Memasak Dan Menulis Part II

Gambar hanya ilustrasi
Sebelumnya

Setali tiga uang dengan memasak, menulis juga adalah suatu proses. Tidak ada penulis hebat yang langsung bisa menerbitkan buku atau karyanya langsung dimuat dimedia cetak. Saya yakin para penulis hebat yang berhasil menulis novel, menulis cerpen atau buku – buku ilmiah pernah melewati proses pahit dikritik oleh banyak pihak. Apalagi saya yang bukan siapa – siapa ini. Seperti memasak, saya yakin setiap orang bisa menulis tapi perihal hasilnya yang baik atau tidak itulah yang perlu digaris bawahi.

Sejak SMA saya sangat suka membaca novel, cerpen dan menulis ala kadarnya sampai sering dibilang “lebay” karena terlalu menjiwai isi sebuah novel, cerpen atau tulisan yang saya baca. Selain menulis, saya sangat suka segala sesuatu yang berkaitan dengan internet hingga bisa mengantarkan saya mengikuti lomba kontes blog antar SMA dan saya KALAH. Saya benar – benar minim ilmu blogging, yang saya tahu bikin blog itu cuma add widget dan ganti warna tema. Lagi – lagi saya belajar secara otodidak bahkan hingga sekarang. Dulu, saya punya beberapa blog dengan isinya semau saya. Pada saat itu difikiran saya adalah yang penting saya nulis diblog.

Namun semenjak saya melahirkan dan berhenti bekerja, mulai terbersit dibenak saya untuk kembali meneruskan proses belajar menulis saya. Kebetulan saya punya blog pribadi, saya coba manfaatkan salah satu blog saya. Saya tinjau kembali isinya, saya hapus postingan – postingan yang “alay” menurut saya dan iseng – iseng saya ajukan untuk bergabung disalah satu jasa periklanan dan ternyata blog saya disetujui. Senang, blog saya yang apa adanya ini ternyata bisa disetujui di jasa periklalanan tersebut. Bingung, karena saya tidak tahu harus mulai melangkah dari mana dan kemana untuk bisa “panen” rupiah dari jasa periklanan tersebut.

Hingga akhirnya saya gabung di grup – grup blogger, belajar dari berbagai tutorial di web dan youtube. Ternyata dunia blogging itu berat menurut saya, tapi tentunya mudah menurut para master blogger. Menulis diblog itu tidak hanya menulis dengan kaidah penulisan yang baik dan benar tapi bagaimana caranya agar tulisan kita ramah mesin pencari dan ramai pengunjung.
Kemudian obrolan saya dengan teman yang mengantarkan saya ke grup KBM ini. Sudah sejak lama saya mengenal grup KBM ini tapi saya belum tertarik untuk gabung dan belajar disini. Namun fikiran saya terbuka semenjak mengobrol dengan teman saya tersebut. Intinya, tidak ada salahnya mencoba menulis di grup KBM sebagai media untuk belajar menulis. Tapi saat kita menulis artinya kita siap untuk di kritik. Sebagai pendatang baru di grup KBM, saya terima berbagai komentar positif dan negatif untuk proses belajar menulis saya.

Dalam hemat saya, saat proses belajar wajar sekali jika kita review ulang tulisan kita dan kita sesuaikan dengan masukan – masukan dari orang lain. Masukan – masukan dari orang lain saya anggap sebagai gambaran minat baca sehingga saya harus banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang punya nilai jual. Ya, nilai jual disini maksudnya adalah diminati banyak orang. Suatu hal yang lumrah jika dalam proses belajar ada istilah hapus sana hapus sini, edit sana edit sini, bahkan pindah haluan dari plan A ke plan B. Proses perbaikan menurut saya adalah bagian dari tanggung jawab dan challenge untuk diri sendiri bagaimana pada akhirnya kita berusaha mengikuti alur dan minat pembaca. Perbaikan adalah bagian dari pembelajaran, bukan bagian dari pembelaan. Kalau saya takut dibully karena tulisan saya, cukup saya hapus postingan atau turn off komentar dan masalah selesai. Tapi bukan itu tujuan saya, saya tidak ingin tulisan saya hanya sekedar rame dikomentari orang dan viral. Tujuan saya adalah belajar menulis, saya berusaha mencerna masukan – masukan untuk tulisan saya.

Ah, saya jadi panjang lebar menulis tentang dua hal yang masih saya pelajari yaitu memasak dan menulis. Memasak dan menulis adalah kegiatan yang sedang saya tekuni saat ini disela – sela kesibukan saya mengurus kelurarga. Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah memberikan masukan – masukan positifnya. Maaf jika tulisan ini terkesan sok bijak dan sok menggurui, saya hanya berusaha menjabarkan apa yang saya alami sebagai pemula dalam hal memasak dan menulis. Silahkan tertawa jika saya lucu seperti badut, silahkan ambil sisi positifnya jika ada hal yang baik dan jangan ambil sisi negatifnya karena saya yakin itu jauh lebih banyak. Semangat memasak dan menulis!

Salam hangat

Susi Story

No comments