Menjadi Ibu Rumah Tangga Yang Baik, Mudahkah?


menjadi ibu rumah tangga yang baik

     Ibu rumah tangga memang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Katanya, ibu rumah tangga itu tidak perlu sekolah tinggi – tinggi, tidak perlu paham teknologi dan lain – lain. Katanya lagi, kan yang penting bisa masak, bisa beberes rumah serta bisa ngurus anak dan suami.
    Lalu, apa kabar dengan para ibu rumah tangga yang menyandang gelar sarjana? Oh sudah pasti menjadi target bullyan netizen. Di zaman yang semakin maju ini peran seorang wanita memang sudah tidak diragukan lagi. Banyak wanita yang bisa menjalani profesi yang dulunya hanya dijalani oleh laki – laki. Namun, tidak sedikit pula wanita yang rela menanggalkan karirnya demi fokus mengurus keluarga. Menurut saya, keduanya tidak ada yang salah karena pasti setiap orang punya alasan atas apa yang telah mereka pilih. Sebaliknya kita pun tidak boleh memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja.
    Tapi, namanya juga lidah tidak bertulang. Kita tidak bisa melarang netizen mau berkomentar apa. Kita memang harus kebal dan tutup telinga walaupun sebagai manusia pasti saja kita akan merasa baper atau tidak enak hati. Tenang, cukup buktikan saja dengan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik. Memang, didunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, saya yakin bahwa setiap orang bisa melakukan yang terbaik untuk perannya, sesuai porsi dan kemampuannya.
    Oke, lalu bagaimanakah menjadi ibu rumah tangga yang baik? Memang sih idealnya seorang ibu rumah tangga itu harus bisa masak, harus bisa ngurus anak, beres – beres, nyuci, nyetrika dan lain - lain. Istilahnya seorang istri harus bisa memegang tiga peran penting yaitu dapur, sumur, kasur. But, nobody’s perfect. Tidak semua istri benar – benar multitalenta, bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, punya bisnis sampingan juga dan punya body goals yang cantik terawat. Kalaupun ada yang bisa mengerjakan semuanya sendiri, tapi kita pun manusia yang punya batas kemampuan tenaga dan waktu. Andai kita harus mengerjakan semuanya sendiri dalam satu hari, bisa – bisa kita tidak tidur untuk sekedar beristirahat.
      Rumah tangga merupakan satu kesatuan yang harus utuh dan sejalan meski punya cara berbeda – beda untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, langkah awal untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik adalah dengan bertanya kepada suami. Apa sih yang diharapkan suami kepada kita sebagai seorang istri? Eh serius loh ini, silahkan bertanya kepada suami masing - masing ya.
     Laki – laki memang terkenal sangat menyukai keindahan. Laki – laki mana sih yang tidak betah liat istrinya yang cantik, seksi, segar dan wangi? Sebagai manusia normal, saya pun perempuan pasti suka dengan laki – laki yang seperti itu. Tapi itu hanya sebatas suka, bukan menjadi parameter dalam kehidupan saya. Begitupun laki – laki, setiap laki – laki punya parameter sendiri dalam rumah tangganya. Nah dalam hal ini benar – benar diperlukan keterbukaan bahkan diawal – awal pernikahan. Jangan sampai setelah menikah bertahun – tahun muncul konflik yang berasal dari ketidaktahuan atas keinginan pasangan.
     Saya ambil contoh dari saya sendiri, tapi apa yang saya tulis disini murni pengalaman saya pribadi tanpa bermaksud mempengaruhi pihak manapun. Sejujurnya, melihat perempuan lain yang cantik, seksi, langsing, punya karir bagus dan lain – lain. Sebagai seorang perempuan saya pun punya kekhawatiran, apakah suami saya mengharapkan hal tersebut ada pada diri saya? Kemudian saya pun bertanya apakah saya harus seperti itu? Apakah saya harus selalu dandan didepan suami? Lalu jawaban suami saya adalah bahwa anak yang harus menjadi prioritas utama. Setelah urusan anak selesai, baru urusan rumah tangga lain seperti memasak, mencuci baju dan lain – lain. Setelah semuanya selesai barulah berurusan dengan perawatan diri. Lantas, apakah itu artinya saya jadi bebas jajan tiap hari dan mandi sesempatnya saja? BIG NO!
      Meski jawaban suami saya seperti yang sudah dipaparkan diatas, namun saya menafsirkan bahwa kita sebagai istri harus lebih bijak menyikapi situasi dan kondisi. Ketika dalam satu kondisi yang tidak memungkinkan saya menjalankan semuanya, maka patokannya adalah skala prioritas tadi. Misal ketika anak sakit dan rewel, ya tidak apa – apa saya libur dulu masak dan beres – beres rumah. Tapi ketika anak sehat dan tidak banyak gangguan, kenapa tidak untuk selalu masak setiap hari? Menurut saya masakan itu bisa menciptakan bounding antara saya dengan anak dan suami saya. Ehemmm…
      Pun ketika suami saya menempatkan urusan penampilan saya di skala nomor tiga, bukan berarti saya jadi santai saja deh tidak mandi tidak cuci muka juga. Salah besar itu, apalagi islam pun sangat mencintai kebersihan kan? Sesibuk – sibuknya kita saya yakin masih sempat mandi meski hanya sekedar membasahi tubuh, istilahnya. Yang menjadi salah itu ketika anak belum diurus, kerjaan rumah belum beres, eh kita sebagai istri malah asyik dandan demi mendapatkan penampilan yang paripurna didepan suami. Atau ketika kondisi keuangan sangat pas – pasan, maka blacklist dulu keperluan untuk make up utamakan kebutuhan pokok rumah tangga.
     Intinya, sebagai seorang istri adalah bagaimana kita berusaha memberikan service yang terbaik untuk keluarga kita. Setiap keluarga pasti akan beda kebutuhan dan servicenya. Maka, menjadi ibu rumah tangga yang baik tidaklah sulit kok asal kita selalu menggunakan parameter yang digunakan oleh keluarga kita, bukan keluarga orang lain. Dan selama apa yang diharapkan oleh suami itu masuk akal dan tidak melanggar aturan agama, why not? Tapi dalam beberapa kasus ada suami yang menuntut banyak hal kepada istri sementara tidak diimbangi dengan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Astagfirullah, semoga keluarga kita semua dijauhkan dari hal tersebut.
      Dalam kasus ini bukan berarti saya merasa paling benar. Namun dalam kondisi saya yang tidak bekerja, tidak langsing dan tidak seksi ( emang dulu seksi? Hahah ), saya berfikir cuma dengan saya mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri adalah bentuk service terbaik saya untuk anak dan suami. Saya masih suka online di sosial media karena itu sebagai “ajang” hiburan tersendiri bagi saya yang sehari – harinya hanya dirumah mengurus anak, tapi ya kembali lagi bahwa prioritas utama saya adalah mengurus keluarga. Jadi saya tidak serta merta layah – leyeh depan handphone atau laptop sementara semua pekerjaan rumah masih berantakkan. Tapi bagaimanapun juga saya tetap butuh satu hari “longgar” dimana saya tidak masak, tidak nyuci baju, dan lain – lain sekedar untuk melepas penat. Tapi kalau setiap hari selalu “longgar” kok rasanya saya membuang banyak waktu tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat.
     Setelah saya berusaha memberikan service yang terbaik untuk keluarga, maka semuanya saya serahkan kepada Allah. Sebagai seorang istri dan ibu, saya sangat berharap bahwa hal sederhana yang selama ini saya lakukan bisa berarti besar untuk anak dan suami saya. So, menjadi ibu rumah tangga yang baik itu tidak sulit tapi perlu usaha yang maksimal dan tentunya doa kepada Allah agar suami dan anak kita selalu dalam dekapan kita, di dekat kita. Kita sebagai seorang istri pun selalu ada dihati anak dan suami kita.
     Tulisan ini saya persembahkan sepenuhnya untuk anak dan suami yang paling saya cintai. Semoga bermanfaat juga untuk pembaca ya J


No comments for "Menjadi Ibu Rumah Tangga Yang Baik, Mudahkah?"

Berlangganan via Email