Menjadi Ibu Rumah Tangga Bukan Akhir Dari Segalanya


Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan. Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.  Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah… Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.  Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

Saya, si sarjana yang sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga. Memilih total menjadi ibu rumah tangga setelah bertahun – tahun bekerja bukanlah suatu pilihan yang mudah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya artinya saya meninggalkan banyak hal, karir, materi dan ijazah yang akhirnya hanya menghiasi lemari. Satu sisi sangat berat untuk saya meninggalkan semuanya, sebagai manusia normal saya tahu bahwa dengan karir dan materi hidup saya akan jauh lebih “mudah”. Ya, meski katanya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Tuhan tapi berharap datang rezeki dengan berdiam diri sama saja mustahil. Tapi di sisi lain jauh lebih berat untuk saya meninggalkan buah hati selama berjam – jam, jauh dari jangkauan, jauh dari pengawasan.

Oke, disini saya tidak ingin merasa benar dan membandingkan antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Saya yakin mereka yang bekerja pun sangat berat meninggalkan anak dan ada harga yang dibayar atas perjuangan mereka. Tapi mungkin saja mereka yang saat ini bekerja dan meninggalkan anak, berada pada situasi dan kondisi yang memungkinkan misal dengan menitipkan anak kepada orang yang dipercaya atau mereka bekerja hanya paruh waktu sehingga masih bisa berbagi waktu antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Saya justru salut pada para ibu bekerja yang bisa tetap loyal kepada perusahaan sementara hati dan fikirannya terbagi dengan urusan rumah tangga.

Sementara untuk para sarjana rumah tangga, saya tak henti – hentinya memberikan semangat. Saya tahu menjadi ibu rumah tangga terutama bagi para sarjana, ada banyak beban yang mesti ditanggung. Sudah capek, lelah dan jenuh menghabiskan seluruh waktu dirumah ditambah lagi dengan cibiran orang yang selalu menganggap kami adalah manusia tak berfaedah. Sering saya mendengar gunjingan orang – orang, “ Buat apa sekolah tinggi – tinggi, akhirnya ke dapur juga. Orangtua zaman dulu aja gak perlu tuh kuliah kalo cuma bisa masak.” Belum lagi cibiran dari sesama sarjana rumah tangga yang mungkin nasibnya jauh lebih beruntung bisa mengurus keluarga sambil tetap produktif didalam rumah. Ingat, tak semua orang seberuntung kalian. Sebagai sesama ibu memang wajib bagi kita untuk saling memotivasi, memotivasi bukan mengintimidasi. Mulai sekarang stop mengibarkan jargon kalau seorang ibu harus bisa pintar, harus produktif dan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Jagalah hati mereka yang benar – benar hanya mengandalkan penghasilan suami, belum lagi masih banyak diantara kita yang mungkin saja suaminya sedang tidak beruntung karena PHK, pensiun, bangkrut dan lain – lain. Astagfirullah…

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, kok. Meski kamu hanya benar – benar menjadi ibu rumah tangga tanpa punya usaha sampingan, maka “lahan” produktifmu ada pada keluargamu, pada suami dan anak – anakmu. Berikanlah seluruh waktu dan cintamu hanya untuk mereka. Percayalah dengan cinta yang tulus, kamu akan lebih ikhlas menjalani setiap pekerjaan rumah tangga meski hampir tidak ada hentinya. Dengan cinta yang tulus kamu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan memasak, beres – beres rumah, mengajak bermain anak dan pekerjaan rumah lainnya dibandingkan hanya bergonta – ganti channel youtube seharian. Wait, tidak salah kok jika kita ingin sedikit hiburan dengan menonton film atau video vlogger favorit tapi jangan sampai kamu habiskan berpuluh – puluh judul film untuk ditonton sementara untuk sekedar masak atau menyetrika baju kamu bilang, “saya sibuk, gak sempet!”.

Intinya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga merangkap pengusaha itu sangat baik. Tapi saat kamu tak bisa memilih keduanya dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya pun tidak apa – apa yang penting jalani peranmu sebagai ibu rumah tangga dengan sebaik – baiknya karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semangat ya!

No comments