Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES, SIAPA YANG HARUS BERGERAK?

Pengelolaan Sampah Berbasis Zero Waste Cities


Pengelolaan Sampah Berbasis Zero Waste Cities, Siapa Yang Harus Bergerak? Teman, apa yang kalian fikirkan ketika melihat tumpukkan sampah di foto tersebut? Foto tersebut merupakan foto salah satu daerah di Majalengka yang terdampak banjir minggu kemarin. Ketika melihat foto diatas, hati kecil saya langsung bertanya, gunungan sampah itu punya siapa ya? Bisa jadi itu sampah yang dibuang dari rumah saya, tetangga saya, bahkan mantan saya. Eaaaaa… Jika berbicara soal sampah, maka kita berbicara sesuatu yang berkelanjutan, prosesnya panjang dari hulu sampai hilir. 

Ironisnya lagi, sampah – sampah tersebut tidak bisa dipastikan siapa pemiliknya. Andai sampah tersebut jelas pemiliknya siapa, ketika di jalanan melihat sampah yang berserakkan mungkin kita cukup ambil dan kembalikan ke pemiliknya atau upload di sosial media dan mention akun si pemilik supaya bisa mengambil sampah yang sudah dibuangnya sembarangan. Ehh… ehh… ini nggak ngomongin orang lain sih, saya lhoo… 

BENARKAH HARUS BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA?

Buanglah Sampah Pada Tempatnya!

Gaes, tentunya sering melihat kalimat tersebut di jalan raya, di tong sampah, di area bermain atau di tempat lainnya? Membuang sampah pada tempatnya adalah perbuatan terpuji. Bahkan orangtua pun tak jarang memberikan pujian bagi anak yang membuang sampah pada tempatnya. Sebagai seorang ibu, saya pun sering merasa terharu ketika anak saya yang masih balita membuang sampah bekas cemilannya ke tempat sampah dengan inisiatif sendiri. Lalu, di zaman now ini apakah buang sampah pada tempatnya bukan lagi perbuatan terpuji? Membuang sampah pada tempatnya tentu saja perbuatan terpuji dan harus ditanamkan kepada anak cucu kita. Tapi, membuang sampah pada tempatnya tanpa dilakukan pengelolaan sampah yang tepat memang kurang relevan dengan kondisi saat ini. 

Membuang sampah pada tempatnya yang berawal dari rumah ke TPS ( Tempat Pembuangan Sementara ) hingga berujung TPA ( Tempat Pembuangan Akhir ) hanya melakukan perpindahan tempat saja. Di TPA, sampah – sampah tersebut akan tetap menjadi sampah yang tak bertuan. Buruknya, laju pertumbuhan penduduk semakin cepat namun tidak diiringi dengan pertambahan TPA. Dikutip dari jurnal  Pengelolaan Sampah Berbasis Zero Waste Skala Rumah Tangga, bahwa peningkatan jumlah sampah seiring deret ukur sedangkan ketersediaan lahan TPA sampah mengikuti deret hitung. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana menumpuknya sampah dari tahun ke tahun di suatu TPA? Itu baru sampah yang ada di TPA, belum lagi sampah yang tak jelas rimbanya alias berserakkan dimana – mana.

pengelolaan sampah berbasis zero waste cities

Saya jadi teringat dengan kejadian di TPA Leuwigajah yang diceritakan oleh Teh Anil ketika mengisi acara virtual dengan judul "Cegah Tragedi Leuwigajah Terulang". Duh, kalau baca berita itu saya kok ngeri ya? Nggak kebayang deh keluarga korban pasti lebih tersayat – sayat setiap mengingat kembali bencana longsoran sampah yang banyak menelan korban jiwa tersebut.

SALAH MEMILIH TEKNIK PENGELOLAAN SAMPAH, SOLUSI BERUJUNG MASALAH

Teman, pernahkah kalian membakar sampah di halaman rumah? Membakar sampah memang membantu kita dalam mengurangi jumlah sampah secara cepat, ya. Tapi asap dari pembakaran tersebut tentunya membuat pernafasan kita jadi sesak. Dari pembakaran secara sederhana saja kita sudah bisa melihat betapa pengelolaan sampah dengan cara dibakar sangat tidak baik untuk kesehatan dan lingkungan. Bayangkan jika pembakaran tersebut dilakukan dalam skala besar?

LKM ( Lembaga Keswadayaan Masyarakat ) Sabilulungan yang terletak di blok Sabtu desa Burujul Wetan Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka merupakan salah satu titik pengelolaan sampah yang melakukan pengelolaan sampah anorganik dengan cara dibakar. Berawal dari kebiasaan Pak Enceng yang setiap pagi harus membuang sampah ke TPS yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Kemudian Pak Enceng bersama rekan – rekan berinisiatif untuk melakukan pengelolaan sampah secara “kecil – kecilan”, bahkan awalnya menggunakan dana pribadi. Kemudian datanglah program Kotaku ( kota tanpa kumuh ) dari kementrian PUPR dan para pengelola sampah ini mengusulkan untuk dibuatkan tempat pengelolaan sampah. Sampai sekarang, LKM Sabilulungan ini masih dibawah pendampingan Kotaku.

Alur Pengelolaan Sampah

pengelolaan sampah berbasis zero waste cities

Alur pengelolan sampah di blok Sabtu Desa Burujul Wetan yaitu petugas mengambil sampah yang belum dipilah dari rumah ke tempat pengelolaan sampah. Setelah sampai di tempat pengelolaan, sampah organik dipilah untuk diolah menjadi kompos sementara sampah anorganik dibakar dengan tungku pembakaran. Sementara untuk sampah yang bisa dijual kembali seperti kardus dan bekas botol minuman akan dijual ke pengepul. Masyarakat membayar iuran sebesar Rp.5.000/minggu tanpa dipengaruhi sedikit banyaknya sampah yang diangkut. 

Sampah organik yang sudah berubah menjadi kompos kemudian dijual ke kios – kios tanaman. Sejauh ini prospeknya cukup menggiurkan, apalagi di tengah pandemi begitu banyak orang yang beralih minat jadi pecinta tanaman. Saking larisnya, Pak Enceng dan kawan – kawan kewalahan tidak bisa memenuhi permintaan pupuk kompos apalagi sekarang mesin pencacah kompos sedikit bermasalah. Tak habis akal sampai disitu, para pengelola sampah sedang melakukan percobaan pembuatan kompos secara manual. Jika berhasil maka akan terus memproduksi kompos dengan cara tersebut meskipun proses pembuatan kompos jadi memakan waktu lebih lama.

pengelolaan sampah berbasis zero waste cities

“Pak, ini komposnya dijual berapa dan beratnya berapa gram?”

Jiwa emak – emak saya memang selalu kepo dengan urusan harga. Pak Enceng dan kawan – kawan hanya tersenyum, karena menurut mereka tidak ada timbangan pasti dalam menjual pupuk komposnya hanya berdasarkan ukuran plastik saja dan dijual dengan harga Rp.7000/ plastik. Oh ya, semua keuntungan dari pengelolaan sampah ini dialokasikan untuk gaji pengelola, operasional ( tungku pembakaran ) dan sebagian lagi digunakan untuk dana sosial seperti untuk mengurus jenazah warga yang meninggal.

Keren!

Itu yang terucap dari benak saya ketika mendengar Pak Enceng bercerita panjang lebar mengenai sejarah dimulainya tempat pengelolaan sampah tersebut. Kenapa sih saya nggak kefikiran seperti mereka? Padahal saya tinggal di lokasi yang banyak potensi sampah organiknya, saya tinggal di daerah pegunungan makanya orang – orang sering bilang saya “orang gunung”. Dari langkah sederhana saja ternyata sudah bisa “menghidupkan” banyak sektor. Namun satu yang cukup mengganjal, yaitu soal teknik pembakaran. Beberapa menit di lokasi saja saya sudah tidak nyaman, nafas saya sesak terlebih ketika ada angin semilir menghembuskan asap pembakaran tersebut masuk ke lubang hidung saya. Duh, untung pakai masker jadi asapnya agak kena filter oleh masker! Saya nggak kebayang deh para pengelola sampah itu yang setiap hari harus berada dekat dengan tungku pembakaran.

Tungku Pembakaran Sampah, Solusi Berujung Masalah

pengelolaan sampah berbasis zero waste cities

“Pak, memangnya nggak pernah pusing atau sesak gitu?”

Dengan polos saya bertanya kepada bapak – bapak pengelola sampah tersebut. Kemudian mereka menjawab dengan berbagai narasi yang intinya mereka pun mengeluh dengan asap pembakaran tersebut namun untuk saat ini hanya dengan teknik pembakaran lah mereka mampu menangani sampah anorganik yang tidak punya nilai jual. Bahkan mereka sangat terbuka jika ada pihak – pihak yang bisa memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi terkait teknik pembakaran sampah ini.

Memang sih, pengurangan sampah dengan cara dibakar terbilang efektif dan cepat. Bayangkan deh, kasur yang sudah dianggap sampah oleh pemiliknya pun mampu dibabat habis. Kebayang ngga berapa suhu yang dihasilkan oleh teknik pembakaran tersebut dan seperti apa asap yang dihasilkan?

“Untung lokasi ini jauh dari pemukiman.”

Begitulah ungkap Pak Enceng seakan menyadari bahwa asap pembakaran sampah memang sangat berbahaya untuk kesehatan dan lingkungan namun mereka tidak punya pilihan lain. Yup, meski lokasi pengelolaan sampah berada jauh dari pemukiman tapi lama kelamaan tidak menutup kemungkinan polusi dari pembakaran akan “merayap” mendekati pemukiman warga.

Dilansir dari situs alodokter, asap pembakaran sampah bisa mengeluarkan bahan – bahan berbahaya jika terhirup seperti karbonmonoksida, formaldehida, arsenik, dioksin dan furan. Residu pun bisa terserap oleh Tanaman dan hewan yang selanjutnya dikonsumsi manusia. Hal tersebut senada dengan yang tertulis di laman YPBB bahwa teknik pembakaran masih menghasilkan polusi yang berbahaya dan menimbulkan anggapan baru bagi masyarakat untuk bebas menghasilkan sampah.  

ZERO WASTE CITIES, PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN DAN RAMAH LINGKUNGAN

Di Indonesia, aturan mengenai pengelolaan sampah tertuang dalam Undang – Undang No.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Namun, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah yaitu bagaimana pengelolaan sampah bisa menangani sampah tanpa memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Hal ini serupa dengan yang dialami oleh LKM Sabilulungan. YPBB melalui proyek Asia Pacific Action Against Plastic Pollution: Reducing Land-Based Leakage of Plastic Waste in Philippines & Indonesia Through Zero Waste Systems and Product Redesign, dibawah supervisi MEF akan mengembangkan model pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan di kawasan pemukiman. Zero Waste Cities merupakan salah satu program dari YPBB.

Zero Waste Cities adalah sistem pengelolaan sampah yang menganut prinsip berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dan ramah lingkungan diharapkan mampu menghidupkan siklus material alam. Philipina, negara yang secara geografis dekat dengan Indonesia juga memiliki permasalahan sampah yang hampir sama ternyata sukses menerapkan Zero Waste Cities di 244 kelurahan dari 4 kota besar dan 15 kota kecil. Di Indonesia, program ini sukses dilaksanakan di 2 kelurahan dan 2 kecamatan di Kota Bandung, 5 desa di kabupaten Bandung dan seluruh kota Cimahi. 

Pengelolaan Sampah Berdasarkan Zero Waste Cities

Menurut Dr.Kamalia Purbani, MT selaku ketua Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan Kota Bandung dalam channel youtube Zero Waste Asia, pada dasarnya pengelolaan sampah ada 2 macam yaitu penanganan dan pengurangan. Penanganan sampah adalah pengelolaan sampah dengan cara membawa sampah ke TPS. Sementara Zero Waste Cities berfokus pada pengurangan sampah yang diimplementasikan melalui Kang PisMan ( KurANGi PISahkan dan MANfaatkan ) atau sebelumnya lebih dikenal dengan 3R ( Reduce, Reuse, Recycle ). Kunci pengelolaan sampah dengan prinsip Zero Waste Cities yaitu dengan melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. 

Jika mengacu pada undang – undang tentang sampah, pembagian sampah terbagi ke dalam 3 jenis yaitu sampah rumah tangga, sampah sejenis rumah tangga dan sampah spesifik. Zero Waste Cities berfokus pada sampah rumah tangga, jadi yang dimaksud "sumber" disini yaitu rumah. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa sampah rumah tangga itu tidak punya dampak besar untuk permasalahan sampah yang ada di Indonesia. Sampah rumah tangga merupakan komponen terkecil yang menyumbang sampah dalam suatu kawasan, namun timbulan sampah yang dihasilkan dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga yang ada. Ibarat pepatah, sedikit  – sedikit lama – lama menjadi bukit.

Pembagian jenis sampah rumah tangga dibagi 2 jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Nah, perbedaannya sudah pada tahu dong? Sampah organik dilakukan pengelolaan dengan pengomposan. Ada beberapa macam teknik pengomposan yang bisa disesuaikan dengan potensi dan kondisi di kawasan, diantaranya :

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES

1. Lubang Kompos

Lubang kompos cocok digunakan untuk pembuatan kompos skala kawasan, misalnya satu RT/RW. Andai masyarakat tidak punya banyak lahan, lubang kompos bisa jadi opsi dalam pembuatan kompos. Satu lubang kompos bisa digunakan oleh satu kawasan. Satu lubang kompos dengan ukuran 1 meter kubik dapat menampung 12-14  ember sisa makanan lunak dan 18-21 karung sisa makanan keras, daun dan ranting. Selengkpannya mengenai lubang kompos bisa dilihat disini.

2. Bata Terawang

Bata terawang hampir mirip dengan lubang kompos, bisa menampung kompos dalam jumlah besar. Perbedaannya terletak pada penggunaan batu bata yang disusun setinggi 1 – 1,5 meter untuk menampung sampah organik. 

3. Biodigester

Biodigester merupakan teknologi pengomposan yang lebih canggih karena hasil pengomposan tak hanya jadi pupuk melainkan menjadi gas. Teknik pengomposan ini juga cocok digunakan untuk skala besar. Salah satu kelurahan yang sudah memanfaatkan biodigester adalah RW 9 di Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung. Cara kerja dan penggunaan biodigester bisa didapatkan di Biomethagreen.

4. Takakura

Metode pengomposan takakura ini digunakan untuk pengomposan sampah organik lunak atau sisa makanan. Maka dari itu metode pengomposan ini paling cocok digunakan untuk skala rumah. Untuk lebih jelasnya mengenai metode takakura bisa dilihat salah seorang trainer YPBB yang melakukan pengomposan dengan metode takakura pada video disini.

5. Lubang Resapan Biopori

Lubang biopori juga cocok digunakan untuk pengomposan skala rumah tangga. Namun metode ini hanya bisa diterapkan bagi rumah yang punya lahan luas. Cara pembuatannya sangat mudah yaitu dengan membuat lubang bor sedalam 1 meter kemudian diisi sampah organik. Selengkapnya mengenai resapan lubang biopori bisa dilihat disini.

Jika sampah organik dilakukan pengomposan, maka sampah anorganik diangkut ke TPS atau jika masih punya nilai jual, bisa dijual ke pengepul. Lebih baik lagi jika sampah anorganik dijadikan "sesuatu" sehingga dari proses pengelolaan sampah benar – benar tidak ada yang dibuang dan menghasilkan nol sampah. Oh ya selain dijual ke pengepul dan dibuat kerajinan tangan, sampah anorganik juga bisa dijual ke bank sampah. Memang tidak semua daerah punya bank sampah, tapi belakangan ini cukup banyak bank sampah yang tumbuh untuk ikut membantu mengurangi masalah sampah salah satunya yaitu Banjaran Hilir Recycle yang digagas oleh pemuda di desa Banjaran Hilir Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengaka. By the way, andaikan nol sampah masih sulit terlaksana, setidaknya Zero Waste Cities bisa mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke TPS/TPA. 

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES


Kenapa sih harus dipilah dari sumbernya? Ribet!

Sampah organik yang tidak dipilah dari sumbernya akan bercampur dengan bahan – bahan lain dan bisa terkontaminasi bahan beracun, hal ini jelas berbahaya jika sampah organik yang sudah diolah akan digunakan kembali untuk pupuk atau pakan ternak dan ikan. Dengan adanya sistem pemilahan sampah dari sumbernya ini, metode pengelolaan sampah bisa lebih terdesentralisasi dan pengomposan bisa disesuaikan dengan wilayah/kawasan. Goals lain dari program Zero Waste Cities yaitu bisa menciptakan sistem dengan pengelola yang jelas, kebijakan dari pemerintah serta pembiayaan berkelanjutan. 

Tahapan – tahapan Dalam Pelaksanaan Zero Waste Cities

pengelolaan sampah berbasis zero waste cities

Dikutip dari newsletter YPBB, berikut tahapan – tahapan dalam melaksanakan Zero Waste Cities :

1. Kajian Kondisi Kelurahan

Tahap ini merupakan langkah awal dalam pelaksanaan Zero Waste Cities. Pada tahap ini dilakukan survey lengkap mengenai profil kawasan secara detail, data pengelolaan sampah serta survey persepsi masyarakat.

2. Desain Sistem Pengelolaan Sampah Kawasan

Pada tahap ini dilakukan pengolahan data yang didapat dari tahap pertama agar bisa dirumuskan desain sistem pengelolaan sampah yang paling sesuai.

3. Konsultasi Sistem Pengelolaan Sampah Dengan Stakeholder Kawasan

Pada tahap ini dilakukan konsultasi dengan pihak tokoh – tokoh penting dalam masyarakat seperti kepala desa, RT/RW, karang taruna, PKK serta petugas sampah yang bertugas di kawasan. Dalam jangka panjang, perlu dilakukan pengembangan Rencana Teknis Pengelolaan Sampah untuk ruang lingkup kota/kabupaten. Sementara untuk kawasan kelurahan, teknis pengelolaan sampah berupa kesepakatan – kesepakatan agar program bisa berjalan sesuai rencana.

4. Persiapan Sarana Pendukung Pengelolaan Sampah Kawasan

Setelah sistem terbentuk, langkah selanjutnya yaitu mendata sarana dan prasarana apa saja yang dibutuhkan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan umumnya meliputi sarana pengangkut sampah terpilah serta sarana pengomposan komunal.

5. Pelatihan Petugas Sampah Dan Edukasi Warga

Petugas sampah perlu mendapatkan pelatihan terkait pemilahan sampah untuk selanjutnya diharapkan bisa mengedukasi warga belum tepat dalam memilah sampah.

6. Door To Door Education

Kader edukasi akan mengedukasi warga dari rumah ke rumah mengenai pemilahan sampah yang benar.

7. Door To Door Collection dan Perbaikan Sistem

Door To Door Collection penting dilakukan sebagai uji coba pengangkutan terpilah. Jika belum baik maka bisa dilakukan perbaikan sistem.

8. Penerapan Penuh Sistem Pengelolaan Sampah

Setelah melewati tahap ujicoba dan perbaikan sistem yang dirasa kurang tepat, lalu mulai diterapkan secara berkelanjutan dalam sebuah kawasan.

9. Monitoring Dan Evaluasi

Monitoring door to door collection dilakukan setiap hari pengumpulan sampah pada 3 bulan pertama penerapan sistem, selanjutnya frekuensi monitoring bisa dikurangi.

PENGELOLAAN SAMPAH DI LKM SABILULUNGAN SUDAH SESUAI DENGAN PRINSIP – PRINSIP ZERO WASTE CITIES, BELUM?

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES


Seperti sudah disebutkan diatas bahwa hanya beberapa wilayah di Indonesia yang sudah menerapkan Zero Waste Cities dan salah satunya yaitu di Kota Bandung. Zero Waste Cities yang diimplementasikan dalam Kang Pisman, pada tahun 2020 dilakukan pengembangan menjadi Waste To Food. Dengan adanya Waste To Food ini diharapkan siklus material kawasan bisa hidup kembali karena sampah organik yang biasanya dibuang, diolah menjadi kompos. Kompos tersebut kemudian dijadikan pupuk tanaman dan magot untuk pakan ikan/ternak. 

Menurut Dr.Kamalia Purbani, MT, konsep Waste Food ini diharapkan bisa membangkitkan minat masyarakat untuk mengelola sampah lebih dari sebelumnya. Dengan adanya Waste Food ini tak hanya berbicara mengenai pengelolaan sampah namun juga sudah punya nilai ekonomi. Setelah ada nilai ekonomi, biasanya masyarakat akan lebih semangat dan diharapkan bisa berkelanjutan. Untuk sementara, Waste Food ini masih diberlakukan uji coba di beberapa kelurahan di kota Bandung. Jika Waste Food sudah berjalan dengan baik maka akan membentuk sebuah sistem. 

Ketika sistem sudah terbentuk, maka pengelolaan sampah bukan hanya "hajat" DLHK saja, tapi menjadi hajat banyak instansi. Contohnya, program BURUAN SAE yaitu program pemanfaatan pekarangan. Program tersebut merupakan program Dinas Ketahanan Pangan, namun bersinggungan dengan Dinas Lingkungan Hidup karena menggunakan pupuk kompos yang merupakan hasil dari pengelolaan sampah. Itu pun yang terjadi di Burujul Wetan, saya fikir LKM yang melakukan pengelolaan sampah ini didampingi oleh Dinas Lingkungan Hidup tapi ternyata dibawah pendampingan Kotaku. 

“Ini mah setengah – setengah!”

Begitulah ucap Pak Enceng merespon obrolan saya mengenai pengelolaan sampah dengan prinsip Zero Waste Cities. Jika dilihat dari pengelolaan sampah organik menjadi kompos, sudah sesuai dengan prinsip Zero Waste Cities. Namun bila melihat proses pengurangan sampah anorganik dengan cara dibakar tentu saja ini kurang sesuai dengan prinsip Zero Waste Cities yang harus ramah lingkungan. Selain itu pemilahan dilakukan di tempat pengolahan bukan di sumbernya, jelas ini sangat tidak sesuai prinsip Zero Waste Cities yang harus melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah.

Jadi kalau ditanya apakah pengelolaan sampah di LKM Sabilulungan sudah sesuai dengan Zero Waste Cities? Jawabannya, belum. Tapi, LKM Sabilulungan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat pengelolaan sampah berbasis Zero Waste Cities. Berikut beberapa potensi dari LKM Sabilulungan yang sayang jika tidak dioptimalkan :

a. Adanya minat dan kesadaran masyarakat sekitar untuk mengelola sampah dari kawasan, terlihat dari adanya insiatif sendiri ketika awal pembentukkan. Ini merupakan modal awal untuk memulai Zero Waste Cities mengingat begitu banyaknya orang yang tidak peduli dengan urusan sampah.

b. Adanya lahan khusus untuk tempat pengelolaan sampah. Mengingat apa yang diungkap oleh Kang Riyan selaku Koordinator ZWC Kota Bandung dalam live Zoom, bahkan ada beberapa wilayah di Bandung yang tidak punya lahan untuk tempat pengelolaan sampah sehingga harus berkoordinasi dengan pihak ke – 3.

c. Adanya SDM yang siap mengelola tempat pengelolaan sampah tersebut. Ya, ketersediaan SDM juga penting apalagi tidak semua orang mau terjun langsung mengurus soal sampah.

d. Adanya produk yang dihasilkan yaitu pupuk kompos yang sudah punya “pasar”. Sebenarnya faktor ekonomi bukanlah tujuan utama, yang terpenting dalam Zero Waste Cities adalah bagaimana supaya bisa mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke TPS/TPA. Namun jika dalam pengelolaan tersebut ternyata punya nilai ekonomi dan tetap ramah lingkungan, why not?

e. Para pengelola sangat open minded terhadap masukkan dan inovasi terkait pengelolaan sampah. Ilmu pengetahuan selalu berkembang setiap waktu, pengelola tempat pengolahan sampah yang biasanya sudah “berumur” haruslah mau terbuka dengan pembaharuan pembaharuan yang ada terlepas pada akhirnya akan menerima atau menolak. Jika pengelola tidak open minded, ketika ada pelatihan atau pendampingan dari pemerintah tentunya akan sangat menghambat jalannya program.

SIAPA YANG BISA MEWUJUDKAN ZERO WASTE CITIES?

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES


Halo, apakah kalian salah satu dari sekian  juta orang yang sering menyalahkan pemerintah mengenai permasalahan sampah yang ada di Indonesia? Kalau iya, berarti kalian belum baca Undang – Undang No. 18 Tahun 2008. Saya juga dulu gitu, sih! Hahaha. Yas, dalam undang – undang tentang sampah tersebut jelas tertulis bahwa setiap orang berkewajiban mengurangi dan menangani sampah. Cukup sampah yang kita hasilkan aja, kok. Sampah yang dihasilkan industri, biar jadi urusan para pengusaha karena biasanya sudah bekerja sama dengan pihak ke – 3.

Jangan sampai kita jadi netizen yang pintar berhujat dan mengomentari pemerintah tapi peran kita dalam mengurangi sampah nol besar. Duh, malu banget kan ya? Tenang, pemerintah juga boleh dikomentar kok ketika mereka tidak menunaikan kewajibannya. Pemerintah punya kewajiban memberikan sarana dan prasarana untuk pengelolaan sampah, pembiayaan, pembuat kebijakan dan lain – lain yang semuanya lengkap tertuang dalam undang – undang.

Bila dilihat dari fenomena di LKM Sabilulungan yang pengelolaan sampahnya terkesan "setengah – setengah" itu, nyatanya minat dan peran serta masyarakat yang berkewajiban mengelola sampah saja tidak cukup. Masyarakat punya keinginan dan kemauan untuk mengelola sampah dengan baik, namun dengan segala keterbatasannya mereka memang belum mampu mewujudkan Zero Waste Cities. Nah, disinilah saatnya pemerintah bergerak.Beberapa tindakan pemerintah yang bisa dilakukan untuk mendorong LKM Sabilulungan mewujudkan Zero Waste Cities, diantaranya :

a. Memberikan pendampingan intensif. Pendampingan bisa diberikan dari dinas pertanian, dinas KUKM dan tak menutup kemungkinan dari dinas kesehatan karena petugas sampah yang setiap hari mengelola sampah juga perlu diberi edukasi mengenai kesehatan.

b. Membantu mencari solusi terutama mengenai pengelolaan sampah anorganik agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

c. Memberikan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pengelolaan sampah seperti tong sampah organik dan anorganik supaya masyrakat mau memilah dari rumah dan cator untuk mengangkut sampah karena lokasi pengelolaan sampah letaknya lumayan jauh dari pemukiman.

d. Membuat aturan teknis terkait pengelolaan sampah kawasan supaya semua masyarakat di kawasan bisa dipaksa untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah yang berbasis Zero Waste Cities.

Jadi, siapakah yang harus bergerak untuk mewujudkan Zero Waste Cities? Pemerintah dan masyarakat sama – sama punya andil dalam mewujudkan Zero Waste Cities.

KESIMPULAN

Zero Waste Cities merupakan program pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kunci utama pengelolaan sampah berbasis Zero Waste Cities yaitu pemilahan sampah dari rumah. Di Majalengka, memang sudah ada aturan mengenai pengelolaan sampah namun memang belum ada teknis yang jelas untuk pelaksanaannya. Sementara di lapangan banyak ditemukan kawasan – kawasan yang sudah melakukan pengelolaan sampah meski belum sama persis dengan prinsip Zero Waste Cities. Semoga dengan kondisi tersebut bisa mendorong pemerintah kabupaten Majalengka untuk melakukan wewenangnya sebagai pemerintah agar Zero Waste Cities bisa dilaksanakan di seluruh kelurahan di kabupaten Majalengka.


Referensi

Undang – Undang No. 18 Tahun 2008

http://ypbbblog.blogspot.com/

Wahyuning, Ika. 2012. Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga Secara Mandiri. Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan, 4, 101 – 113.

Enceng. 2020. Pengelolaan Sampah Dengan Teknik Pembakaran. Hasil Wawancara Pribadi : 12 Februari 2021, Burujul Wetan.

bit.ly/NewsletterZWC 

https://www.youtube.com/watch?v=7xmf_unGu6E&t=114s

https://www.alodokter.com/hati-hati-membakar-sampah-bisa-membahayakan-kesehatan 



24 comments for "PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS ZERO WASTE CITIES, SIAPA YANG HARUS BERGERAK?"

  1. berawal dari sampah rumah tangga masing-masing yang dibagi jadi dua jenis sampah selanjutnya harus ada manajemen sampah yang cukup sistematis di sekitar rumah hingga ke tahap negara ya

    ReplyDelete
  2. di rumah sy sudah memisahkan sampah basah (organik) dengan yang non sih mba, tapi memang masih belum maksimal krn next step dari sampah2 yang non organik ini blom dikelola dg baik oleh si abang2 yg ngambilin sampah di komplek... Penting banget deh punya sistem pengelolaan sampah yg bagus. smp aku tuh klo pilkada cari profil calonnya yg punya concern sm pengelolaan sampah hehe

    ReplyDelete
  3. Semoga dengan adanya program ini bisa meningkatkan kesadaran kita semua agar lebih disiplin menjaga lingkungan tempat tinggal.

    Tentu, berharap banget, setiap orang tahu dan mau bergerak, untuk memahami bagaimana mengelola sampah yang benar, sehingga tidak menumpuk begitu saja di TPA. Karena sampah-sampah tersebut akan diolah terlebih dulu.

    Semoga saja program Zero Waste Cities bisa berlanjut ke seluruh wilayah Indonesia

    ReplyDelete
  4. Keren banget program ini..semoga terwujud ya zero waste cities nya..Banyak manfaatnya kalo bener-bener zero waste

    ReplyDelete
  5. Berawal dari rumah tangga atau pribadi masing-masing nih, zero waste. AKu jadi mikir, berapa banyak sampah yang aku sendiri keluarkan dari rumahku

    Seneng jika ada yang konsen mengenai pengelolaan sampah. Merinding juga ya, melihat sampah dari musibah banjir.

    ReplyDelete
  6. Wah, pengelolaan sampah berbasis zero waste ini mantap banget. Di satu sisi juga jelas sangat penting langkah edukasi bagi masyarakat terkait pengelolaan sampah.

    ReplyDelete
  7. sampah memang selalu menjadi masalah, di mana pun berada. Aku sering sambil pungut sampah saat diving, bayangkan di kedalaman belasan meter pun kita banyak menemukan sampah

    ReplyDelete
  8. memang yang paling pas buat pengelolaan sampah ya yg pemilahan dari kawasan ya mbak
    klo sudah terpilah pasti lebih mudah dalam mengelolanya
    zwc ini emang Paling pas
    pengennya bisa semua daerah menerapkan zwc ini

    ReplyDelete
  9. Keren banget nih ya pengelolaan sampahnya sudah mulai zero waste, nggak sekadar buang sampah pada tempatnya terus dibawa ke TPA. Aku sedang mencari cara mengurangi sampah di rumahku nih Mak.pembuangan sampahku masih numpuk banget tiap hari..harus mengurangi plastik dll...

    ReplyDelete
  10. Kalau urusan lingkungan memang semua terlibat, kita tidak bisa mengandalkan pemerintah saja ya, Mba. Terutama urusan sampah. Dimulai dari diri kita sendidi.

    ReplyDelete
  11. Salut pada upaya pak Enceng menjadi motor penggerak dalam hal pengelolaan sampah. Emang program zero waste cities ini bagus ya, dan tentu saja butuh partisipasi semua pihak agar hasilnya sesuai yang diharapkan

    ReplyDelete
  12. Aku pernah lihat gunung sampah bahkan tinngginya udah nyamain gunung di TPA. Kalau lihat ini jadi deh makin peduli lagi mengelola sampah dengan baik biar gak salah ya.
    Sampah organik dijadikan kompos beraarti dimulai dari diri sendiri ya

    ReplyDelete
  13. Sampah anorganik memang tidak untuk dibakar karena karbondioksidanya berbahaya untuk lapusan ozon. Bukan masalah jauh dari pemukiman lagi, tapi lebih ke efek rumah kaca. Semoga ada solusi lebih baik untuk sampah plastik.
    Program Zero Waste ini memang keren.

    ReplyDelete
  14. Bahan limbah sampah ini sangat penting sekali ya apalagi zaman sekarang sampah makin lama makin banyak

    ReplyDelete
  15. kebanyang betapa banyak berkurangnya masalah sampah di negeri ini kalo semuanya kompak menjalankan zero waste cities ini yaaaa.. Semoga semkain banyak mengedukasi dan menginspirasi orang-orang untuk melakukan zero waste yaaa

    ReplyDelete
  16. Mulai dari keluarga ya mak kalau aku karena sampah ini semua bakal jadi masalah masa depan kita ya
    Agar anak nanti bakal tidak susah atasi sampaj

    ReplyDelete
  17. Jadi inget betapa perlunya mengurangi produksi sampah terutama plastik sekali pakai... mengurangi sampai mulai dari hulunya...

    ReplyDelete
  18. Kalau di lokasi pengolahan sampahnya yg jauh dr pemukiman bakar2 keknya msh mending. Yg kesel tu kalau di dekat perumahan warga suka bakar2 dan yg dibakar daun donk, yg bisa busuk sendiri kesel :(
    Krn tampaknya regulasi yg mengatur soal bakar2 dan sampah ini kurang teges huhu
    Semoga ke depannya makin banyak edukasi soal sampah ini ke masyarakat

    ReplyDelete
  19. Tetangga rumah Ibuku paling hobi bakar sampah. Sebelnya, bakar sampah di tong sampah kami.
    Huhuu...
    Uda dikasih tau bolak balik, kalau bakar sampah bikin tanaman kami di sekitarnya jadi mati. Tapi orangnya nambeng. Curi-curi waktu buat bakar sampah. Pernah dibelain tengah malam di saat kami tidur, beliau bakar sampah.

    Heuhuu...berharap ZWC ini ada di daerah tempat tinggal Ibu di Surabaya.

    ReplyDelete
  20. Aku selalu angkat topi sama orang yang aktivitasnya tidak pernah menghasilkan sampah
    Bahkan kalau harus, prosesnya untuk daur ulang sampah juga tertata.

    ReplyDelete
  21. PR besar banget ya mbk kalau urusan sampah. Apalagi musim hujan seperti ini, banjir dimana-mana. Dan sedih banget kalo lihat gundukan sampah di mana-mana. Bagus sekali ini programnya..

    ReplyDelete
  22. udah lama pengen banget punya pengolahan kompos, tapi terbatas lahan,
    semoga ke depan bisa ngikutin yang dilakukan oleh LKM ( Lembaga Keswadayaan Masyarakat ) Sabilulungan yang terletak di blok Sabtu desa Burujul Wetan Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka

    ReplyDelete
  23. Andai tiap Walikota dan bupati betul-betul menggarap konsep zero waste tersistem dimulai dari lingkungan RT, RW, kelurahan. Mungkin pemilahan sampah rumah tangga lebih mudah diterapkan.

    ReplyDelete
  24. Pengelolaan sampah itu idealnya dimulai dari keluarga sih ya
    Jadi tiap anggota keluarga bertanggung jawab atas sampah yang dia hasilkan

    ReplyDelete

Berlangganan via Email