Jangan Ikut – ikutan Trend Tanpa Konsisten!


pict from PNGio.com

Zaman memang selalu berkembang, setuju? Mulai dari fashion, kuliner, edukasi, teknologi dan lain – lain. Sebagai manusia “normal” saya pun kadang suka latah dengan trend. Misalnya sepuluh tahun yang lalu ketika mulai booming bisnis online ( maksudnya saya yang baru kenal bisnis online, hehe) sebagai mahasiswa dengan uang saku pas – pasan saya pun mulai merambah bisnis online. Bisnis online yang saya jalani sangat apa adanya, ya apa saja yang ada ya itu yang saja jual. Biasanya saya mengambil dari supplier yang saya kenal sehingga saya bisa mengambil dulu barang tanpa modal, biar untung sedikit tapi yang penting saya tidak pusing jika modal menumpuk di barang. Apakah saya konsisten berbisnis online? tidak! Mungkin karena mindset saya adalah “bisnis sampingan” sebagai anak kuliah. Padahal diluar sana begitu banyak pebisnis online yang meraih untung renyah nan kriuk bak kacang goreng, setuju?

Lulus menjadi mahasiswa di tahun 2014 saya kemudian bekerja sebagai staff finance di salah satu perusahaan swasta hingga awal tahun 2018 ketika saya akan melahirkan anak pertama. Menjadi ibu rumah tangga memang santai tapi sibuk tapi lebih seringnya sibuk dan memaksakan untuk santai. Ya, ditengah kesibukan saya sebagai seorang ibu yang mengurus semuanya sendiri saya memang selalu ingin menulis walaupun pada akhirnya ide – ide saya hanya ada di fikiran atau terpaksa saya tulis dulu point – point pentingnya di jurnal, supaya saya tidak lupa. Bagi saya, menulis merupakan bagian dari self healing. Dengan menulis saya jadi punya ruang untuk meluapkan emosi – emosi saya. Terkadang saya begitu happy, terkadang saya sangat uring – uringan dan percayalah semua itu harus “dimuntahkan” melalui tulisan biar lega. Terlepas dari tulisan saya yang tidak bagus, maklum saja saya ini bukan penulis sungguhan hanya penulis abal - abal.

Awalnya, saya hanya menikmati menulis sebagai kegiatan menulis saja tanpa embel – embel lainnya. Kemudian beberapa bulan terakhir saya mulai berfikir bagaimana agar saya punya nilai plus dari tulisan saya. Tapi, untuk bisa mendapatkan nilai plus dari tulisan saya tentunya saya harus bisa menulis dengan baik dan menarik. Menulis dengan baik dan menarik itu perlu proses belajar dan sebagai seorang pemula saya sudah membulatkan tekad untuk belajar menulis dengan bergabung di forum – forum, komunitas – komunitas dan lebih banyak membaca buku dari sebelumnya untuk menambah wawasan saya. Lalu, apakah sekarang sudah bisa mendapatkan nilai plus dari tulisan saya? Ada, meski nilainya keciiiiiil sekali. Ibarat kata hanya cukup buat jajan cilok anak saya. Saya jadi ingat ketika ada salah satu perusahaan kesehatan yang meminta saya untuk menyisipkan link dari website mereka di salah satu postingan blog pribadi saya www.susistory.com dan saya hanya dibayar 50 ribu rupiah. Tenaaaang kalian tidak salah dengar, memang benar hanya 50 ribu rupiah. Alhamdulillah, bisa untuk isi kuota modem saya bulan depan. Sebagai seorang pemula, saya tidak berkecil hati karena hanya dibayar 50 ribu rupiah tapi bagi saya itu merupakan motivasi. Ternyata untuk saya yang belum bisa konsisten menulis dengan baik dan menarik pun ada yang mau membayar saya 50 ribu rupiah, bayangkan bila saya bisa konsisten menulis? Ditambah lagi kalau tulisan saya baik, menarik, disukai banyak orang, kemudian banyak yang share. Waaaah bisa berapa nih visitor blog saya dalam sebulan? Waduh auto kaya nih saya dari nge-blog juga! Pasti itu kan yang sering difikirkan banyak orang? Tapi, ehhh tapi saya sudah konsisten belum? Jawabannya memang belum. Terkadang emosi saya begitu meluap – luap sampai saya sangat semangat menulis. Terkadang saya sangat “loyo” dan melihat laptop pun ibarat barang rongsok, tidak hasrat!

Berkaitan dengan trend, akhir – akhir ini profesi menjadi youtuber memang sedang trending. Mulai dari selebritis hingga non selebritis punya channel youtube. Mulai dari channel masak, tutorial make up, daily vlog hingga channel film yang isinya adalah film bajakan atau film yang cover dan isinya beda total. Kenapa orang – orang begitu tergiur dengan youtube dan ingin menjadi youtuber? Tentu saja alasannya karena bisa mendapatkan uang dari youtube, bisa gajian dari youtube hanya dengan upload video. Wow, se-simple itu kah? Bahkan saya sering mendengar curhatan beberapa teman saya yang katanya ingin jadi youtuber.

“ Yaaa, itung – itung sampingan kan kerjaan pokok saya karyawan.”

“ Saya pengen deh jadi youtuber, nanti keterima google adsense trus nanti saya bisa gajian dari youtube.”

Serius se-simple itu, Bambank? Saya yakin tidak! Dibalik youtuber – youtuber sukses tentu saja ada kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras, karena mereka pasti meluangkan waktu khusus dalam sehari untuk memikirkan konsep konten, membuat konten, mengedit konten dan lain – lain. Kerja cerdas, karena perlu trik tertentu agar bisa menciptakan konten yang menarik dan semua ini harus dipelajari dan dipraktekkan bukan hanya sekedar teori.

Jadi, inti tulisannya apa sih? Intinya untuk menjadi sukses itu bisa saja dengan mengikuti trend yang sedang berkembang, bahkan jangan sampai kita jadi orang yang ketinggalan zaman. Tapi, ikut trend tanpa konsisten sama saja bohong. Mau jadi blogger, mau jadi youtuber, mau jadi penulis novel, penyanyi, pengusaha dan lain – lain semuanya bisa sukses asal konsisten. Konsisten ini tentu saja luas maknanya. Konsisten menjalani dan konsisten belajar serta konsisten untuk siap “terpuruk” karena dalam proses apapun ada kalanya kita menghasilkan karya yang bagus dan ada kalanya karya kita di kritik banyak orang karena karya kita “kurang diterima” dan kita harus siap.

Itu pula yang sering saya ceritakan kepada teman saya yang katanya ingin jadi youtuber. Saya suka menulis tapi saya tidak berharap banyak dari tulisan saya. Tidak berharap banyak disini bukan berarti saya pesimis tapi saya menyadari bahwa usaha saya dalam menulis belum begitu maksimal. Jadi untuk saat ini saya sedang berusaha meningkatkan “level” ikhtiar saya dalam menulis, perihal hasil biar menjadi urusan Tuhan. Bukannya setiap proses tidak akan mengkhianati hasil? Jangan sampai goal kita sudah sampai angka 10 tapi usaha kita masih di angka 1 dan itupun ogah - ogahan, istilahnya seperti itu. Dan ini bisa diterapkan dalam segala bidang, kok.

Saya sering belajar dari orangtua saya yang konsisten berjualan gorengan sejak saya SMA hingga saya lulus sarjana dan sekarang masih berjualan gorengan karena adik saya pun sedang melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan. Mungkin orang – orang hanya melihat bahwa orangtua saya punya untung besar dari berjualan gorengan sampai bisa menyekolahkan anak – anaknya hingga sarjana. Alhamdulillah, Allah memang baik kepada keluarga kami. Kami yang orang kampung dan berasal dari keluarga sederhana ini ternyata bisa juga menjadi sarjana. Padahal dibalik semua itu orangtua saya memang sangat bekerja keras mulai dari berjualan gorengan di dalam rumah, berjualan gorengan keliling hingga sekarang berjualan gorengan di suatu lapak di pinggir jalan. Ah, suka sedih saya kalau menceritakan orangtua! Saya sedih karena perjuangan mereka begitu besar bagi kami anak – anaknya dan sebagai anak saya sadar belum bisa membalas perjuangan mereka walapun kalau dihitung – hitung dengan uang rasanya tidak akan cukup meski dibayar dengan uang bermilyar – milyar! Impian saya sederhana, semoga suatu hari nanti orangtua saya bisa menikmati masa tuanya dengan tenang dan bahagia. Bantu doa ya!

Kemudian saya juga banyak belajar dari artis – artis tenar yang merintis karir dari nol hingga sekarang jobnya dimana – mana. Mungkin kita hanya melihat dia setelah naik daun dan sering masuk layar kaca tanpa tahu perjuangannya dibelakang layar seperti apa. Eitsssss tapi kan zaman sekarang banyak artis yang cepat sekali naik daun? Iya banyak, tapi apakah daun tersebut tidak cepat layu?

Saya yakin di zaman yang sudah sangat maju ini, ilmu apapun bisa dengan mudah didapatkan. Semua orang bisa belajar, semua orang bisa membaca teorinya tapi sejauh mana kita konsisten mempraktekannya? Yuk yang mau sharing tentang kisah suksesnya karena sabar dan konsisten dalam menjalani sesuatu, semoga bisa memotivasi saya agar tetap membara! Aseeeek.


Salam hangat

 

Susistory


No comments for "Jangan Ikut – ikutan Trend Tanpa Konsisten!"

Berlangganan via Email