidikan agar bisa menjalankan peran kita dengan maksimal.



#EduCenterID

Memasak Dan Menulis Part II

Gambar hanya ilustrasi
Sebelumnya

Setali tiga uang dengan memasak, menulis juga adalah suatu proses. Tidak ada penulis hebat yang langsung bisa menerbitkan buku atau karyanya langsung dimuat dimedia cetak. Saya yakin para penulis hebat yang berhasil menulis novel, menulis cerpen atau buku – buku ilmiah pernah melewati proses pahit dikritik oleh banyak pihak. Apalagi saya yang bukan siapa – siapa ini. Seperti memasak, saya yakin setiap orang bisa menulis tapi perihal hasilnya yang baik atau tidak itulah yang perlu digaris bawahi.

Sejak SMA saya sangat suka membaca novel, cerpen dan menulis ala kadarnya sampai sering dibilang “lebay” karena terlalu menjiwai isi sebuah novel, cerpen atau tulisan yang saya baca. Selain menulis, saya sangat suka segala sesuatu yang berkaitan dengan internet hingga bisa mengantarkan saya mengikuti lomba kontes blog antar SMA dan saya KALAH. Saya benar – benar minim ilmu blogging, yang saya tahu bikin blog itu cuma add widget dan ganti warna tema. Lagi – lagi saya belajar secara otodidak bahkan hingga sekarang. Dulu, saya punya beberapa blog dengan isinya semau saya. Pada saat itu difikiran saya adalah yang penting saya nulis diblog.

Namun semenjak saya melahirkan dan berhenti bekerja, mulai terbersit dibenak saya untuk kembali meneruskan proses belajar menulis saya. Kebetulan saya punya blog pribadi, saya coba manfaatkan salah satu blog saya. Saya tinjau kembali isinya, saya hapus postingan – postingan yang “alay” menurut saya dan iseng – iseng saya ajukan untuk bergabung disalah satu jasa periklanan dan ternyata blog saya disetujui. Senang, blog saya yang apa adanya ini ternyata bisa disetujui di jasa periklalanan tersebut. Bingung, karena saya tidak tahu harus mulai melangkah dari mana dan kemana untuk bisa “panen” rupiah dari jasa periklanan tersebut.

Hingga akhirnya saya gabung di grup – grup blogger, belajar dari berbagai tutorial di web dan youtube. Ternyata dunia blogging itu berat menurut saya, tapi tentunya mudah menurut para master blogger. Menulis diblog itu tidak hanya menulis dengan kaidah penulisan yang baik dan benar tapi bagaimana caranya agar tulisan kita ramah mesin pencari dan ramai pengunjung.
Kemudian obrolan saya dengan teman yang mengantarkan saya ke grup KBM ini. Sudah sejak lama saya mengenal grup KBM ini tapi saya belum tertarik untuk gabung dan belajar disini. Namun fikiran saya terbuka semenjak mengobrol dengan teman saya tersebut. Intinya, tidak ada salahnya mencoba menulis di grup KBM sebagai media untuk belajar menulis. Tapi saat kita menulis artinya kita siap untuk di kritik. Sebagai pendatang baru di grup KBM, saya terima berbagai komentar positif dan negatif untuk proses belajar menulis saya.

Dalam hemat saya, saat proses belajar wajar sekali jika kita review ulang tulisan kita dan kita sesuaikan dengan masukan – masukan dari orang lain. Masukan – masukan dari orang lain saya anggap sebagai gambaran minat baca sehingga saya harus banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang punya nilai jual. Ya, nilai jual disini maksudnya adalah diminati banyak orang. Suatu hal yang lumrah jika dalam proses belajar ada istilah hapus sana hapus sini, edit sana edit sini, bahkan pindah haluan dari plan A ke plan B. Proses perbaikan menurut saya adalah bagian dari tanggung jawab dan challenge untuk diri sendiri bagaimana pada akhirnya kita berusaha mengikuti alur dan minat pembaca. Perbaikan adalah bagian dari pembelajaran, bukan bagian dari pembelaan. Kalau saya takut dibully karena tulisan saya, cukup saya hapus postingan atau turn off komentar dan masalah selesai. Tapi bukan itu tujuan saya, saya tidak ingin tulisan saya hanya sekedar rame dikomentari orang dan viral. Tujuan saya adalah belajar menulis, saya berusaha mencerna masukan – masukan untuk tulisan saya.

Ah, saya jadi panjang lebar menulis tentang dua hal yang masih saya pelajari yaitu memasak dan menulis. Memasak dan menulis adalah kegiatan yang sedang saya tekuni saat ini disela – sela kesibukan saya mengurus kelurarga. Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah memberikan masukan – masukan positifnya. Maaf jika tulisan ini terkesan sok bijak dan sok menggurui, saya hanya berusaha menjabarkan apa yang saya alami sebagai pemula dalam hal memasak dan menulis. Silahkan tertawa jika saya lucu seperti badut, silahkan ambil sisi positifnya jika ada hal yang baik dan jangan ambil sisi negatifnya karena saya yakin itu jauh lebih banyak. Semangat memasak dan menulis!

Salam hangat

Susi Story

Memasak Dan Menulis

Gambar hanya ilustrasi

Dulu, saya sama sekali tidak bisa memasak bahkan saat kegiatan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ), saya selalu tidak pede jika waktunya piket masak. Jangankan tahu bagaimana cara memasak suatu menu yang layak disajikan, pengetahuan saya akan bahan masakan dan bumbu – bumbunya pun sangat minim. Saya malu, sangat malu karena tidak sedikit yang menertawakan saya karena tidak tahu cara masak yang baik dan benar. Ketidakmampuan saya dalam hal memasak selalu jadi bahan olok – olokan yang terselip diantara obrolan ringan.

Semenjak itu saya bertekad untuk belajar memasak karena saya yakin setiap orang bisa memasak. Perihal masakannya enak atau tidak, layak atau tidak, disitulah point pentingnya saya harus belajar. Banyak cara belajar memasak mulai dari belajar secara otodidak, belajar dari orangtua, belajar dari buku menu atau resep yang bisa didapat secara online atau bisa kelas ikut memasak professional yang tentunya berbayar. Pada saat itu saya tidak berfikiran untuk ikut kelas memasak atau kursus tataboga karena keterbatasan biaya, bahkan sampai saat ini saya belum pernah ikut kelas memasak. Saya hanya mengandalkan kemauan saya untuk memasak. Iya, intinya saya mau masak entah itu masakannya enak atau tidak yang penting saya memasak. Lucu sih, diawal saya belajar memasak bahkan saya tidak tahu cara memasak telur dadar yang enak, saya tidak tahu takaran garam yang pas untuk sebuah telur dadar. Sering saya masak telur dadar keasinan atau hambar tidak ada rasa. Sering juga saya ditentang oleh ibu saya karena dengan belajar memasak jadinya buang – buang bahan makanan untuk trial and eror masakan saya. Berbeda dengan bapak saya yang selalu menghabiskan makanan saya bagaimanapun rasanya.

Saya sangat senang saat bapak saya selalu menghabiskan masakan saya artinya rasa masakan saya enak, meski sebenarnya saya tahu bahwa rasa masakan saya sangat aneh. Saya seperti dipaksa membohongi diri sendiri, saya dipaksa untuk berkata pada diri sendiri bahwa masakan saya enak padahal sebenarnya tidak enak. Sementara dari sikap ibu saya yang seperti merendahkan dan tidak suka dengan proses saya belajar memasak, saya jadi termotivasi untuk terus belajar. Saya jadi semakin semangat mencari – cari menu masakan untuk kemudian saya praktekkan sendiri dan akhirnya saya tahu dimana letak kesalahan saya sehingga masakan saya tidak enak.
Sekarang, saya sudah menjadi seorang istri, seorang ibu dari satu anak balita. Memasak menjadi daily routine saya apalagi suami saya pecinta masakan rumahan. Anak saya sejak awal MPASI tidak suka dengan MPASI instan sehingga saya selalu masak setiap hari untuk MPASI nya sejak masih bubur hingga sekarang sudah ikut menu keluarga. Terharu, saya yang tidak bisa masak ini ternyata sekarang bisa masak meski hanya untuk keluarga. Saya jadi tidak perlu pusing jika sewaktu – waktu anak saya minta dibuatkan suatu menu masakan atau cemilan, saya tinggal pergi ke dapur dan eksekusi. Pun saat suami saya secara mendadak akan mengadakan acara makan – makan dengan rekan kerjanya, saya tidak perlu repot mencari “tukang masak” dadakan.

Sampai disini jangan salah paham dulu, saya tidak bermaksud pamer akan kemampuan saya memasak karena kemampuan saya masih sangat pas – pasan. Menurut suami saya, saya bisa disebut pintar memasak jika sudah bisa memasak seperti “tukang masak” di hajatan. Wah, masih sangat jauh untuk sampai kesana. Sekali lagi, bukan soal pamernya tapi bagaimana saya menjelaskan bahwa proses belajar itu lebih penting daripada hasil. Tidak apa – apa kamu dibilang tidak bisa masak, masakannya aneh, masakannya bikin mual muntah dan lain – lain yang terpenting adalah bisa belajar dari kesalahan.

Menjadi Ibu Rumah Tangga Bukan Akhir Dari Segalanya


Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan. Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.  Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah… Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.  Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan.

Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.

Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah…

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.

Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

Food Preparation, Tips Hemat Ala Emak Milenial



        
        
        Ada yang belum mengenal apa itu food preparation? Menurut versi saya, food preparation adalah proses menyiapkan bahan makanan dalam jumlah banyak untuk beberapa hari. Untuk lebih lengkapnya mengenai food preparation silahkan search di google ya. Tapi saya yakin ibu – ibu zaman now sudah paham betul mengenai food preparation itu seperti apa. Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki balita, menurut saya food preparation sangatlah penting karena selain menghemat budget makan sehari – hari juga bisa lebih efisien waktu karena kita tidak perlu bolak balik ke warung setiap hari.
         Sebenarnya saya sudah menerapkan food preparation sejak awal menikah, apalagi pada saat itu saya masih bekerja dan hampir setiap hari bawa bekal ke kantor. Sangat tidak memungkinkan jika harus ke warung pagi – pagi, tidak akan sempat karena selain memasak tentunya saya harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Kebetulan pulang belanja dari pasar minggu kemarin anak saya tidur, jadi saya punya banyak waktu untuk foto – foto hasil belanjaan saya.
       By the way saya selalu belanja bahan – bahan untuk food preparation dari pasar tradisional karena selain jaraknya sangat dekat dengan rumah juga harganya jauh lebih murah dibanding modern market. Namun resikonya belanja dipasar tradisional adalah kita harus jeli dalam memilih bahan – bahan yang akan dibeli karena biasanya di pasar tradisional proses seleksi grade tidak terlalu ketat, hanya untuk beberapa pedagang biasanya akan memberikan sedikit potongan harga untuk sayuran yang ada sedikit cacat. Tapi jika kita membeli di modern market barang yang kita beli biasanya sudah melewati seleksi grade sedemikian rupa sehingga didapatlah grade terbaik.
        Biasanya saya belanja hanya untuk saya dan anak saya, suami saya kebetulan ada diluar kota. Sementara orangtua saya biasanya tidak terlalu suka dengan makanan yang disajikan untuk anak saya, saya pribadi sejujurnya memang selalu mengikuti apa yang disukai anak saya sehingga menu yang disajikan pun selalu bervariasi sesuai kesukaan anak saya dan orang tua saya jarang menyukainya meski ada beberapa menu yang mereka pun biasa ikut makan. So, budget belanja untuk makan saya hanya untuk 2 orang dan biasanya saya hanya stok sayur dan bahan lainnya untuk 3 harian saja. Tapi kebetulan minggu kemarin suami saya akan pulang dari perantauan jadi saya belanja lebih banyak.
          Berikut rincian belanja untuk food preparation kemarin :
No
Nama Bahan
 Harga
1
Dada ayam 1/4 kg & 3 buah sayap ayam
           15,000
2
Tulang sapi
           10,000
3
Buncis
             3,000
4
Cabe dan tomat
             6,000
5
Bawang merah
             6,000
6
Tahu
             2,000
7
Lemon 1/2 kg
           14,000
8
Bunga kol
           11,000
9
Bayam 2 ikat
             4,000
10
Kangkung
             2,000
11
Ikan asin & ebi
             8,000
12
Parkir
              2,000

Jumlah
           83,000


Setelah pulang dari pasar saya langsung memilah bahan – bahan mana saja yang akan masuk kulkas dan akan saya simpan diluar ruangan.
  • Untuk bawang merah, ikan asin dan ebi saya simpan diluar ruangan saja ya
  • Untuk kangkung, bunga kol dan bayam saya petik terlebih dahulu kemudian masukkan kedalam wadah. Jangan lupa buang bagian yang busuk meski cuma sedikit karena akan berpengaruh terhadap umur simpan.
  • Untuk kangkung, bunga kol dan bayam saya petik terlebih dahulu kemudian masukkan kedalam wadah. Jangan lupa buang bagian yang busuk meski Cuma sedikit karena akan berpengaruh terhadap umur simpan.
  • Untuk kangkung, bunga kol dan bayam saya petik terlebih dahulu kemudian masukkan kedalam wadah. Jangan lupa buang bagian yang busuk meski Cuma sedikit karena akan berpengaruh terhadap umur simpan.
  • Tahu saya masukkan wadah. Sebelumnya saya cuci bersih, beri air dan sedikit garam. Supaya awet, lakukan proses ini setiap hari. Biasanya saya menyimpan tahu maksimal untuk 3 harian saja dan jika bentuk tahu sudah benyek dan bau, saya lebih memilih untuk membuangnya.
  • Buncis langsung saya simpan wadah dan buncis ini punya umur simpan cukup lama.
Dari food preparation diatas ada beberapa menu yang bisa disajikan, diantaranya :
  • Sup ayam
  • Sup tulang
  • Sup sayur
  • Sayur bening bayam
  • Orak arik tahu telur
  • Tumis kangkung
  • Ayam goreng
  • Tahu goreng
  • Tumis buncis wortel
  • Ebi pedas
        Dan masih banyak lagi menu lainnya yang pastinya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi hehe. Saya sering share soal soal menu masakan di status WA dan banyak yang komen katanya suka bingung kalau ke pasar mau beli dan berujung jadi malas masak deh ehehe. Tenang, bisa karena terbiasa kok. Saya juga awalnya sering bingung, tiba – tiba malas masak hingga akhirnya buang – buang bahan di kulkas karena keburu kering atau busuk. Tapi, seiring berjalannya waktu saya jadi hafal sendiri ritmenya. Atau ada juga yang bilang kalau melakukan food preparation itu mahal, iya sih mahal di awal. Misal hari ini saya belanja 100 ribu untuk beberapa hari, anggap saja 3 hari berarti satu hari 30 ribu untuk 3x makan saya dan anak saya. Coba kalau kita jajan, misal beli semangkok baso, 10 ribu hanya untuk satu orang dan satu kali makan. Atau ada lagi yang berkomentar, ah saya mah beli dari warung aja deh 2 rb udah dapet sayur. Iya sih dapet tumis sayuran, tapi apakah yakin bisa mencukupi kebutuhan sayur selama sehari? Kalau saya pribadi sih bayam satu ikat hanya untuk satu kali makan. Hihi. By the way pada saat akan belanja bahan – bahan ke pasar, stok di dapur tidak benar – benar habis. Jadi kalau ada yang bilang food preparation itu boros, mungkin iya ketika diawal – awal karena beli semua bahan dan bumbu – bumbu. Tapi setelah berjalan beberapa kali pasti akan terasa sangat hemat.
        Sekian tips food preparation ala saya ya. Tentunya tips ini akan beda prakteknya dengan ibu - ibu lainnya diluar sana karena selera makan tiap orang pun berbeda - beda. Semoga apa yang saya share disini bisa bermanfaat untuk siapa saja yang membaca, jika ada kesalahan dalam menerapkan ilmu food preparation silahkan komen ya.
         Jadi kamu sudah terapkan food preparation belum nih?

Menjadi Ibu Rumah Tangga Yang Baik, Mudahkah?


menjadi ibu rumah tangga yang baik

     Ibu rumah tangga memang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Katanya, ibu rumah tangga itu tidak perlu sekolah tinggi – tinggi, tidak perlu paham teknologi dan lain – lain. Katanya lagi, kan yang penting bisa masak, bisa beberes rumah serta bisa ngurus anak dan suami.
    Lalu, apa kabar dengan para ibu rumah tangga yang menyandang gelar sarjana? Oh sudah pasti menjadi target bullyan netizen. Di zaman yang semakin maju ini peran seorang wanita memang sudah tidak diragukan lagi. Banyak wanita yang bisa menjalani profesi yang dulunya hanya dijalani oleh laki – laki. Namun, tidak sedikit pula wanita yang rela menanggalkan karirnya demi fokus mengurus keluarga. Menurut saya, keduanya tidak ada yang salah karena pasti setiap orang punya alasan atas apa yang telah mereka pilih. Sebaliknya kita pun tidak boleh memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja.
    Tapi, namanya juga lidah tidak bertulang. Kita tidak bisa melarang netizen mau berkomentar apa. Kita memang harus kebal dan tutup telinga walaupun sebagai manusia pasti saja kita akan merasa baper atau tidak enak hati. Tenang, cukup buktikan saja dengan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik. Memang, didunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, saya yakin bahwa setiap orang bisa melakukan yang terbaik untuk perannya, sesuai porsi dan kemampuannya.
    Oke, lalu bagaimanakah menjadi ibu rumah tangga yang baik? Memang sih idealnya seorang ibu rumah tangga itu harus bisa masak, harus bisa ngurus anak, beres – beres, nyuci, nyetrika dan lain - lain. Istilahnya seorang istri harus bisa memegang tiga peran penting yaitu dapur, sumur, kasur. But, nobody’s perfect. Tidak semua istri benar – benar multitalenta, bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, punya bisnis sampingan juga dan punya body goals yang cantik terawat. Kalaupun ada yang bisa mengerjakan semuanya sendiri, tapi kita pun manusia yang punya batas kemampuan tenaga dan waktu. Andai kita harus mengerjakan semuanya sendiri dalam satu hari, bisa – bisa kita tidak tidur untuk sekedar beristirahat.
      Rumah tangga merupakan satu kesatuan yang harus utuh dan sejalan meski punya cara berbeda – beda untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, langkah awal untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik adalah dengan bertanya kepada suami. Apa sih yang diharapkan suami kepada kita sebagai seorang istri? Eh serius loh ini, silahkan bertanya kepada suami masing - masing ya.
     Laki – laki memang terkenal sangat menyukai keindahan. Laki – laki mana sih yang tidak betah liat istrinya yang cantik, seksi, segar dan wangi? Sebagai manusia normal, saya pun perempuan pasti suka dengan laki – laki yang seperti itu. Tapi itu hanya sebatas suka, bukan menjadi parameter dalam kehidupan saya. Begitupun laki – laki, setiap laki – laki punya parameter sendiri dalam rumah tangganya. Nah dalam hal ini benar – benar diperlukan keterbukaan bahkan diawal – awal pernikahan. Jangan sampai setelah menikah bertahun – tahun muncul konflik yang berasal dari ketidaktahuan atas keinginan pasangan.
     Saya ambil contoh dari saya sendiri, tapi apa yang saya tulis disini murni pengalaman saya pribadi tanpa bermaksud mempengaruhi pihak manapun. Sejujurnya, melihat perempuan lain yang cantik, seksi, langsing, punya karir bagus dan lain – lain. Sebagai seorang perempuan saya pun punya kekhawatiran, apakah suami saya mengharapkan hal tersebut ada pada diri saya? Kemudian saya pun bertanya apakah saya harus seperti itu? Apakah saya harus selalu dandan didepan suami? Lalu jawaban suami saya adalah bahwa anak yang harus menjadi prioritas utama. Setelah urusan anak selesai, baru urusan rumah tangga lain seperti memasak, mencuci baju dan lain – lain. Setelah semuanya selesai barulah berurusan dengan perawatan diri. Lantas, apakah itu artinya saya jadi bebas jajan tiap hari dan mandi sesempatnya saja? BIG NO!
      Meski jawaban suami saya seperti yang sudah dipaparkan diatas, namun saya menafsirkan bahwa kita sebagai istri harus lebih bijak menyikapi situasi dan kondisi. Ketika dalam satu kondisi yang tidak memungkinkan saya menjalankan semuanya, maka patokannya adalah skala prioritas tadi. Misal ketika anak sakit dan rewel, ya tidak apa – apa saya libur dulu masak dan beres – beres rumah. Tapi ketika anak sehat dan tidak banyak gangguan, kenapa tidak untuk selalu masak setiap hari? Menurut saya masakan itu bisa menciptakan bounding antara saya dengan anak dan suami saya. Ehemmm…
      Pun ketika suami saya menempatkan urusan penampilan saya di skala nomor tiga, bukan berarti saya jadi santai saja deh tidak mandi tidak cuci muka juga. Salah besar itu, apalagi islam pun sangat mencintai kebersihan kan? Sesibuk – sibuknya kita saya yakin masih sempat mandi meski hanya sekedar membasahi tubuh, istilahnya. Yang menjadi salah itu ketika anak belum diurus, kerjaan rumah belum beres, eh kita sebagai istri malah asyik dandan demi mendapatkan penampilan yang paripurna didepan suami. Atau ketika kondisi keuangan sangat pas – pasan, maka blacklist dulu keperluan untuk make up utamakan kebutuhan pokok rumah tangga.
     Intinya, sebagai seorang istri adalah bagaimana kita berusaha memberikan service yang terbaik untuk keluarga kita. Setiap keluarga pasti akan beda kebutuhan dan servicenya. Maka, menjadi ibu rumah tangga yang baik tidaklah sulit kok asal kita selalu menggunakan parameter yang digunakan oleh keluarga kita, bukan keluarga orang lain. Dan selama apa yang diharapkan oleh suami itu masuk akal dan tidak melanggar aturan agama, why not? Tapi dalam beberapa kasus ada suami yang menuntut banyak hal kepada istri sementara tidak diimbangi dengan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Astagfirullah, semoga keluarga kita semua dijauhkan dari hal tersebut.
      Dalam kasus ini bukan berarti saya merasa paling benar. Namun dalam kondisi saya yang tidak bekerja, tidak langsing dan tidak seksi ( emang dulu seksi? Hahah ), saya berfikir cuma dengan saya mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri adalah bentuk service terbaik saya untuk anak dan suami. Saya masih suka online di sosial media karena itu sebagai “ajang” hiburan tersendiri bagi saya yang sehari – harinya hanya dirumah mengurus anak, tapi ya kembali lagi bahwa prioritas utama saya adalah mengurus keluarga. Jadi saya tidak serta merta layah – leyeh depan handphone atau laptop sementara semua pekerjaan rumah masih berantakkan. Tapi bagaimanapun juga saya tetap butuh satu hari “longgar” dimana saya tidak masak, tidak nyuci baju, dan lain – lain sekedar untuk melepas penat. Tapi kalau setiap hari selalu “longgar” kok rasanya saya membuang banyak waktu tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat.
     Setelah saya berusaha memberikan service yang terbaik untuk keluarga, maka semuanya saya serahkan kepada Allah. Sebagai seorang istri dan ibu, saya sangat berharap bahwa hal sederhana yang selama ini saya lakukan bisa berarti besar untuk anak dan suami saya. So, menjadi ibu rumah tangga yang baik itu tidak sulit tapi perlu usaha yang maksimal dan tentunya doa kepada Allah agar suami dan anak kita selalu dalam dekapan kita, di dekat kita. Kita sebagai seorang istri pun selalu ada dihati anak dan suami kita.
     Tulisan ini saya persembahkan sepenuhnya untuk anak dan suami yang paling saya cintai. Semoga bermanfaat juga untuk pembaca ya J