Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DAD SHAMING DI ZAMAN SERBA "DARING". LAKUKAN 4 HAL INI UNTUK MENGHINDARINYA!

HINDARI DAD SHAMING


Masih lekat diingatan saya ketika anak saya baru lahir, begitu banyak kritikan – kritikan dari orang lain tentang cara saya mengurus anak. Ah, sakit rasanya. Apalagi kritikan tersebut dilontarkan oleh orang terdekat. Sebagai ibu baru, saya sangat legowo ketika ada yang mengkritik atas apa yang saya lakukan kepada anak saya. Tapi sebaiknya kritikan tersebut disampaikan langsung kepada saya supaya kelak saya bisa memperbaiknya. Namun nyatanya kritikan tersebut malah dibeberkan didepan umum, sementara tidak pernah sampai ke telinga saya saran atau masukkan sedikit pun. Kejam, mom shaming memang kejam!

Dear parents, tahukah kalau laki – laki pun bisa mengalami dad shaming? As a mom, boleh dong ya kali ini saya berbicara dari sudut pandang seorang pria?

KENAPA BISA TERJADI DAD SHAMING?

Dalam berumah tangga, mengurus anak adalah tanggung jawab bersama walaupun secara kasat mata memang terkesan istri yang punya beban lebih besar. Sementara suami punya beban lebih besar dalam hal tanggung jawab terhadap keluarga. Padahal, tidak ada pengkotakkan kewajiban dalam berumah tangga. Suami dan istri punya tanggung jawab yang sama meski dengan cara yang berbeda.

Dikutip dari buku berjudul Good Mom, Menjadi Istri & Ibu Yang Baik karangan Mulianti Widanarti, S.Psi bahwa keberhasilan dalam rumah tangga bergantung bagaimana hubungan suami dan istri. Kekompakkan haruslah menjadi fondasi utama. Seorang istri, tidak perlu kaku dalam menetapkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang hanya bertugas mengurus anak dan keluarga sehingga enggan melakukan pekerjaan lain. Pada kondisi tertentu, seorang istri bisa juga membantu suami mencari nafkah.

Begitupun sebaliknya, seorang suami janganlah merasa tugasnya selesai ketika sudah memberi nafkah kepada keluarga. Suami juga punya peran penting dalam parenting. Keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter dan emosional anak.

Namun satu yang perlu digaris bawahi bahwa keluarga harmonis dan bahagia tak harus dibentuk dari suami dan istri yang selalu sejalan, kan? Karena laki – laki dan perempuan itu berbeda dan perbedaan mendasar inilah yang harus dipahami bersama.

Perbedaan Laki – Laki Dan Perempuan Berdasarkan Ilmu Neurosains

HINDARI DAD SHAMING


Kita semua menyadari bahwa terdapat perbedaan antara laki – laki dan perempuan mulai dari cara berkomunikasi, pola fikir, selera, kebiasaan dan lain – lain. Adanya perbedaan tersebut tentu saja akan berpengaruh terhadap keterlibatan suami dalam pengasuhan anak. 

Menurut ilmu neurosains yang berfokus pada studi mengenai sistem neuron, terdapat 6 perbedaan laki – laki dan perempuan diantaranya :

a. Mekanisme Berbahasa

Perempuan memang terkenal cerewet, banyak bicara, meskipun pada beberapa laki –  laki pun ada yang cerewet. Ternyata “cerewet” nya perempuan ini dipengaruhi oleh mekanisme berbahasa. Mekanisme berbahasa perempuan menggunakan otak kiri dan kanan, maka dari itu perempuan lebih banyak berbicara bahkan bisa berbicara sambil bekerja. Dalam sehari perempuan bisa berkomunikasi sebanyak 20.000 kata. Sementara mekanisme berbahasa laki – laki menggunakan otak kiri. Dalam sehari laki – laki hanya berkomunikasi sebanyak 7.000 kata perhari. Wah, lumayan jauh juga ya perbedaannya?

b. Pancaran Emosi

Setuju nggak sih kalau perempuan cenderung emosional? Saya sih setuju, banget! Meski emosional namun perempuan terkenal selalu strong dan survive dalam kondisi apapun. Hal tersebut dipengaruhi oleh sel saraf yang menghubungkan antara otak kiri dan kanan pada perempuan yang lebih tebal daripada laki – laki. Maka dari itu perempuan masih tetap bekerja walapun sedang sedih, bahkan perempuan bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Buruknya, terkadang perempuan suka buru  – buru mengambil keputusan termasuk ketika emosi.

Sementara laki – laki punya sel saraf penghubung lebih tipis, menyebabkan sel neuron bekerja sendiri – sendiri. Saat emosi, yang terganggu hanyalah kreatifitasnya saja yang terhenti sementara menghitung, menganalisa dan berbicara yang menjadi tugas otak kiri tidak terganggu. Maka dari itu laki – laki bisa lebih bijak mengambil keputusan ketika emosi.

c. Otot Wajah

Otot wajah perempuan merespon sedih, marah dan gembira sekitar 2,5 detik setelah merasakannya sementara laki – laki 1,5 detik setelah merasakannya. Laki – laki cenderung lebih cepat merespon dan menampakkan emosi, ya? Namun karena adanya hormon testosteron pada laki – laki cenderung membuat ekspresi datar pada wajah laki – laki. Nah, harap maklum ya Bun kalau suaminya kurang ekspresif ketika diajak selfie. Hihihi

d. Respon Terhadap Masalah

Perempuan memang terkenal sebagai makhluk yang wajib curhat ketika ada masalah, bahkan di zaman serba digital ini banyak sekali forum – forum curhat online yang anggotanya tentu saja didominasi oleh perempuan. Perempuan memang terkenal punya empati dan kesabaran yang jauh lebih baik daripada laki – laki. Meski terkenal suka curhat tapi perempuan sering tidak menerima masukan dari orang lain karena otak kanannya menemukan solusi sendiri terhadap permasalahn yang dihadapinya. Hayo, siapa yang suka kayak gini? Hihi... Sementara laki – laki lebih suka diam dan menyendiri ketika mendapatkan masalah. Laki – laki justru akan bercerita setelah menemukan solusinya. Istilahnya, calm gitu lho kalau laki – laki.

e. Aktifitas Elektrik Otak

Ketika beristirahat, 90% otak elektrik perempuan masih hidup sementara laki – laki hanya 70% nya saja. Perempuan lebih sering bermimpi daripada laki – laki dan perempuan lebih cepat merasa penat karena dalam keadaan istirahat pun otak perempuan tetap bekerja. Oh, ini toh yang mempengaruhi saya ketika mau tidur masih kefikiran besok mau masak apa? Hihihi…

f. Usia Mempengaruhi Emosi

Semakin bertambah usia, fisik tentu saja tak lagi muda. Selain berpengaruh terhadap fisik, pertambahan emosi juga berpengaruh terhadap emosi. Pengaruh usia terhadap emosi ini berbeda antara laki – laki dan perempuan. Laki – laki ketika memasuki usia 55 tahun akan semakin lembut, semakin mesra dan bisa lebih mengontrol emosi. Laki – laki cukup melewati satu fase supaya bisa lebih “matang” secara emosi. Sementara perempuan harus melewati tiga fase agar mencapai kestabilan emosi dalam hidupnya dan biasanya dicapai pada usia 59 tahun.

Perbedaan Pola Asuh Picu Dad Shaming

Hmmm… setelah baca beberapa perbedaan laki – laki dan perempuan berdasarkan ilmu neurosains, saya jadi sering bergumam dalam hati.

“Ohhh pantesan…”

“Ohhh.. gitu ya…”

“Ehh bener juga! “

Hayooo ngaku? Hihi.. Jujur, saya dan suami pun sering sekali mengalami ketidaksepahaman terutama dalam hal pengasuhan anak. Tapi, perbedaan “cara” tersebut bukan berarti suami tidak pandai dalam hal pengasuhan anak, ya. Sama seperti istri, suami pun ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja secara alamiah perempuan memang punya kemampuan untuk mengasuh anak sementara laki – laki butuh proses adaptasi dan belajar. Seorang istri seringkali terburu – buru menilai proses yang dilakukan suami sehingga terjadilah dad shaming. Ya, dad shaming memang seringkali dilakukan oleh orang terdekat. Seperti diungkap oleh Psikolog anak, Saskhya Aulia Prima, M.Psi bahwa kritikan pola asuh terhadap suami justru seringkali dilakukan para ibu atau istrinya sendiri.

 “Bahayanya setelah diteliti lumayan banyak dad shaming dilakukan oleh istrinya sendiri tanpa sadar. Memang benar bila maksud ibu – ibu itu baik, tapi kadang ayah memang punya ruang waktu untuk bisa benar – benar percaya diri dan dekat dengan anak.”

HINDARI DAD SHAMING

 

DAD SHAMING DI ZAMAN SERBA DARING

Menurut KBBI, daring bermakna dalam jaringan, terhubung melalui jejaring komputer, internet dan sebagainya. Tanpa melihat arti dari KBBI, saya yakin semua orang sudah familiar dengan istilah daring. Semenjak pandemi, sebagian besar kegiatan kantor dan sekolah dilakukan dari dalam rumah dengan cara daring. Hasanudin Ali selaku CEO Alvara Research Center mengungkap bahwa kegiatan yang paling sering dilakukan dengan internet selama pandemi adalah bertukar pesan (86,5 persen), berselancar di dunia maya (80,5 persen), mengakses jejaring sosial (70,3 persen), menonton video tanpa unduh atau video streaming (55,0 persen), mengirim e-mail (53,8 persen) dan mengunduh (53,5 persen).

Dari beberapa kegiatan diatas, penggunaan sosial media menempati urutan ketiga setelah bertukar pesan dan berselancar di dunia maya. Artinya, penggunaan sosial media bukan lagi sesuatu yang aneh bahkan bagi sebagian orang bermain sosial media sudah menjadi “makanan” sehari – hari.

Tahun 2020, platform sosial media sudah sangat beragam. Dari berbagai macam platform, kita ambil contoh dari Instagram yang didominasi oleh perempuan. Tujuannya sih tentu saja macam – macam, mulai dari belanja online, curhat, stalking, pekerjaan bahkan hanya sekedar mengisi waktu luang.

Dari contoh pengguna instagram dan beberapa tujuannya tersebut, memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali pengguna sosial media yang “numpang curhat” di postingan. Tidak ada yang salah ketika postingan sosial media berisi curhat atau keluh kesah, itu hak pribadi si pemilik akun. Namun, jika “curhat” tersebut merupakan bentuk dad shaming apalagi kepada suami sendiri?

 “ Alhamdulillah ya anteng dede main sama bunda dirumah, daripada sama ayah jajan lagi, jajan lagi! “

“ Duh, nyebelin banget sih anak rewel, dia malah asik tidur! Bukannya bantuin! “

Bunda, sadar nggak sih kalau postingan curhat seperti diatas bisa saja merupakan bentuk dad shaming? Eh saya sih nggak ngomongin orang lain ya, ngomongin diri sendiri. Hahahah… Saya yakin ketika ada istri yang posting mirip – mirip seperti itu, tidak bermaksud menjelekkan suami. Perempuan hanya berusaha mengungkapkan keluh kesah dan rasa lelah. Writing is healing, dengan menulis biasanya seseorang merasa lega dan jauh lebih baik. Tapi jika menulisnya di sosial media, bisa menimbulkan berbagai asumsi dari pembaca.

Ada yang “bodo amat” dengan postingan tersebut, ada pula netizen yang berasumsi bahwa suaminya nggak bisa ngurus anak. Ingat lho, meski tidak semua teman atau followers kita di sosial media itu like dan komen ke postingan kita tapi mereka semua pasti membacanya.

BAHAYA DAD SHAMING MELALUI SOSIAL MEDIA

HINDARI DAD SHAMING


Manusiawi, jika seorang istri merasa tidak sepemikiran dengan tindakkan suaminya termasuk dalam pengasuhan anak kemudian butuh tempat untuk meluapkan perasaannya. Namun sebaiknya tempat itu bukanlah sosial media. Berikut beberapa alasan untuk tidak melakukan dad shaming melalui sosial media :

a. Melakukan dad shaming melalui sosial media secara tidak langsung seperti memproklamirkan masalah ke depan umum. Padahal tidak semua masalah harus di share ke sosial media, kan? Apalagi urusan rumah tangga, harusnya kita punya batasan privacy.

b. Melakukan dad shaming melalui sosial media bisa mempermalukan pasangan. Ya, meski pasangan kita tidak like, tidak komen, tapi namanya pasangan pasti sering “kepo” akun sosial media pasangannya dan jangan sampai ketika suami membuka akun sosial media kita, eh malah baca postingan kita yang sedang memojokkannya. Laki – laki juga punya perasaan kok, mereka bisa sakit hati, bisa malu, namun mereka bisa lebih menyimpan perasaannya.

c. Melakukan dad shaming melalui sosial media bisa membuka pintu untuk orang lain masuk ke kehidupan kita.Wih, ini agak horor nggak sih? Ya, di zaman yang serba digital memang kita bisa leluasa berselancar di dunia maya. Istilahnya, jarak tidak menjadi halangan. Namun saking bebasnya maka siapapun bisa dengan mudah berinteraksi. Nah, hati – hati ketika kita sering melakukan dad shaming terhadap pasangan di sosial media, khawatirnya dimanfaatkan oleh pihak – pihak yang tidak suka dengan rumah tangga kita.

d. Menurunkan reputasi. Zaman sekarang penggunaan sosial media memang sangat fungsional, mulai dari sekedar iseng – iseng sampai urusan pekerjaan. Hati – hati dengan apa yang kita posting di sosial media karena jika yang kita posting memberikan negative vibes, bisa menurunkan reputasi juga lho.

CARA MENGHINDARI DAD SHAMING MELALUI SOSIAL MEDIA

HINDARI DAD SHAMING


Tak bisa dipungkiri, di zaman serba daring ini jari bisa lebih tajam daripada mulut. Kalau dulu, butuh effort untuk melakukan dad shaming misalnya dengan berteriak. Hahaha… Tapi sekarang, cukup dengan sentuhan jari pada layar. Bunda, jangan sampai jemari lentik kita menjadi pelaku dad shaming terhadap suami sendiri ya. Berikut beberapa tips  untuk menghindari dad shaming melalui sosial media. 

a. Jauhi Sosial Media Ketika Emosi

Perempuan memang terkenal lebih ekspresif dibanding laki –  laki apalagi ketika terjadi perubahan emosi yang cukup drastis, misalnya ketika sedang senang atau sedih. Perempuan biasanya lebih cepat meluapkan emosinya dan setelahnya baru deh menyesal. Hihihi... Nah, agar tidak asal posting ketika merasa tidak nyaman dengan sikap suami dalam pengasuhan anak, sebaiknya jauhi sosial media untuk sementara waktu. 

b. Bicara Langsung, Talking Is Caring

Sebagai perempuan yang pada dasaranya sangat suka berbicara, maklum lah ya kuota bicara harian kita banyak banget kan, Bun? 20.000 kata sehari, lho! Hahaha… Wajar, wajar banget kalau perempuan itu cerewet. Tapi, agar tidak terjadi dad shaming maka berbicaralah dengan tepat. Ya, berbicara tepat waktu, tepat tempat dan tepat situasi.

Jika merasa tidak suka dengan cara pengasuhan suami terhadap anak, berbicaralah langsung ketika situasi kondusif. Ajak suami bicara berdua, jangan berbicara didepan banyak orang apalagi di sosial media. Talking is caring, dengan berbicara dari hati ke hati artinya kita peduli dan bersama – sama mencoba mencari solusi.

c. Diam

Sosial media sudah off untuk sementara, ngobrol langsung dengan suami belum ada waktu. Maka, diamlah! Sabar, tunggu waktu yang tepat. Boleh lah ya ajak suami ngobrol sambil ngopi misalnya.

d. Batasi Penggunaan Gadget

I know, gadget adalah segalanya di zaman yang serba digital ini. Siapa yang bangun tidur yang dicari handphone? Ehem.. saya sih! Hehehe... Mengenai penggunaan gadget tentu tidak akan sama antara satu orang dengan orang lain, karena kebutuhannya pun berbeda – beda . Namun siapapun kita dan apapun aktifitas kita yang berkaitan dengan gadget, sebaiknya beri waktu diri sendiri untuk tidak sibuk main gadget setidaknya 30 menit dalam sehari. Selain bisa mengurangi segala yang menjadi unek – unek diposting, membatasi penggunaan gadget juga bisa meminimalisir terjadinya depresi.

UPDATE ILMU PARENTING ITU PENTING

Hidup berumah tangga, mengasuh anak, memahami pasangan, sejatinya memang tidak ada sekolahnya. Tapi, kita tetap punya kesempatan untuk belajar. Bahkan, jangan pernah lelah untuk belajar. Hal ini pun saya alami ketika anak pertama saya baru lahir. Mood ibu menyusui yang sering naik turun, belum menemukan zona nyaman setelah melahirkan, ditambah minimnya edukasi mengenai parenting. Meski parenting adalah ilmu dalam hal pengasuhan, tapi parenting itu luas dan banyak sekali bersinggungan. Dalam pengasuhan anak, suka tidak suka kita pasti melibatkan orang lain. Bahkan saat kita tidak ingin orang lain terlibat pun, terkadang mereka sendiri yang melibatkan diri. 

Maka dari itu, penting sekali bagi kita semua untuk selalu update ilmu parenting. Istri dan suami wajib update ilmu parenting. Dalam kasus dad shaming contohnya. Tidak satu visi misi dengan suami? It’s OK. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak sepaham dengan suami, merasa paling benar padahal belum tentu benar, eh koar – koar di sosmed pula! Nah lho, siapa yang malu? Suami pun sebagai objek dalam fenomena dad shaming ini harus mau belajar, supaya nggak kudet soal parenting.

By the way, ilmu parenting itu memang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Lalu, apakah teori parenting yang diturunkan dari orangtua kita terdahulu itu salah? Tidak salah tapi belum tentu semuanya sesuai dengan kondisi masa kini. Maka dari itu, selain mendengarkan wejangan dari orangtua sebaiknya update ilmu parenting dari sumber yang terpercaya.

KESIMPULAN

Finally, Dad Shaming hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak permasalahan dalam dunia parenting. Sebagai ibu baru, tentunya pengalaman saya masih sangat sedikit dibanding ibu – ibu lainnya yang sudah berumah tangga lebih lama dan punya anak lebih banyak. Sejatinya, saya berusaha menulis mengenai dad shaming ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri.

Sebagai perempuan yang pernah melalui fase – fase alay segala diposting di sosial media, saya sempat merasa malu. Yang lalu biarlah berlalu, mungkin tidak semua jejak digital bisa saya temukan dan saya hapus. Namun semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi.

Selain itu, melalui pembahasan mengenai dad shaming ini saya berusaha seimbang dalam sudut pandang. Dengan berusaha seimbang, semoga laki – laki pun akan merasa dianggap keberadaanya dalam rumah tangga dan pengasuhan anak. Tak hanya jadi kaum minoritas yang sering dipandang sebelah mata. Pada akhirnya semoga laki – laki pun akan terus ikut andil dalam pengasuhan tanpa merasa tertekan karena adanya dad shaming.

Peluk cium untuk suami yang selalu mengingatkan banyak hal kepada istrinya ini. Semoga kita selalu menjadi keluarga yang bahagia dan saling membahagiakan. 


Referensi :

https://id.theasianparent.com/dad-shaming

https://www.idntimes.com/science/discovery/regina-amalia/6-perbedaan-emosi-laki-laki-dan-perempuan-berdasarkan-neurosains-c1c2 

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/14/pengguna-instagram-di-indonesia-didominasi-wanita-dan-generasi-milenial

Widanarti, Mulianti. Good Mom, Menjadi Istri & Ibu Yang Baik. 

1 comment for "DAD SHAMING DI ZAMAN SERBA "DARING". LAKUKAN 4 HAL INI UNTUK MENGHINDARINYA!"

Berlangganan via Email