Pentingnya Kesadaran Dalam Melaksanakan Social Distancing


     Social distancing adalah tindakan pencegahan dan pengendalian virus dengan cara menganjurkan orang sehat untuk membatasi kontak dengan orang lain, salah satu cara melakukan social distancing adalah dengan menghindari keramaian. Namun kini pemerintah sudah mengganti istilah social distancing menjadi physical distancing. ( Dikutip dari alodokter.com ) 
    Beberapa minggu yang lalu kebetulan anak saya sakit dan harus saya bawa ke IGD puskesmas Maja karena anak saya tidak masuk makan dan minum sehingga menyebabkan lemas. Sebelum memutuskan membawa anak saya ke IGD, saya memang sudah membawanya ke dokter umum didekat tempat tinggal kami namun anak saya tidak kunjung sembuh. Saya paham betul saat pandemi seperti ini kita memang harus menjauhi keramaian apalagi puskesmas yang dalam asumsi kita didalamnya banyak orang sakit. Namun karena anak saya sudah pada kondisi darurat maka terpaksa saya larikan ke IGD puskesmas. Setelah sampai di IGD ternyata anak saya tak cukup mendapatkan tindakan di IGD saja tapi harus masuk kamar rawat inap untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, cerita selengkapnya disini.
   Saat pandemi Covid-19 puskesmas Maja sebagai salah satu fasilitas kesehatan, apakah sudah menerapkan social distancing? Jawabannya iya, terlihat dari beberapa kursi pengunjung yang diberi jarak oleh kertas dan lakban hitam. Namun saya melihat ada beberapa tanda dikursi tersebut yang rusak, entah sengaja dirusak atau tidak. Bahkan saya mendengar curhatan dari perawat yang merasa tidak nyaman karena yang datang menjenguk pasien masih berbondong – bondong padahal sudah dinasehati bahwa sebaiknya yang menjenguk hanya sedikit saja saat pandemi seperti ini.
     Setelah anak saya keluar dari rawat inap puskemas Maja, untuk make sure kalau anak saya sudah sehat maka saya check-up ke dokter anak langganan saya. Lalu, bagaimana penerapan social distancing disana? di klinik dokter anak langganan saya yang terletak di Majalengka ( tergolong pusat kota), menurut saya masih jauh lebih baik. Sejak awal masuk ke klinik saya langsung diperingatkan oleh karyawan klinik agar yang ikut masuk ke ruang tunggu hanyalah yang sakit dan pengantar, tidak boleh lebih dari dua orang. Sesampainya diruang tunggu saya cukup terkejut karena ruangan sangat sepi padahal saya kesana sudah cukup siang, di hari – hari biasanya klinik ini sangat ramai meski masih pagi. Area playground pun ternyata ditutup padahal anak saya ingin main disana, lho. Maklum lah anak saya masih 2 tahun belum paham apa itu social distancing, heheheh.
     Sebelumnya bukan saya bermaksud membandingkan penerapan social distancing di puskesmas dan klinik karena keduanya tidak apple to apple untuk dibandingkan. Puskesmas tempatnya memang lebih luas dan jauh lebih “umum” bila dibandingkan klinik dokter anak. Tapi yang akan saya garis bawahi adalah perihal kesadaran orang – orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Baik puskesmas maupun klinik dokter anak sudah berusaha mengingatkan pengunjung untuk melakukan social distancing dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19 ini. Untuk edukasi mengenai social distancing pun sudah banyak ditayangkan di televisi atau media online dan saya fikir orang – orang zaman now sudah sangat maju dan melek teknologi, kok. Semua orang bisa dengan mudah mengakses berita dari berbagai jenis media, berbeda dengan zaman dahulu yang katanya kalau mau nonton televisi saja harus rebutan dan antri di rumah tetangga yang punya televisi.
     Maka, dalam penerapan social distancing ini hanya tinggal “jatah” kita saja sebagai pribadi yang mungkin saja bisa jadi orang tanpa gejala ( OTG ) yang membawa virus dan menyebarkan virus ke orang yang imunnya lemah sehingga mereka sakit. Memang tak sedikit orang yang menyepelekan pentingnya menjaga jarak selama pandemi ini.
“Ahhhh.. tenang bae atuh, da jauh virus corona mah moal enya kadieu”
“Ahhhh.. moal nanaon da urang mah teu tas ti luar negri atuh kan?”
     Kalimat – kalimat seperti ini yang seringkali saya dengar, seakan mereka tidak takut akan penyebaran Covid-19 yang begitu cepat dan tak terlihat. Kita memang sedang berperang dengan musuh tak kasat mata karena kita tidak tahu orang yang sudah bersinggungan dengan kita itu sudah melakukan kontak dengan siapa saja, kan? Maybe dengan orang yang terpapar Covid-19 dan kita tidak menyadarinya. Memang dalam menghadapi pandemi ini kita tidak boleh takut berlebih karena akan menimbulkan stress dan menurunkan imun tubuh, tapi bukan berarti menyepelekan virus Covid-19. Yuk sama – sama ingatkan orang disekitar untuk tetap menjaga jarak, semoga pandemi ini segera berlalu.


#BPNChallengeDay5

No comments for "Pentingnya Kesadaran Dalam Melaksanakan Social Distancing"

Berlangganan via Email