Memasak Dan Menulis

Gambar hanya ilustrasi

Dulu, saya sama sekali tidak bisa memasak bahkan saat kegiatan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa ), saya selalu tidak pede jika waktunya piket masak. Jangankan tahu bagaimana cara memasak suatu menu yang layak disajikan, pengetahuan saya akan bahan masakan dan bumbu – bumbunya pun sangat minim. Saya malu, sangat malu karena tidak sedikit yang menertawakan saya karena tidak tahu cara masak yang baik dan benar. Ketidakmampuan saya dalam hal memasak selalu jadi bahan olok – olokan yang terselip diantara obrolan ringan.

Semenjak itu saya bertekad untuk belajar memasak karena saya yakin setiap orang bisa memasak. Perihal masakannya enak atau tidak, layak atau tidak, disitulah point pentingnya saya harus belajar. Banyak cara belajar memasak mulai dari belajar secara otodidak, belajar dari orangtua, belajar dari buku menu atau resep yang bisa didapat secara online atau bisa kelas ikut memasak professional yang tentunya berbayar. Pada saat itu saya tidak berfikiran untuk ikut kelas memasak atau kursus tataboga karena keterbatasan biaya, bahkan sampai saat ini saya belum pernah ikut kelas memasak. Saya hanya mengandalkan kemauan saya untuk memasak. Iya, intinya saya mau masak entah itu masakannya enak atau tidak yang penting saya memasak. Lucu sih, diawal saya belajar memasak bahkan saya tidak tahu cara memasak telur dadar yang enak, saya tidak tahu takaran garam yang pas untuk sebuah telur dadar. Sering saya masak telur dadar keasinan atau hambar tidak ada rasa. Sering juga saya ditentang oleh ibu saya karena dengan belajar memasak jadinya buang – buang bahan makanan untuk trial and eror masakan saya. Berbeda dengan bapak saya yang selalu menghabiskan makanan saya bagaimanapun rasanya.

Saya sangat senang saat bapak saya selalu menghabiskan masakan saya artinya rasa masakan saya enak, meski sebenarnya saya tahu bahwa rasa masakan saya sangat aneh. Saya seperti dipaksa membohongi diri sendiri, saya dipaksa untuk berkata pada diri sendiri bahwa masakan saya enak padahal sebenarnya tidak enak. Sementara dari sikap ibu saya yang seperti merendahkan dan tidak suka dengan proses saya belajar memasak, saya jadi termotivasi untuk terus belajar. Saya jadi semakin semangat mencari – cari menu masakan untuk kemudian saya praktekkan sendiri dan akhirnya saya tahu dimana letak kesalahan saya sehingga masakan saya tidak enak.
Sekarang, saya sudah menjadi seorang istri, seorang ibu dari satu anak balita. Memasak menjadi daily routine saya apalagi suami saya pecinta masakan rumahan. Anak saya sejak awal MPASI tidak suka dengan MPASI instan sehingga saya selalu masak setiap hari untuk MPASI nya sejak masih bubur hingga sekarang sudah ikut menu keluarga. Terharu, saya yang tidak bisa masak ini ternyata sekarang bisa masak meski hanya untuk keluarga. Saya jadi tidak perlu pusing jika sewaktu – waktu anak saya minta dibuatkan suatu menu masakan atau cemilan, saya tinggal pergi ke dapur dan eksekusi. Pun saat suami saya secara mendadak akan mengadakan acara makan – makan dengan rekan kerjanya, saya tidak perlu repot mencari “tukang masak” dadakan.

Sampai disini jangan salah paham dulu, saya tidak bermaksud pamer akan kemampuan saya memasak karena kemampuan saya masih sangat pas – pasan. Menurut suami saya, saya bisa disebut pintar memasak jika sudah bisa memasak seperti “tukang masak” di hajatan. Wah, masih sangat jauh untuk sampai kesana. Sekali lagi, bukan soal pamernya tapi bagaimana saya menjelaskan bahwa proses belajar itu lebih penting daripada hasil. Tidak apa – apa kamu dibilang tidak bisa masak, masakannya aneh, masakannya bikin mual muntah dan lain – lain yang terpenting adalah bisa belajar dari kesalahan.

No comments for "Memasak Dan Menulis"

Berlangganan via Email