Beberapa waktu yang lalu, saya iseng upload video belanja di pasar Maja Selatan dan ternyata banyak sekali respon positif dari teman - teman. Ah, hati ini jadi tergerak ingin meluapkan apa yang ada di dalam hati dan fikiran. Sebagai warga lokal, pasar Maja Selatan bukan sekadar tempat belanja sayuran. Baiklah, saya akan coba menulis tentang pasar Maja Selatan menggunakan beberapa kacamata yang berbeda.
Pasar Maja Selatan dalam Kacamata Seorang Ibu Rumah Tangga
Pasar Maja Selatan: Menemani Masa Kecil hingga Remaja
Berbicara tentang Pasar Maja Selatan, ingatan saya langsung flashback ke beberapa tahun ke belakang. Dulu, saat marketplace dan trend belanja online belum ramai seperti sekarang, saya merupakan salah satu pengunjung setia Pasar Maja Selatan. Mulai dari kebutuhan dapur hingga pakaian, semua bisa didapat di Pasar Maja Selatan. Bahkan, bisa dibilang Pasar Maja Selatan jadi tempat hiburan bagi kami keluarga menengah ke bawah. Saya rela menabung sisa uang jajan untuk bisa jalan - jalan ke Pasar Maja Selatan pada hari libur. Alat transportasi yang digunakan yaitu angkot berwarna kuning yang berhenti di terminal Maja. Saya harus berjalan beberapa menit untuk sampai di lokasi berbelanja. Sebenarnya, di dekat rumah ada pasar juga yaitu Pasar Maja Utara. Namun, jam operasionalnya lebih pendek dibanding Pasar Maja Selatan dan barang - barang yang dijual pun tidak terlalu lengkap.
Saat ini, Pasar Maja Selatan seperti hampir mati. Ruko - ruko yang dulu diisi oleh penjual mainan, makanan, alat tulis, pakaian hingga VCD bajakan itu, sekarang tak berpenghuni. Mirisnya lagi, banyak iklan ruko dijual. Bayangkan, siapa yang akan membeli atau menyewa ruko di tempat yang sepi pengunjung? Banyak yang bilang, sepinya Pasar Maja Selatan karena maraknya penjualan online. Saya paham, kebetulan orang tua juga pedagang kaki lima yang makin kesini makin banyak pesaing terutama dengan mereka yang menawarkan sistem delivery order.
Perkembangan zaman memang semakin maju dan semakin tidak terkendali. Kasarnya, mereka yang mampu bersaing dan beradaptasi, itulah yang bertahan. Jika dikaitkan dengan fenomena sepinya Pasar Maja Selatan saat ini, mungkin karena tidak adanya regenerasi. Saya berani bilang begitu karena masih melihat beberapa ruko yang 'hidup' dan dikelola oleh anak muda. Entah memang dikelola oleh anaknya atau dipindah kepemilikannya.
Saya pribadi, sudah jarang berbelanja kebutuhan kecuali kebutuhan pokok di Pasar Maja Selatan. Alasannya hampir sama dengan orang lain (mungkin, ya), yaitu karena pilihan barang tidak terlalu banyak dan tidak up to date seperti di platform oren. Selain itu, tentu saja karena status sebagai ibu rumah tangga dengan mobilitas terbatas, saya lebih sering berbelanja online agar lebih hemat waktu dan tenaga. Ada yang bisa menebak bagaimana nasib Pasar Maja Selatan dalam beberapa tahun ke depan?
Menjadi Ibu dengan Rutinitas Baru: Memasak untuk Keluarga
Semenjak ramai tren berbelanja online, saya memang jarang pergi ke Pasar Maja Selatan. Namun, sejak menjadi istri dan ibu, saya kembali menginjakkan kaki kesana untuk berbelanja kebutuhan dapur. Fyi, Pasar Maja Selatan ada dua jenis yaitu pasar ecer yang biasanya buka dari dini hari hingga siang hari dan pasar grosir sayuran yang buka dari sore hari hingga dini hari. Beberapa kios ada yang buka 24 jam, tetapi ketersediaan sayur biasanya melimpah di sore dan malam hari. Loh, kok tahu tentang pasar maja versi eceran dan grosiran? Kebetulan, orang tua saya adalah pedagang kaki lima yang bahan - bahannya didapat dari pasar. Sedikit banyak, saya tahu tentang Pasar Maja Selatan.
Pada saat itu, saya belum berjualan sayur di CFD dan kebutuhan sayur sebatas untuk beberapa hari atau maksimal satu Minggu. Saya biasa berbelanja jam 10 pagi setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai. Tentunya, dengan membawa gembolan alias anak - anak. Dalam sekali berbelanja, saya bisa mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk mengisi kulkas mulai dari protein, sayuran hingga bumbu dapur. Bagi sebagian orang, berbelanja di pasar merupakan pemborosan karena realita setelah belanja adalah banyak barang yang dibeli tidak sesuai kebutuhan. Saya pribadi, karena sudah terbiasa melakukan food preparation dan menemukan ritmenya, jarang berbelanja di luar rencana. Bahkan, saya merasa belanja di pasar itu jauh lebih hemat.
Pasar Maja Selatan: Pusatnya Sayuran di Majalengka
Teman - teman pasti sering mendengar, kalau mau belanja sayuran ya ke Maja. Kata orang tua zaman dulu, Pasar Maja Selatan memang pusatnya sayuran. Petani atau pengepul menjual sayuran segar disana dan belum ada ruko - ruko seperti sekarang. Kebayang konsep pasar zaman dulu nggak? Dimana pembeli dan penjual tumpah di satu tempat. Katanya sih, sebagai generasi milenial yang tidak merasakan ada di zaman tersebut, saya percaya saja dengan cerita orang tua.
Sekarang, kondisi Pasar Maja Selatan yang jadi pusat sayuran tersebut sudah banyak berubah. Disana, terdapat beberapa ruko yang digunakan oleh pedagang untuk menjual sayurannya. Selain pedagang di ruko, banyak juga pedagang yang menjual sayurannya di emperan ruko orang lain atau di emperan ruko yang tidak berpenghuni. Saya, mengenal Pasar Maja Selatan dimana sudah terdapat ruko - ruko yang letaknya berada di belakang Pasar Maja Selatan untuk pedagang eceran.
Keputusan untuk berjualan sayur di CFD Majalengka pada tahun 2025, membawa sepasang kaki ini mondar mandir disana. Jujur, awalnya agak bingung berbelanja disana. Jadi, disana terdapat beberapa tipe pedagang. Yang saya tahu, ada pedagang besar dan pedagang kecil. Pedagang besar adalah mereka yang menjual sayur karungan (min 10 kg), sedangkan pedagang kecil adalah mereka yang menjual sayur dalam satuan kilogram atau setidaknya 1/4 kg. Ya, jangan sampai belinya cuma 2000 seperti di tukang sayur keliling. Heheh...
Bermodalkan keberanian alias nggak tahu malu ini, saya menjelajahi ruko demi ruko. Ngobrol dengan beberapa pedagang, bertanya hal apapun yang tidak saya ketahui sampai alhamdulillah sekarang punya banyak kenalan dengan pedagang - pedagang disana. Masyaallah.
Pasar Maja Selatan dalam Perspektif Agribisnis
Sebagai lulusan agribisnis, saya coba melihat Pasar Maja Selatan dari sudut pandang yang berbeda. Secara garis besar, Pasar Maja Selatan sama saja seperti pasar tradisional pada umumnya. Becek, kotor, bau bawang dan lain - lain. Heheh... Entah, apakah pemerintah berencana untuk mengubah Pasar Maja Selatan menjadi lebih modern? Ya, untuk meningkatkan minat masyarakat kembali berbelanja di pasar tradisional. Oke, kembali ke topik awal. Pasar Maja Selatan memang sama saja seperti pasar tradisional pada umumnya. Hanya saja, disini ada pasar grosir sayuran yang terletak di bagian belakang. Konsepnya, kurang lebih menyerupai konsep pasar induk jika di kota - kota besar.
Lalu, apa bedanya Pasar Maja Selatan dengan pasar induk yang ada di kota - kota besar? Sepintas, konsepnya memang hampir sama yaitu sama - sama pasar tempat terjadinya transaksi jual beli sayuran. Namun, ada sedikit perbedaan jika ditelusuri lebih dalam. Sejujurnya, saya agak kesulitan mencari referensi terkait Pasar Maja Selatan yang berstatus Sub Terminal Agribisnis (STA). Namun, saya pernah baca di salah satu portal berita yang menjelaskan bahwa Bupati Majalengka berharap Pasar Maja Selatan yang berstatus STA bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperlancar pemasaran produk pertanian. Berdasarkan PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 98 TAHUN 2020, STA adalah tempat penampungan hasil produksi pertanian. Secara sederhana, Pasar Maja Selatan secara fisik memang sama saja dengan pasar tradisional lainnya. Namun, secara manajerial idealnya memang harus melaksanakan berbagai fungsi STA tersebut. Nah, saya nggak berani berkomentar banyak karena pengetahuan saya tentang Pasar Maja Selatan sebagai STA, tidak terlalu banyak. Please, teman - teman yang lebih paham, boleh tulis sesuatu di kolom komentar ya.
Jadi, apakah Pasar Maja Selatan mirip dengan pasar induk yang ada di kota - kota besar? Sepintas mungkin iya. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, terdapat sedikit perbedaan. Pasar Maja Selatan merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli. Kalau mendengar dari cerita orang tua zaman dulu, mungkin awal mula terbentuk pasar tersebut karena adanya kebutuhan petani untuk menjual hasil buminya. Makanya, lokasi Pasar Maja Selatan letaknya dekat dengan pusat pertanian. Sementara, pasar induk biasanya (yang saya lihat di kota - kota besar), terletak dekat dengan pusat kota sehingga pedagang atau konsumen bisa lebih mudah menjangkau pasar tersebut. Kalau memang Majalengka mau membuat pasar induk, sepertinya lokasinya harus agak turun ke area Kadipaten kan? Tetapi proses distribusi dari kebun jadi lebih panjang dan akan berpengaruh pada kualitas sayuran yang akan dijual. Jadi, wajar kalau teman - teman belanja sayur ke pasar Maja tuh masih segar - segar karena biasanya baru dipetik dan langsung dijual ke pasar. Minusnya, ya memang sayurannya tidak terlalu lengkap. Yes, balik lagi karena Pasar Maja Selatan memang bukan pasar induk.
Hmmmm.. akhirnya selesai juga I tulisan tentang Pasar Maja Selatan yang sudah berbulan - bulan ini. Hehe.. See youuu!
Post a Comment for "Pasar Maja Selatan dalam Kacamata Seorang Ibu Rumah Tangga"