Lewat HPL Belum Melahirkan? Jangan Panik! Ini Ceritaku Melahirkan Si Buah Hati.


Menginjak bulan Maret, perasaan mulai tak tenang karena tanggal 19 Maret merupakan HPL si baby Anggun. Seminggu sebelum HPL, belum ada tanda - tanda sama sekali hanya mules - mules sedikit itu pun tidak beraturan. Bidan pun menyarankan berbagai cara agar cepat terjadi pembukaan mulai dari jalan pagi, senam hamil sampai berhubungan int*m dengan suami. Semua sudah saya lakukan kecuali senam hamil ( alasan gak ada yang nganter haha ) tapi tetap belum ada tanda - tanda si cinta akan launching. Sampai - sampai setiap kali cek ke bidan ( masuk 9 bulan cek ke bidan seminggu sekali ), beliau selalu bilang "neng banyak gerak ya biar ada pembukaan, sudah mendekati waktu persalinan".

Senin, 19 Maret 2018 merupakan hari terakhir cek ke bidan dan masih belum ada tanda - tanda akan melahirkan. Akhirnya bidan pun menyarankan untuk pergi ke salah satu dokter kandungan yang beliau rekomendasikan maksimal sampai tanggal 23 Maret. Kebetulan dokter tersebut bukanlah dokter tempat saya biasa melakukan USG. Tanpa pikir panjang, besoknya saya dan suami langsung ke dokter tersebut dan menceritakan kronologinya. Alhamdulillah dokter tersebut sangat terbuka dan membolehkan kami memilih mau lahiran dibidan, klinik atau rumah sakit. 

Kehamilan saya waktu itu memang sudah lewat HPL, tapi jika lewat HPL masih dibawah satu minggu itu masih aman menurut dokter. Akhirnya kami memutuskan untuk lahiran dibidan saja sehingga dokter meresepkan obat untuk melunakkan mulut rahim atau kalau orang - orang awam biasa menyebutnya obat perangsang. Obat tersebut harus saya minum hari itu jam 7 pagi ( kebetulan saya periksa sekitar jam 6 pagi ), jika tidak ada reaksi diminum lagi jam 7 malam. Tapi jika sampai malam belum juga ada reaksi, saya harus segera kembali ke klinik tersebut untuk melahirkan dengan induksi.

Setelah minum 2 kali obat tersebut, malam tanggal 20 Maret 2018 saya merasakan mules - mules. Malam itu sekitar jam 12 malam atau sudah hampir jam 1 tanggal 21 Maret ya, saya langsung pergi ke bidan dan setelah dicek ternyata sudah pembukaan 1. Bidan memberikan pilihan mau menunggu disana atau pulang lagi ke rumah, saya lebih memilih pulang ke rumah. Kata bidan, kalau mulesnya sudah sering dan keluar ketuban atau darah langsung kesini saja karena itu tandanya sudah mendekati waktu persalinan. Nah, jam 8 pagi tanggal 21 Maret saya merasakan mules yang semakin sering. Akhirnya saya kembali lagi ke bidan dan katanya sudah pembukaan 1,5. Bidan menyarankan untuk banyak gerak dan kembali meminum obat yang diresepkan oleh dokter tersebut. Kemudian malam sekitar habis isya, saya merasakan mules yang semakin luar biasa. 

Saya kembali datang kebidan dan setelah dicek ternyata sudah pembukaan 2 tapi masih tipis sekali ( saya juga kurang paham maksud tipisnya itu hehe ). Oke, pada saat itu kami memutuskan untuk menginap di bidan supaya tidak bolak - balik takutnya pembukaan bertambah. Meskipun malam hari tapi saya tetap semangat untuk bergerak dengan harapan pembukaan semakin bertambah. Tapi sampai tengah malam bukaan belum juga bertambah, akhirnya bidan menyarankan untuk istrahat dan segera berangkat ke dokter besok untuk melakukan induksi. 

Besoknya, tanggal 22 Maret 2018 kami sekeluarga sudah bersiap - siap untuk berangkat ke dokter. Namun sebelum berangkat ke dokter, bidan memberikan dua pilihan. Pilihan pertama yaitu berangkat ke dokter sekarang untuk melakukan induksi dengan harapana proses melahirkan bisa berjalan cepat. Namun jika induksi gagal maka harus berlanjut SC. Pilihan kedua yaitu ditunggu maksimal sampai malam hari, jika sampai malam belum juga melahirkan maka tanggal 23 Maret pagi harus segera pergi ke dokter untuk induksi.

Saya sempat bingung karena satu sisi saya sudah lelah bolak - balik sana sini, ingin segera melahirkan. Tapi disisi lain saya takut jika induksi gagal harus menjalani operasi. Akhirnya saya memutuskan untuk sabar menunggu satu hari lagi dirumah. Kami pun pulang kerumah pagi itu. Dirumah saya sudah tidak bersemangat, tidak melakukan senam hamil dan jalan - jalan lagi malah yang difikirkan adalah makan dan makan hihi. Dalam hati sudah pasrah apapun jalannya yang penting semuanya sehat dan selamat. Tiba - tiba jam 10 malam saya merasakan mules yang agak aneh sih. Rasa mules ditambah ingin buang air kecil tapi susah. Oh iya ditambah ada darah juga ya seperti menstruasi sampai - sampai saya pakai pembalut saking banyaknya. Saya coba tahan mules tersebut sampai jam 2 pagi tanggal 23 Maret 2018. Setelah itu saya dan keluarga langsung kebidan karena saya sudah tidak kuat menahan mulesnya. Alhamdulillah ternyata sudah pembukaan 4 dan saya disuruh langsung memasuki kamar bersalin.

Dari pembukaan 4 sampai pembukaan 9 berjalan cepat, saya sudah sampai pembukaan 9 di jam 9 pagi dari pembukaan 4 jam set 2 dini hari dan rasa sakitnya masih bisa saya nikmati. Tapi dari pembukaan 9 ke pembukaan 10 berjalan sangat lama, pada saat itu yang saya rasakan adalah mules yang sangat hebat seperti ingin BAB tapi tidak boleh mengejan karena pembukaan belum lengkap. Pada saat itu saya benar - benar tidak bisa menahan sakit hingga akhirnya menangis sambil terus meremas - remas lengan emak dan suami hihihi, malu deh kalo inget sekarang. Ketika pembukaan sudah lengkap, bidan menuntun saya untuk mengejan dan rasanya susah sekaliiii heuheu. Tapi saya punya tenaga lebih ketika bidan bilang, "ayo ayoo nanti dede bayinya tidak nafas" lalu tidak begitu lama keluarlah si baby Anggun dan pecah tangisanku sambil memeluk si baby. Rasanya campur aduk dan susah untuk dijelaskan. Sambil si baby Anggun disimpan didada untuk IMD, bidan bilang kalau saya cukup dijahit satu jahitan saja karena hanya ada bekas lecet. Alhamdulillah saya agak sedikit lega mendengarnya, tapi ketika dijahit ternyata rasanya tetap gurih - gurih nyoy hihi.

Setelah dijahit, dibersihkan dan berbagai treatment lainnya bidan membolehkan saya pulang dengan syarat saya sudah bisa buang air kecil. Karena saking inginnya pulang ke rumah saya minum banyak air putih supaya cepat buang air kecil hahha dan alhamdulillah jam 4 saya sudah bisa buang air kecil walaupun perihnya tuh disini hehe. Akhirnya jam 5 sore saya sudah bisa pulang kerumah. Hufftt perjalanan yang melelahkan dari hari Selasa bolak balik sana sini dan baru lahir har Jumat, tapi semua lelah itu terbayar saat melihat si kecil lahir dengan sehat dan selamat. Terima kasih ya Allah...

Dari pengalaman saya melahirkan bisa disimpulkan bahwa mau lahiran dimanapun semuanya bagus kok, bidan, dokter atau rumah sakit karena yang terpenting adalah kenyamanan si ibu. Saya memang sudah niat lahiran dibidan karena homey sekali hihi, kalau di klinik atau rumah sakit kan suasananya "khas" sekali ya hehe. Semangat untuk para bumil yang akan melahirkan dan semangat pula untuk para ibu baru untuk mengasuh sibuah hati :)

No comments