MASA LALU ADALAH BENALU


Setiap orang pasti punya masa lalu dan bagiku, masa lalu itu sejarah. Boleh untuk dikenang atau diingat sebagai sebuah pelajaran berharga, tapi tidak untuk terulang kembali. Sebagai seorang perempuan yang pernah gagal dalam berumah tangga, terkadang aku merasa masa lalu itu punya dua sisi. Satu sisi aku jadi banyak belajar tentang kehidupan rumah tangga. Hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu janganlah sampai terulang kembali. Tapi di sisi lain aku jadi punya banyak ketakutan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Sekarang aku sudah punya kehidupan rumah tangga yang bahagia. Tapi anehnya meski kehidupan rumah tangga ini sangat bahagia aku sering merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hati. Aku sering merasa takut, cemas dan was – was. Tak jarang aku jadi mempermasalahkan hal – hal sepele yang dilakukan oleh suamiku yang menurut pandanganku bisa menjadi masalah besar dimasa yang akan datang. Terdengar sangat lebay dan aku pun menyadari itu.

“Yah, si Abdul udah bayar uang kontrakkan belum ya?“ Tanyaku kepada suami sambil menikmati secangkir teh hangat.

“Ohhh udah Bu, tapi uangnya Ayah tabung.“ Sembari memeluk toples yang berisi kue bawang dan tangan kanannya asyik memasukkan kue bawang ke mulut.

“Loh, kok nabung gak bilang – bilang sih Yah?“ Tanyaku sambil menatap wajahnya.

“Ya Ayah cuma pengen nabung aja Bu, lumayan kan kalau nanti kita bisa beli tanah atau mungkin nambah bangun kontrakkan lagi.“ Jawabnya santai sembari menyimpan toples di meja kecil yang terletak tepat didepan lututnya.

“Iya sih Yah, tapi kenapa Ayah gak bilang kalau si Abdul udah bayar uang kontrakkan. Terlepas uangnya mau Ayah alokasikan kemana sih terserah, tapi setidaknya Ibu tahu.“ Balasku sambil tetap berusaha tenang dan menikmati teh hangat yang mulai dingin.

Seketika aku marah kepada suamiku tapi sayangnya suamiku tidak menyadari kemarahanku. Dia datar, dia santai dan merasa semuanya baik – baik saja. Memang tidak ada yang salah dengan sikap suamiku, toh dia menabung untuk kebaikan bukan untuk foya – foya. Aku merasa dibohongi kemudian ingatanku kembali ke masa lalu dimana mantan suamiku tidak dengan “bijak” menafkahiku. Pada saat itu meski dia bekerja di salah satu perusahaan BUMN tapi aku tidak pernah tahu berapa gajinya. Seringnya dia tidak memberiku nafkah karena alasan banyak kebutuhan dan bayar hutang yang aku pun tidak tahu hutang apa dan berapa besarnya. Sekalinya dia memberikan nafkah, dia selalu bertanya berapa nominal yang aku butuhkan dan pada akhirnya hanya beberapa lembar ratus ribuan yang dia berikan. Bukan, bukan aku matre ataupun tidak bersyukur tapi sebagai seorang istri rasanya ingin menjadi partner terbaik untuk suami dalam segala hal.

Mungkin laki – laki sering beranggapan yang penting “dapur ngebul” tanpa perlu tahu bagaimana alur keuangan di dompet suami. Tapi bagiku justru penting sekali untuk tahu alur keuangan suami, bukan berarti aku ingin mendominasi rumah tangga tapi aku ingin benar – benar merasakan susah senang bersama suami. Kalau memang membangun rumah, membeli kendaraan dan menabung adalah beberapa dari sekian banyak goal dalam rumah tangga lalu apa susahnya untuk terbuka mengenai keuangan dan menyusun goal – goal tersebut bersama? Bukankah rumah tangga akan terasa lebih bermakna?

Lantas, akankah suamiku menjadi seperti mantanku? Hal tersebut yang kemudian terngiang di telingaku. Mungkin saja hari ini dia hanya berbohong sedikit tentang keuangan, tapi apakah aku harus percaya? Bukankah sekali berbohong maka akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan lainnya?

Aku sering berusaha berdamai dengan keadaan dan menanamkan fikiran positif bahwa semuanya akan baik – baik saja. Tapi, bayangan masa lalu kerap datang menghantui. Ketika ada sedikit saja peristiwa yang mengingatkaku dengan peristiwa – peristiwa di masa lalu maka seketika moodku turun dan kakiku lemas enggan bergerak. Nafsu makan hilang, insomnia melanda. Argggggh, mungkinkah aku mulai tidak waras?

Ya, aku merasa gila pelan – pelan. Persis ketika suatu malam tanpa sengaja aku membaca chat suamiku dengan rekan kerjanya. Tidak ada yang aneh dalam chattingan mereka kecuali sticker bergambar dada perempuan terbuka yang begitu montok nan seksi.

“Yah, ini kenapa sih harus pake sticker seksi gini?“ Tanyaku kepada suami sambil menyodorkan handphone.

“Ohhhh… itu kan sticker biasa Bu, Ayah dapet dari grup kantor.“ Jawabnya begitu tenang.

“Iya Ibu tau, tapi kenapa mesti chattingan pake sticker begitu sih?” Emosiku mulai meluap. Tanganku mengepal, dadaku berdebar. Tahan, masih kutahan.

“Ya… Itu kan cuma sticker.” Jawabnya lebih datar lagi.

“Tapi sticker itu dibuat dari gambar asli bukan kartun Yah, jadi Ayah suka liat gambar itu?“ Mataku mulai berkaca – kaca.

Seketika, ingatanku kembali ke masa lalu. Aku teringat ketika tanganku dengan asyiknya menggeser layar handphone mantan suamiku. Kaget, karena begitu banyak foto perempuan seksi dengan busana mini didalamnya. Apakah itu foto selingkuhannya? Tentu saja bukan! Aku tahu foto – foto itu didapat dari dunia maya, entah manusia dari belahan dunia mana yang pertama mempostingnya. Terlepas dari siapa wanita yang ada difoto itu, yang menjadi permasalahan adalah kenapa dia harus menyimpan begitu banyak foto wanita seksi? Apakah istrinya tidak terlalu seksi untuk jadi koleksi di galeri? Ataukah dia sengaja menyimpan foto – foto tersebut untuk membangkitkan birahi? Lalu… apa gunanya aku sebagai istri?

Iya.. iya aku memang mulai gila!

Aku paham betul bahwa sudah seharusnya masa lalu itu aku buang jauh – jauh dan sejujurnya aku tidak pernah sedikitpun merasa rindu atau ingin kembali ke masa lalu. Hanya saja, sangat mudah bagiku untuk memutar kembali kenangan pahit masa lalu di masa kini. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar. Replay kenangan pahit dimasa lalu itu jadi benalu bagi hidupku, jadi toxic dalam rumah tangga yang pelan – pelan mengikis kepercayaanku terhadap suamiku

Aku sangat bersyukur atas apa yang kumiliki saat ini. Aku bahagia, aku mencintai keluargaku dengan seluruh hatiku. Tapi sebanyak cinta yang kupunya untuk keluargaku, aku selalu menyisihkan sedikit ruang dihatiku untuk kecewa. Ya, aku selalu takut kecewa lagi jadi sudah kusiapkan tempatnya dari sekarang. Anggap saja ini sebagai asuransi hati, agar ketika aku kecewa suatu saat nanti setidaknya hanya ruang yang telah kupersiapkan saja yang rusak bukan hatiku seutuhnya.

 

Ya Allah, jaga selalu pernikahan kami. Aamiin…


No comments for "MASA LALU ADALAH BENALU"

Berlangganan via Email