Penerapan Jadwal Makan Yang Konsisten Lebih Efektif Daripada Vitamin Penambah Nafsu Makan Dalam Mengatasi Gerakan Tutup Mulut ( GTM ) Pada Anak Saya PART I


penerapan jadwal makan yang konsisten lebih efektif daripada vitamin penambah nafsu makan dalam mengatasi gerakan tutup mulut pada anak saya

Vitamin penambah nafsu makan anak merupakan incaran para ibu yang anaknya sering mengalami gerakan tutup mulut ( GTM ). Banyak merk vitamin penambah nafsu makan anak yang mengklaim bahwa produknya bisa membantu meningkatkan nafsu makan sehingga bisa mengatasi GTM pada anak. Tapi, benarkah vitamin penambah nafsu makan efektif untuk mengatasi GTM pada anak?

Ah, begitu panjang dan melelahkan ketika saya harus menceritakan bagaimana saya sebagai seorang ibu harus mengikuti fase paling seram dalam MPASI ( Makanan Pendamping ASI ) anak, mungkin perlu satu postingan khusus yang fokus membahas fase GTM anak saya. By the way anak saya tidak suka dengan MPASI instan, jadi saya selalu membuat MPASI untuk anak saya sejak masih bubur saring hingga sekarang sudah ikut menu keluarga. Sebenarnya anak saya bukanlah tipe anak yang sangat susah makan, bahkan diawal MPASI tergolong lahap. Namun, sewaktu – waktu fase GTM nya sering menyerang dan berlangsung sekitar 3-7 hari. Sebagai ibu baru tentunya saya sangat panik ketika anak saya menolak menu apapun yang coba saya berikan.  Saya selalu takut anak saya tidak tercukupi nutrisinya apalagi semakin besar usianya maka semakin kecil pula asupan nutrisi yang bisa terpenuhi dari ASI.

Hal pertama yang terlintas di fikiran saya ketika anak GTM adalah memberikan vitamin penambah nafsu makan. Entah sudah tradisi atau saya yang terlalu tergiring opininya oleh iklan bahwa ketika anak GTM, vitamin penambah nafsu makan adalah solusinya. Maka, ketika anak saya mengalami GTM parah diusia 9 bulan saya pun terfikirkan untuk mencoba memberikan vitamin penambah nafsu makan. Namun, pada saat itu saya tidak berani memberikan vitamin penambah nafsu makan anak tanpa anjuran dokter. Setelah beberapa kali pergi ke dokter anak karena memang kebetulan anak saya juga sering sakit bahkan hampir setiap bulan, mungkinkah karena sistem imun yang lemah akibat tidak tercukupinya nutrisi yang dibutuhkan oleh anak seusianya? Maybe yes! Dokter anak pun menilai anak saya yang berat badannya tidak sampai 8 kg itu tergolong kecil.
“Bu, berapa berat badannya waktu lahir?” Tanya dokter anak favoritku itu.
“3,2 kg bu dokter.” Jawabku
“Waaah kecil ya, harusnya usia segini sudah mendekati 3x berat lahir.” Jawab dokter dengan tetap ramah dan tersenyum manis.
Dokter menyarankan untuk memperbaiki pola makan dan meresepkan vitamin. Lalu, apakah efektif pemberian vitamin penambah nafsu makan pada anak saya? Ternyata vitamin penambah nafsu makan anak tidak terlalu efektif mengatasi GTM pada anak saya. Anak saya tetap GTM dan kalaupun mau makan hanya 3 suap, hal tersebut berlangsung hingga usia 15 bulanan. Lelah, seminggu lahap seminggu GTM.

Kemudian saya teringat di highlight instagram dokter anak yang cukup sering sharing info tentang anak yaitu Dokter Metahanindita, ada highlight yang membahas mengenai GTM dan jadwal makan pada anak. Mohon maaf sebelumnya bila ada kesalahan pemahaman dari saya ya, Dok.  Saya berusaha menafsirkan apa yang dijabarkan oleh dokter semampu saya, apalagi saya tidak punya background di dunia medis.


Di salah satu highlightnya dokter Meta menjelaskan bahwa jadwal makan merupakan aturan dasar yang sangat penting. Seorang anak butuh waktu 100 menit untuk mengosongkan isi lambungnya sebanyak 50%, artinya dengan mengatur jadwal makan yang berkaitan dengan waktu pengosongan lambung maka kita sekaligus mengajarkan konsep lapar dan kenyang pada anak.

Sebelumnya jadwal makan anak saya sebagai berikut :
1.    Pukul 06.30 – pukul 07.30 : Sarapan
2.    Pukul 10.00 – pukul 11.00 : Makan siang
3.    Pukul 13.00 – pukul 14.00 : Snack
4.    Pukul 16.00 – pukul 17.00 : Makan sore

Jadwal makan tersebut sudah disesuaikan dengan jam tidur anak saya. Anak saya tergolong anak yang susah tidur siang dan selalu bangun pagi, sementara untuk pemberian ASI tidak saya atur waktunya dalam artian saya berikan kapanpun jika anak saya minta.

Setelah membaca highlight dokter Meta, saya jadi menyadari bahwa bisa saja ada yang salah dengan penerapan jadwal makan anak saya sehingga anak saya sering mengalami GTM. Mungkin saja anak saya jenuh karena jarak makan berat dengan makan berat selanjutnya terlalu dekat tanpa diselingi snack. Belum lagi orang – orang disekitar saya yang beranggapan bahwa “biar sedikit yang penting sering” ternyata tidak benar jika diterapkan seenaknya. Memang saat anak GTM, tidak masalah jika dia masih mau makan meski sedikit tapi bukan berarti setiap menit berusaha memberikan makan atau cemilan dan pada akhirnya makan akan menjadi rutinitas yang membosankan. Pemberian makan yang sedikit tapi sering boleh diterapkan tapi tetap perlu diperhatikan pula intervalnya.

Akhirnya dengan perasaan yakin dan tidak yakin saya mencoba merubah jadwal makan dan sedikit memberikan jarak supaya anak mengenal “rasa lapar”,

Berikut jadwal makan baru anak saya :
1.       Pukul 06.30 – pukul 07.30 : Sarapan
2.       Pukul 09.00 – pukul 10.00 : Snack
3.       Pukul 12.00 – pukul 01.00 : Makan siang
4.       Pukul 15.00 – pukul 16.00 : Snack
5.       Pukul 17.00 – pukul 18.00 : Makan sore

Jadwal makan yang sudah saya buat tidak sepenuhnya on time kok, maka dari itu saya beri perkiraan misal untuk sarapan antara pukul 06.30 – pukul 07.30 dan saat lewat dari jam tersebut maka saya harus lewati jadwal tersebut. Contohnya, pada suatu hari anak saya bangun kesiangan karena malamnya begadang sehingga bangun pukul 08.00 maka saya tidak berikan dia sarapan pagi karena biasanya butuh waktu 30 – 60 menit untuk membangkitkan nafsu makannya setelah bangun tidur. So, saya skip sarapannya dan saya hanya berikan snack begitu pula saat anak saya hanya makan beberapa suap maka saya tidak paksa untuk makan banyak dan tidak berusaha memberikan lagi makan dalam beberapa menit ke depan, saya biarkan dan tunggu hingga jadwal makan berikutnya.

Dalam menerapkan jadwal makan ini saya yakin banyak sekali hambatannya, baik dari diri kita sendiri sebagai ibu maupun dari orang lain. Di awal – awal menerapkan jadwal makan ini saya sering “perang batin” dengan diri saya sendiri, saya selalu takut anak saya kelaparan apalagi saat anak saya hanya makan beberapa suap. Selain hambatan dari diri sendiri, tak jarang saya mengalami hambatan dari orang lain. Misalnya ketika bermain diluar dan sebentar lagi waktu makan siang anak saya, saya selalu membiarkan dia asyik bermain hingga lupa ngemil. Namun terkadang orang lain tidak mengerti apa yang sedang saya terapkan sehingga sering menawarkan makanan atau cemilan kepada anak saya.
 “ Keun wae atuh saeutik – saeutik ge padu ngereyeuh daek barang dahar ( tidak apa – apa makan sedikit – sedikit juga yang penting mau makan ), “ pernah terlontar dari salah satu saudaraku.
Kesal, saya benar – benar kesal saat selalu mendengar slogan tersebut. What? Se-lebay itu kah? Ya, di awal – awal saya sering kesal dengan orang – orang yang selalu memberikan cemilan atau mengajak anak saya makan padahal timingnya tidak sesuai dengan jadwal makan yang berusaha saya terapkan pada anak saya.

Namun, lama kelamaan anak saya pun sudah hafal “ritme” makannya sendiri. Sekarang anak saya sudah berusia 2 tahun dan jarang sekali bermasalah dengan nafsu makan bahkan dia sudah bisa memilih mau makan dengan apa atau menolak ketika merasa masih kenyang dan meminta makan ketika sudah merasa lapar. Berat badan anak saya sekarang hanya 11,7 kg setelah sebelumya di 12 kg karena masih recovery setelah sakit dan dirawat cerita selengkapnya disini. Anak saya memang tergolong kecil tapi posturnya tinggi bahkan hampir menyerupai anak usia 3 - 4 tahunan.

Jujur, sampai saat ini saya belum tahu pasti kenapa dulu anak saya sering GTM tapi untuk vitamin penambah nafsu makan anak memang tidak efektif pada waktu itu. Maybe pada beberapa anak vitamin penambah nafsu makan sangat efektif mengatasi GTM. Dan penerapan jadwal makan cukup efektif untuk anak saya tapi bisa jadi tidak berpengaruh untuk anak lain. So, saya tidak memaksa pembaca untuk meyakini apa yang saya tulis tapi semoga apa yang saya tulis disini bisa bermanfaat. Selalu konsultasikan ke dokter ya apabila terjadi sesuatu pada anak termasuk jika GTM sudah berkepanjangan dan berakibat pada penurunan berat badan.

Berlangganan via Email